Nusatime.com, KAIRO — Kelompok Houthi di Yaman mendapat kecaman dari Liga Arab setelah diduga berupaya menargetkan wilayah Madinah di Arab Saudi menggunakan rudal balistik. Pada saat bersamaan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak kelompok tersebut segera membebaskan seluruh personel PBB yang ditahan serta memberikan informasi mengenai keberadaan dan kondisi kesehatan mereka.
Dirilis Antara, dalam pernyataan yang dirilis pada Jumat (6/11/2026), Liga Arab mengecam keras upaya serangan terhadap wilayah Madinah. Liga Arab menilai tindakan tersebut sebagai eskalasi berbahaya sekaligus pelanggaran yang tidak dapat diterima terhadap kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah Arab Saudi.
Liga Arab menekankan penargetan wilayah Madinah merupakan penghinaan serius terhadap perasaan umat Islam di seluruh dunia. Negara-negara Arab itu juga memperingatkan serangan berulang semacam itu dapat meningkatkan ketegangan regional, mengancam perdamaian dan stabilitas, serta merusak upaya meredam eskalasi di kawasan.
Lebih lanjut, Liga Arab menegaskan kembali solidaritas dan dukungan penuh kepada Arab Saudi atas segala langkah sah yang diambil otoritas negara tersebut untuk menjaga keamanan nasional, mempertahankan integritas wilayah, serta melindungi warga negara dan penduduk dari ancaman.
Di tengah kecaman atas dugaan upaya serangan tersebut, PBB juga menyoroti penahanan personelnya oleh Houthi di Yaman. PBB meminta seluruh staf yang ditahan secara sewenang-wenang segera dibebaskan, terutama mereka yang membutuhkan perawatan medis mendesak.
PBB Butuh Akses Personel yang Ditahan
Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, mengatakan PBB membutuhkan akses kepada para personel yang ditahan untuk menilai kondisi kesehatan mereka.
“Semua personel PBB yang ditahan secara sewenang-wenang harus dibebaskan, terutama yang membutuhkan perawatan medis mendesak,” kata Dujarric pada Kamis (5/11/2026).
Dujarric mendesak Houthi segera memberikan informasi terverifikasi mengenai lokasi penahanan dan kondisi kesehatan para personel tersebut. Dia juga meminta kelompok itu memastikan adanya komunikasi rutin antara para tahanan dan keluarga mereka, serta memberikan akses terhadap perawatan medis yang diperlukan, termasuk perawatan khusus.
Kekhawatiran PBB semakin besar setelah stafnya, Mohammad al-Shami, meninggal dunia dalam penahanan Houthi. Keadaan seputar kematian al-Shami menimbulkan kekhawatiran serius mengenai kemungkinan perlakuan buruk, termasuk tidak adanya informasi tepercaya mengenai nasib dan kondisi kesehatannya selama ditahan.
Jenazah al-Shami diserahkan kepada keluarga pada pekan lalu. Keluarganya mengatakan al-Shami telah meninggal sekitar sebulan sebelumnya, tetapi mereka baru menerima kabar mengenai kematian staf PBB tersebut belakangan ini.
PBB kembali menyerukan penyelidikan yang cepat, independen, tidak memihak, dan transparan untuk mengungkap tanggal, penyebab, serta keadaan seputar kematian al-Shami. Penyelidikan itu juga harus memeriksa kondisi penahanannya, kecukupan dan ketepatan waktu perawatan medis yang diterima, serta alasan keluarga dan PBB tidak segera diberi tahu mengenai kematiannya.
“Penyelidikan tersebut juga harus mengidentifikasi pihak-pihak yang bertanggung jawab guna memastikan mereka dimintai pertanggungjawaban,” lanjut Dujarric.
Staf PBB Kedua yang Meninggal
Al-Shami dilaporkan menjadi staf PBB kedua yang meninggal saat ditahan Houthi. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran serius mengenai keselamatan dan kesejahteraan seluruh personel PBB serta pekerja kemanusiaan lain yang berada dalam penahanan, terutama mereka yang memiliki kondisi medis serius.
Al-Shami termasuk dalam gelombang penangkapan yang dilakukan Houthi pada Juni 2024. Dalam operasi tersebut, sebanyak 13 staf PBB ditangkap.
Dujarric menegaskan otoritas Houthi bertanggung jawab atas keselamatan dan kesejahteraan seluruh personel PBB serta pekerja kemanusiaan lain yang ditahan. Berdasarkan hukum hak asasi manusia internasional, setiap orang yang dirampas kebebasannya harus diperlakukan secara manusiawi dan mendapat perawatan medis serta perlindungan yang memadai.
“Sekali lagi, Houthi harus membebaskan mereka semua dengan segera dan tanpa syarat. Seruan ini tidak hanya mencakup staf kami sendiri, tetapi juga personel misi kemanusiaan, misi diplomatik, dan masyarakat sipil,” tutur Dujarric.
Sementara itu, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN OCHA) melaporkan warga sipil di Yaman masih terus mengungsi akibat kekerasan di sejumlah provinsi. Hampir 135.000 orang tercatat mengungsi di dalam Provinsi Taiz.
PBB kembali menyerukan perlindungan warga sipil serta jaminan akses kemanusiaan yang aman, berkelanjutan, dan tanpa hambatan, terutama bagi para pengungsi dan masyarakat yang semakin terdampak konflik berkepanjangan di Yaman.

Leave a Reply