Kebakaran Hutan Gunung Angel Ponorogo Hanguskan 1,3 Hektare Lahan

Kebakaran Hutan Gunung Angel Ponorogo Hanguskan 1,3 Hektare Lahan
Petugas Perhutani saat memadamkan api di kawasan petak 97c RPH Tulung, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo, Senin (6/7/2026). (Dok. Perhutani BKPH Sumoroto)

Nusatime.com, PONOROGO — Kebakaran hutan dan lahan menghanguskan sekitar 1,3 hektare kawasan milik Perum Perhutani di Gunung Angel, Desa Sampung, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo, Senin (6/7/2026). Sejumlah titik api sempat masih menyala hingga malam karena berada di lokasi yang sulit dijangkau petugas.

Asisten Perhutani Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Somoroto, Marjuki Wiyono, mengatakan kebakaran terjadi di petak 97c Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Tulung. Peristiwa itu pertama kali dilaporkan warga pada siang hari.

Kobaran api dengan cepat meluas akibat tiupan angin kencang hingga sore hari nyaris mencapai lahan milik warga. Beruntung, petugas gabungan yang bersiaga sejak siang berhasil menghentikan laju api menggunakan peralatan manual.

“Sore kemarin sudah mendekati lahan milik warga, Alhamdulillah petugas yang bersiaga sejak siang berhasil memadamkan dengan cara manual. Tapi untuk bagian puncak hingga malam tadi masih terlihat ada yang belum padam,” ujar Marjuki, Selasa (7/7/2026).

Menurutnya, kawasan Gunung Angel merupakan daerah yang hampir setiap musim kemarau mengalami kebakaran. Vegetasi berupa ilalang kering membuat api sangat mudah menyebar ketika tersulut.

Marjuki menjelaskan titik api di puncak gunung mulai meredup sekitar pukul 23.00 WIB. Namun, petugas tidak melakukan pemadaman langsung di lokasi tersebut karena mempertimbangkan keselamatan personel.

Kontur medan yang terjal dan dipenuhi bebatuan tajam dinilai berisiko tinggi apabila dilakukan pemadaman secara manual.

“Rumput ilalang ini sangat mudah terbakar, ibarat dilempar puntung rokok saja sudah pasti terbakar kalau musim kemarau. Tapi untuk penyebab kebakaran ini masih belum diketahui,” katanya.

Hingga kini, Perhutani masih memantau kondisi di puncak Gunung Angel untuk mengantisipasi munculnya titik api baru. Bara yang masih tersisa dikhawatirkan kembali menyala akibat embusan angin dan banyaknya vegetasi kering di sekitar lokasi.

Perhutani mengimbau masyarakat tidak membakar hutan maupun lahan secara sembarangan, terutama selama musim kemarau, guna mencegah kebakaran serupa kembali terjadi.

Leave a Reply