Pada hari pertama Johan mendengar suara itu, ia melongok ke luar jendela. Angin malam yang menerpa wajahnya terasa dingin menampar kulit.
Pukul tiga dini hari ketika ia menengok jam yang ada di nakas kecil di seberang ranjang. Ia sempat duduk sebentar di jendela. Kedua tangannya saling mengusap lengan karena hawa dingin seperti digiring daun-daun mangga di sebelah jendela.
Tak berapa lama, ia kembali ke ranjang. Ditariknya selimut bercorak garis kecokelatan itu dari tubir ranjang.
Sebelum tidur pulas, Johan sempat mendengar suara itu lagi selama beberapa detik. Tetapi, rasa lelah setelah beberapa hari ini tenaganya digerus tulisan-tulisan yang menyakitkan mata membuatnya memutuskan untuk tidur barang sebentar.
Ia tidak mau harus menerima pesan dari Rudi, bosnya, perkara pekerjaan. Sisa-sisa waktu untuk tidur akan ia gunakan sebaik-baiknya.
Suara sedikit sumbang itu rupanya tak mau tanggal dari pikiran. Johan menerka, suara itu milik seorang perempuan. Meski asal suara itu tak begitu jauh dari rumah, nyatanya, Johan tak mengenal tetangganya dengan baik.
Sejak kecil, ia diajari untuk tak begitu mengenal orang lain. Seolah mengenal orang lain adalah lotre tentang nasib baik atau buruk yang akan menimpa setelahnya. Ibu dan bapaknya lebih dulu membuat pagar pembatas antara dirinya dan pergaulan.
Suatu hari, Johan pulang sekolah dengan luka memar. Sebelum ia benar-benar selesai bercerita kepada ibu dan bapaknya, kalimatnya lebih dulu dipangkas dengan jawaban: “Tinggalkan saja temanmu itu; Nggak usah lagi berteman dengan dia; atau yang paling sering adalah, Cuma begitu saja mengadu!”
Padahal saat itu Johan hanya ingin ibu dan bapaknya mendengarkan. Ia memar bukan karena dipukul atau dikeroyok, tetapi karena ia menghindar dari bola yang sengaja dilempar seorang temannya sebagai ajakan berkenalan.
Pagar pembatas yang dibangun ibu dan bapaknya bahkan tak tembus hujan dan rasa belas kasih. Begitulah, pagar itu semakin tinggi manakala suatu sore saat hujan turun bersamaan dengan bapaknya yang baru pulang dari bekerja memarahinya hanya karena Johan memberi sepotong roti kepada tunawisma.
“Mereka hanya pura-pura,” ucap bapaknya sambil menyeka air hujan di kening.
“Di desa, mereka bahkan menjadi jutawan.” Bapak Johan masuk ke rumah tanpa memperhatikan Johan sama sekali.
***
Lambat laun, Johan menganggap bahwa mendengarkan adalah barang mahal di rumahnya. Indera pendengaran di rumah adalah alat untuk menerima perintah dan larangan, bukan pendapat. Satu-satunya orang, pada saat itu, yang mau mendengarkan pendapat dan keluh kesahnya hanyalah Bu Astuti, wali kelasnya.
Namun, selama bertahun-tahun setelah ia lulus sekolah, ia tak pernah lagi bertemu Bu Astuti. Guru-gurunya di sekolah menengah tidak ada yang seperti Bu Astuti. Bu Astuti tak pernah menggertaknya untuk cepat mengerjakan tugas matematika.
Ia juga tak pernah memarahi Johan bahkan ketika Johan belum bisa mengeja kata-kata dalam bahasa Inggris. Johan merasa semakin sendiri dan terpagar.
Ingin rasanya Johan bertemu Bu Astuti barang sekali untuk mengucapkan terima kasih, tetapi waktu tak pernah setuju. Dunia hanya selebar daun kelor agaknya memang pepatah belaka.
Setahu Johan, Bu Astuti menetap di sebuah kota. Tempat tinggalnya sebuah rumah kecil berhias bunga mawar berjenis patience rose.
Itulah yang diketahui Johan dalam sebuah tautan biografi di media sosial Bu Astuti lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Akun itu rupanya sudah tidak aktif lagi beberapa tahun belakangan. Johan menyesal mengapa ia tak segera berkunjung ke rumah berhias patience rose itu.
***
Di pagi yang masih buta, Johan terbangun. Dengung sirine yang terdengar dari arah jalan raya membuat pagi terasa tergesa. Disusul sebuah pesan pendek yang dikirim Rudi beberapa menit berselang. “Bangun, Jo! Yang terbakar bukan indekosmu, kan?”
Pesan itu membuatnya tertegun. Rudi adalah orang kedua setelah Bu Astuti yang bisa memangkas jarak antara dirinya dan pergaulan. Dia seorang bos yang visioner dan sedikit narsisistik.
Namun, di balik semua sifatnya itu, ia tipikal laki-laki penyayang, meski terkadang, Johan tak bisa membedakan jenis sayang yang Rudi miliki. Sebenar-benarnya kasih sayang seorang bos kepada karyawan atau hanya dalih karena takut kehilangan.
Bagaimanapun, mencari pengganti Johan bukan hal yang mudah. Menjadi seorang editor dengan gaji ‘cair kalau ada’ bukanlah pekerjaan idaman zaman sekarang. Untuk alasan itulah sepertinya Rudi tak mau ambil risiko mengganti Johan dengan fresh graduate dari luar negeri sekalipun.
Johan beranjak dari ranjang. Ponsel ia letakkan lagi di atas bantal. Suara sirine berhenti. Yang sekarang terdengar adalah suara dengung orang-orang yang tumpang tindih dengan suara kendaraan. Di seberang jalan berjarak tiga rumah dari bangunan indekosnya, Johan melihat asap mengepul ke udara.
“Korban meninggal seorang perempuan.” Pesan lanjutan dari Rudi itu tak benar-benar ia hiraukan. Johan menutup ponselnya sambil menghela napas panjang.
Dering ponsel berbunyi. Rudi.
“Sialan! Kenapa tak angkat teleponku?” suara Rudi meninggi.
“Jadi?”
“Untung kamu masih hidup!” serunya.
“Aku tak mau mati sebelum menerima gaji,”
Di seberang, Rudi terkekeh, “kamu kenal dengan perempuan itu?”
Sejenak, Johan berpikir dengan ‘perempuan itu’ yang dimaksud Rudi, tetapi Rudi buru-buru menyahut, “lupakan saja!”
Lagipula, bukankah banyak sekali perempuan, orang mati, dan perempuan yang mati di negara ini? Jangankan perempuan yang bukan siapa-siapa itu. Banyak kasus pembunuhan merajalela dan dibiarkan begitu saja.
Mau peduli apa orang-orang dengan perempuan yang mati karena kebakaran? Banyak dari mereka, barangkali, datang melihat hanya untuk mengunggahnya ke media sosial. Lagi, Johan mendesah panjang.
Rudi tahu, menanyakan seseorang kepada Johan adalah hal sia-sia. Seperti halnya menanyakan bagaimana keluarganya.
Rudi berpikir, orang-orang, tempat, atau peristiwa tertentu tak pernah menjadi apa pun di benak Johan. Bayangkan saja, beberapa blok dari indekos Johan pernah terjadi pencurian sepeda motor. Meskipun kejadian itu sempat heboh di dunia maya, Johan benar-benar tidak mengetahuinya.
Dulu, Rudi merasa aneh dengan hal itu. Namun, belakangan ia justru merasa bersyukur atas sikap Johan yang tak begitu memedulikan sesuatu. Rudi lantas teringat beberapa pekerjaan yang harus segera ia serahkan kepada Johan.
“Kamu bisa ke sini sekarang, Jo?” kata Rudi terdengar buru-buru.
“Aku bahkan belum menerima gajiku,”
“Terserah apa katamu,” tutup Rudi.
Telepon terputus. Johan bangkit ke arah jendela. Daun-daun mangga tampak basah berembun. Beberapa berwarna kekuningan dan terkulai di tanah. Seekor tupai melompat dari satu tangkai ke tangkai yang lain. Johan membalikkan badan. Dengan satu entakan, tubuhnya kini sudah berada pada posisi duduk di atas kusen jendela.
Ponsel Johan berbunyi lagi. Sebuah notifikasi mobile banking terdengar menyentak telinga. Rudi baru saja mengirim gajinya bulan ini. Itu berarti, Johan harus segera ke tempat Rudi untuk pekerjaan barunya. Namun, Johan masih berlama-lama di jendela.
Diam-diam, ia mengamati seekor tupai yang sejak tadi memakan sebutir mangga yang mulai menguning. Dari kaca lemari yang menghadap persis ke jendela, bayangan tupai itu bergerak-gerak lincah. Johan baru menyadari, di jendela itulah rupanya ia sering terduduk memikirkan sesuatu.
***
Aroma mangga yang mulai masak menguar ke udara. Kendaraan masih berlalu lalang di jalanan. Di kejauhan, di antara suara kendaraan dan aroma buah mangga, sirine ambulans meraung-raung.
Kali ini, Johan memutar badan. Ambulans itu baru saja melintas di jalan di depan indekosnya. Beberapa saat setelah ambulans itu berputar arah, Johan baru menyadari bahwa aroma buah mangga telah berganti menjadi aroma bunga entah apa. Barangkali, tupai-tupai lain tengah berloncatan di jajaran pohon kemuning di pinggir jalan.
Keesokan hari, Johan terpaku pada sebuah kalimat di koran. Korban adalah seorang perempuan yang diduga mempunyai gangguan kejiwaan. Ia sering bernyanyi pada malam hari.
Johan membenamkan tubuhnya di kursi. Dilipatnya koran itu bersama rasa sepi yang diam-diam menyusup ke dalam dirinya. Pada saat itu, ia teringat Bu Astuti dan meyakini, aroma yang diciumnya tempo hari adalah mawar putih. Aroma itu menetap di kepala berhari-hari lamanya.
Latif Nur Janah, lahir dan besar di Gemolong, Sragen.
Menjadi penulis terpilih sayembara cerita anak dwibahasa oleh Balai Bahasa Jawa Tengah (2025). Buku pertamanya, Suwung (2022).
Bisa disapa lewat posel latifnurjanah@gmail.com dan instagram @latifnurjanah.
Pengumuman Penerimaan Cerpen
Redaksi menerima kiriman cerpen dari para penulis dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Naskah dikirim dalam bentuk file attachment (lampiran), bukan ditulis langsung di badan surel.
2. Kirim ke alamat surel redaksi@daerah.co.id.
3. Panjang naskah 1.200 hingga 1.700 kata.
4. Kirim satu naskah saja dalam satu kali pengiriman. Kami tidak menerima kiriman beberapa cerpen dalam satu kali kiriman lewat surel.
5. Pastikan naskah belum pernah dimuat di media lain.
6. Sertakan data-data sebagai berikut:
-Nama lengkap
-Alamat surel aktif
-Alamat media sosial
-Nomor rekening (beserta nama pemilik rekening) dan NPWP

Leave a Reply