Tanah Leluhur

Tanah Leluhur
Ilustrasi cerpen berjudul Tanah Leluhur. (Istimewa)

Aku lahir di tanah yang selalu bicara lewat bunyi cangkul, retakan dahan, daun-daun gugur, dan malam-malam di mana angin ikut menguntai kisah tentang bunga-bunga yang bermekaran di ladang. Tanah di depan rumah mendiang ibu dan bapak, bagiku, bukan sekadar keheningan, melainkan hamparan cerita, helaan napas mereka yang sudah tak ada.

Sejak kecil, bapak dan ibu selalu mengajarkan untuk menghormati tanah bukan hanya lewat lembaran surat negara, tetapi dengan tangan yang memberi makan dan mulut yang mengingat nama-nama.

Mereka bilang tanah itu sabar. Menyimpan ingatan dalam setiap lapisan debu, menanggung berat langkah kaki yang datang silih berganti. Leluhur, anak cucu, dan mungkin orang-orang yang sesaat mampir menikmati semilir angin, juga sekali waktu ikut menimba air dari sumur yang tak pernah mengering.

“Tanah dan air adalah warisan yang tak perlu disumpah, Nang. Cukup disiram, ditanami, dan diberi nama dalam bincang-bincang malam yang lurus kepada Tuhan” ujar bapak seraya menumpuk rerumputan di samping kandang kambing.

Aku tak menjawab, kecuali turut membantunya memungut ceceran rumput. Kambing-kambing mengembik pelan, seolah turut mengamini kalimat-kalimatnya. Bau tanah basah dan keringat bercampur dalam udara yang berat, menandai bahwa segala yang hidup mesti saling menghidupi.

Namun suatu pagi, kabar itu datang melalui layar-layar kecil. Seorang pejabat berbaju rapi telah membuat keputusan dari balik meja-meja rapat lalu mengirimnya melalui udara.

“Tanah yang nganggur dua tahun akan diambil negara,” katanya keras. Tak ada tawa saat ia membacakan pasal dan ayat-ayatnya. Para wartawan mengejar, berusaha mengonfirmasi pernyataannya. Namun ia masih juga belum tertawa.

“Semua tanah memang milik negara. Rakyat hanya berhak mengelola. Memangnya mbahmu bisa bikin tanah,” timpalnya lagi dengan bola mata yang seakan hendak melompat dari kelopaknya.

Sontak aku terpaku. Terkenang bau keringat bapak dan aroma lodeh terong dengan irisan tahu dari dapur ibuku. Teringat kisah Mbah Kung yang pernah diseruduk sapinya sendiri hingga membuatnya terjungkal masuk ke parit. Tapi Mbah Kung tak pernah dendam. Ia tetap mengelusnya, memberinya rerumputan hijau segar, kadang segumpal dedak yang diencerkan dengan sedikit air garam.

“Sapi memang suka bercanda, Nang,” ujar Mbah Kung setengah terkekeh seraya memijat-mijat punggung.

Tapi kata-kata pejabat itu sudah telanjur melesat. Memantul-mantul seperti batu yang dilempar di atas permukaan air. Menimbulkan riak yang menjalar jauh dan lama hilangnya. Menyentuh tepi-tepi hati setiap orang yang mendengar. Menciptakan gelombang kecil di dada, campuran antara cemas, marah, dan tak percaya.

Dan seperti batu yang tenggelam ke dasar, kata-kata itu mengendap dalam ingatan. Tak mudah diangkat kembali meski permukaan air tampak tenang.

Aku meletakkan cangkul. Tangan ini masih bau tanah, tetapi jantungku memerah. Menurutku, bukan kata-katanya yang tepat atau salah, melainkan kata-kata itu terlontar seolah tanpa mengenal raut wajah yang menerima. Di kampungku, kata ‘mbah’ hampir sakral. Sebutan bagi seseorang yang tua atau dituakan. Tak sembarang orang boleh menyebutkannya begitu saja, apalagi menjadikan olok-olok.

Tidak! Kata ‘mbah’ adalah nama-nama yang pernah hidup di tanah. Mereka yang memahat batas-batas dengan keringat dan darah. Tangan-tangan legam yang membentuk alang-alang menjadi sawah. Sedangkan kata-kata keras dari pejabat itu telah melenceng jauh dari kenyataan yang dihirup orang-orang di kampung setiap pagi.

Istriku dari semalam tak tidur. Selain karena pohon-pohon jambu kristal di kebun kali ini berbuah lebih banyak, juga lantaran kalimat tentang tanah yang menganggur itu telah membuatnya teramat gusar.

“Mereka mau ambil apa? Tanah yang kita pelihara bukan semata tanah, tapi tempat bersemayamnya arwah leluhur bahkan sejak negara ini belum ada,” ungkapnya sembari sibuk mengemas buah jambu ke dalam kantong-kantong plastik kiloan yang sebentar lagi akan dibawanya ke pasar.

Aku termangu. Pikiranku hanyut. Udara pagi menyusup pelan lewat celah-celah dinding bambu. Membawa aroma tanah dan sisa jerami basah. Di dalam kandang, kambing-kambing mengembik.

“Mumpung masih pagi, sebaiknya kau ke kantor kelurahan, Kang,” ujarnya kemudian. “Biarlah kambing-kambing itu puasa sebentar. Sore nanti kau masih bisa memberinya makan. Temui Pak Lurah, minta penjelasan. Kalau Pak Lurah tidak bisa menjawab, langsung saja ke kantor kecamatan.”

“Masih ada sisa pakan di dalam tong dekat kandang. Aku akan memberikannya dulu pada kambing-kambing itu sebelum berangkat.”

“Berangkat sekarang, Kang. Sebelum orang-orang di kantor kelurahan atau kecamatan itu bubar. Mereka suka sekali pulang lebih awal walaupun jam kantor belum habis.” Kata-kata istriku meluncur lagi, kali ini terdengar lebih ketus.

***

Kantor kecamatan terlihat lebih ramai dari biasanya. Orang-orang sudah berdatangan sejak pagi. Sebagian duduk menunggu giliran demi mendapatkan penjelasan. Sebagian lagi membaca surat pemberitahuan yang mulai ditempel di papan informasi. Sepintas aku turut membaca bersama mereka dengan perasaan separuh waswas. Aku duduk. Para pegawai kecamatan sibuk.

“Bagaimana sebenarnya? Tanah siapa yang mau disita negara.”

Bisik-bisik di ruang tunggu terdengar liar.

“Aku tidak tahu, Kang.”

“Mbok Yatmi sampai pingsan dengar berita itu. Mondok dia sekarang.”

“Duh, kasihan.”

Orang-orang masih terus berdatangan. Mereka duduk, menunggu giliran sambil membawa map dan amplop besar berwarna cokelat.

Apakah lembaran-lembaran kertas itu sepenuhnya masih bisa dipercaya jika kenyataannya tetap bisa dirampas hak kepemilikannya?

Aku dan orang-orang itu mungkin lebih percaya pada bau lumpur yang menempel di telapak kaki, pada batu-batu yang membisu di ujung pekarangan sebagai penanda batas, atau pada nisan-nisan yang mengukir nama orang tua. Di sanalah sesungguhnya kepercayaan bertumpu, lebih kokoh dari sekadar cap basah di atas lembaran-lembaran kertas pemerintah.

Di layar televisi ruang tunggu kecamatan, wajah pejabat itu masih sama dengan yang kulihat sebelumnya—angkuh melebihi gedung-gedung tinggi yang pernah kulihat di ibu kota. Di depan kamera, ia berdiri seperti sosok hakim yang baru saja memutus perkara, bahkan jauh sebelum sidang dibuka. Kata-katanya rapi, namun dingin.

Orang-orang menyaksikan layar dengan pandangan merana. Mereka hampir tak kuasa menatap wajah pejabat itu. Meskipun hanya lewat layar kaca, tapi seakan ia sedang bersiap menerobos masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu.

“Apa kata Pak Camat, Kang?” Istriku memburu sepulang aku dari kantor kecamatan.

“Entahlah. Pak Camat sendiri masih bingung dengan apa yang mau dijelaskan. Ia meminta kita menunggu sosialisasi resmi.”

“Orang pintar saja bingung, apalagi kita. Semua orang di pasar juga ribut soal berita tanah itu.”

Aku hanya diam membiarkan ocehan istriku beradu suara dengan sendok dan piring seng di tanganku.

Malamnya aku tak bisa lekas tidur. Ada yang bergelayut di pikiran, mengusik benak, membuat perasaanku tak enak. Bayangan wajah bapak muncul. Samar-samar seperti asap dupa yang mengepul di udara. Suaranya mengiang, berat dan getir.

“Tanah itu sabar, Nang. Tapi jangan sekali-kali kau biarkan orang mempermainkan. Kesabaran tanah bukan berarti rela untuk dirampas seenaknya.”

Kata-kata itu membuat napasku tersengal, seakan ada tangan gaib yang menekan dadaku perlahan.

Aku terlelap dengan perasaan tersayat. Dalam tidurku, anak-anak kampung bangkit. Mereka berbondong menuju tanah-tanah yang menghampar di sepanjang lembah dan bukit. Wajah dan bola mata mereka berkilauan oleh cahaya obor. Mereka mengusung batang-batang bambu dan papan-papan kayu di atas punggung.

Mereka berjalan, sesekali berjingkrak-jingkrakan, seperti ada kegembiraan sekaligus dendam yang sedang mereka rayakan. Di atas ladang-ladang yang gersang, mereka menuliskan kata ‘mbah’ yang diikuti nama sesepuh mereka masing-masing. Setiap tulisan yang mereka torehkan bukanlah sekadar nama, tapi mungkin juga penanda.

Lalu satu per satu papan itu mereka tancapkan bergantian. Satu orang memegangi tiang bambu, satu orang lagi memukul ujungnya. Tiang melesak ke dalam tanah. Suara pukulan bergema. Berulang-ulang dan makin nyaring di telinga hingga membuatku tergeragap dengan tubuh basah oleh keringat. Saat aku membuka mata, kamar tampak gelap. Tapi gema itu masih terdengar tanpa jeda, seolah bergaung di kepala.

***

Berita menyebar makin santer keesokan hari. Di warung, kata-kata pejabat itu menjadi bahan pembicaraan. Di masjid, Pak Kaum berceramah dengan nada patah-patah.

“Tanah adalah amanah. Bila tanah diwariskan, itu semata tanda kasih leluhur. Tapi jika direbut, tak lain adalah kezaliman.”

Orang-orang mengangguk. Sebagian menunduk dalam doa, sebagian lainnya hanya menatap kosong tak tahu harus berbuat apa. Wajah-wajah mereka mengerut seakan sedang menimbang nasibnya.

Beberapa hari kemudian, wajah pejabat itu muncul lagi di layar. Kali ini nada bicaranya terdengar berbeda, sedikit lebih santun dan lembut. Ada guratan senyum di wajahnya meski tampak sedikit dipaksakan. Ia bilang apa yang diucapkan sebelumnya tak lain adalah guyonan. Sekadar senda gurau yang berlebihan.

Di layar, kata-katanya mengalir bagai air keruh, bahkan bercampur lumpur. Lalu ia pun meminta maaf. Sebuah kata sederhana yang meluncur dengan sangat ringan tanpa beban, seolah cukup untuk menutup lubang yang sudah telanjur terbuka. Sepotong kata maaf yang turun seperti hujan, tapi sama sekali tak menyejukkan.

Apakah aku harus mendengar setiap kata-katanya? Apakah orang-orang yang sudah telanjur terluka itu juga bersedia mendengarnya?

“Lalu bagaimana jadinya dengan nasib tanah kita, Kang?” Istriku kembali dengan suaranya yang pelan namun tajam.

“Semoga tidak apa-apa. Kita hanya perlu setia merawat dan menanam saja. Menyirami setiap saat dan berharap bisa memetik hasilnya kelak,” jawabku sedikit ragu. Ia terdiam dengan pandangan menerawang. Sorot matanya menampakkan keresahan.

Hari-hari berlalu. Tapi kata-kata pejabat itu masih menjadi bayang-bayang yang menggantung di benak. Aku tetap pergi ke kebun setiap pagi. Dan kali ini aku sengaja membawa benih-benih pohon jati.

Dengan gemetar kubenamkan setiap biji ke dalam lubang. Menguruknya pelan seraya berbisik, “Kepada leluhur yang bersemayam di jantung tanah ini, jagalah kami.” Tanah tak menjawab, kecuali mengirim desir angin yang merayap melewati lembah dan bukit.

Di batu aku terduduk. Matahari telah mencapai di puncak. Istriku datang mengantar bekal makanan. Aku kembali teringat cerita Mbah Kung yang pernah diseruduk sapi hingga membuatnya jatuh terjengkang. Punggungnya lebam, napasnya sesak, tapi ia sama sekali tak menampakkan dendam.

“Begitulah tingkah binatang, Nang,” katanya. “Mereka tidak tahu bahasa manusia. Mungkin sebenarnya mereka ingin berbincang dan sekadar mengungkapkan kasih sayangnya pada manusia tapi tidak tahu caranya. Jadi tidak seharusnya kita marah padanya.”

Aku selalu tertegun dengan kalimat-kalimat Mbah Kung. Betapa luas hatinya menampung setiap luka. Betapa dalam pengertiannya pada kehidupan yang senantiasa dijalaninya dengan sangat bersahaja.

Kini, setiap kali melihat pejabat yang berbicara di layar televisi, aku justru teringat sapi yang diceritakan Mbah Kung. Mungkin sebenarnya mereka sedang berusaha menunjukkan rasa kasih sayangnya, hanya saja mereka tak tahu bagaimana harus menyampaikannya.

***

Yogyakarta, 2025

Abror Y. Prabowo, lahir di Gunung Kidul. Aktif di Kelompok Sastra Pendapa Yogyakarta dan Teater Kita. Karya-karyanya, meliputi puisi, cerpen, naskah drama, serta artikel seni-budaya sering dimuat di berbagai media massa. Saat ini bekerja sebagai wirausaha di Yogyakarta.

Pengumuman Penerimaan Cerpen

Redaksi menerima kiriman cerpen dari para penulis dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Naskah dikirim dalam bentuk file attachment (lampiran), bukan ditulis langsung di badan surel.

2. Kirim ke alamat surel redaksi@daerah.co.id.

3. Panjang naskah 1.200 hingga 1.700 kata.

4. Kirim satu naskah saja dalam satu kali pengiriman. Kami tidak menerima kiriman beberapa cerpen dalam satu kali kiriman lewat surel.

5. Pastikan naskah belum pernah dimuat di media lain.

6. Sertakan data-data sebagai berikut:

-Nama lengkap

-Alamat surel aktif

-Alamat media sosial

-Nomor rekening (beserta nama pemilik rekening) dan NPWP

Leave a Reply