Memotret Industri Kreatif dan Cerita Sukses Pelaku Usaha Ekraf di Boyolali

Memotret Industri Kreatif dan Cerita Sukses Pelaku Usaha Ekraf di Boyolali
Ketua I Komite Ekonomi Kreatif Boyolali, Yos Enirson (kanan), bersama pelaku UMKM ekraf hiasan dinding dari limbah kayu jati, Maryanto, di rumah perajin tersebut di Dukuh Tempel, Desa Jelok, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Kamis (4/6/2026). (Daerah/Ni’matul Faizah)

Nusatime.com, BOYOLALI — Bagi Maryanto, warga Dukuh Tempel, Desa Jelok, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, menjadi pengusaha adalah jalan hidupnya. Bukan sekadar usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), Maryanto memilih industri kreatif yang menuntut inovasi dan kreativitas.

Suasana rumah Maryanto masih didominasi tembok bata merah terbuka tanpa polesan semen, akan tetapi banyak hiasan dari kayu yang menghiasi dindingnya. Terdapat hiasan dinding dari kayu dengan siluet berbagai tokoh mulai dari Presiden Soekarno, Prabowo Subianto, hingga berbagai siluet hewan.

Kerajinan kayu, khususnya dari limbah jati Belanda memang menjadi jalan pedang Maryanto dalam merintis industri kreatif. Ia menceritakan memulai usaha membuat kerajinan dari limbah jati Belanda sejak 2019. Sebelumnya, ia bekerja sebagai petani dan peternak rumahan. Terkadang sebagai kuli bangunan.

“Saat itu mau Lebaran, saya enggak punya uang untuk beli kursi tamu, akhirnya saya memiliki ide membuat sendiri. Saya beli kayu limbah jati Belanda, kok peminatnya banyak. Saya buat terus jual, ingat dulu modal Rp350.000-Rp400.000 dijual bisa Rp3,5 juta,” kata dia saat diwawancarai Espos di rumahnya, Kamis (4/6/2026).

Pria 53 tahun itu menceritakan pada 2021, ia menyadari banyak pedagang keliling yang berjualan furnitur dan banting harga. Hal itu berdampak pada pemesanan mebel di tempatnya yang berkurang. Sehingga, ia pun memutar otak berkreasi dengan limbah jati belanda.

Tak sengaja melihat lomba menggambar dan mewarnai kartun, ia pun terpikir untuk membuat gambar tapi diaplikasikan ke limbah jati belanda. Berbekal video tutorial di YouTube dan trial and error, ia pun membuat siluet lewat media kayu limbah jati belanda yang kemudian dijadikan hiasan dinding atau wall decor.

“Alhamdulillah, yang pernah beli ada Bapak Bupati Agus Irawan, Pak Gubernur Jawa Tengah yang dulu, Ganjar Pranowo. Lalu kemarin ada Bapak Menteri Desa,” kata dia.

Proses pemotongan kayu untuk kerajinan yang dibikin Maryanto masih semi-manual. Ia berharap mendapatkan bantuan mesin agar bisa mempercepat proses produksinya. Maryanto memasarkan karya-karyanya lewat pameran langsung atau sekadar unggahan di status WhatsApp.

Harganya mulai dari Rp100.000 hingga jutaan rupiah per barang. Untuk meningkatkan pendapatan hingga memperluas pemasaran, ia juga mengikuti berbagai pelatihan serta pameran yang digelar pemerintah hingga dengan biaya sendiri.

17 Subsektor Ekraf

“Saya ikut pameran di Jakarta, biaya sendiri juga. Per hari stannya Rp5 juta, saya ikut lima hari. Di situ saya menarget buyer luar, kemarin sudah ada yang meminta sampel dari Jepang, India, Arab Saudi, dan sebagainya. Semoga nanti bisa mendongkrak UMKM ekraf seperti saya,” kata dua. 

Sementara itu, Ketua I Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Boyolali, Yos Enirson, menilai ekonomi kreatif bukanlah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) biasa. Namun, terdapat proses kreatif yang membuatnya berbeda.

Ia menjelaskan terdapat 17 subsektor ekraf dalam naungan Komite Ekonomi Kreatif Boyolali yaitu bidang kuliner; fesyen; kriya; aplikasi; pengembangan permainan (gim); film, animasi, dan video; musik; seni rupa; seni pertunjukan; fotografi; desain komunikasi visual; desain interior; desain produk; arsitektur; periklanan; penerbitan; televisi dan radio.

“Untuk ekraf yang dominan di Boyolali ada kuliner, fashion, kriya, dan seni pertunjukan. Terbesar memang kuliner yaitu kota susu, tapi ke depannya kami ingin menjadikan Boyolali sebagai Kota Kreatif. Kami ingin duduk bersama bersama pemerintah, kira-kira Boyolali dijadikan kota kreatif seperti apa,” kata dia sat ditemui Espos di Cepogo, Boyolali, Kamis (4/6/2026).

Ia mengatakan ada sejumlah usulan untuk Boyolali misalnya kota kreatif di bidang kuliner karena terkenal sebagai kota susu. Namun, ada juga usulan kota kreatif di bidang kriya salah satunya karena ada perajin tembaga di Tumang.

Yos mengatakan Komite Ekonomi Kreatif Boyolali baru disahkan pada akhir 2025 lewat SK bupati, sehingga belum banyak gerakan yang dilakukan ke arah Kota Kreatif. Namun, ia sudah ada berbagai pelatihan yang diberikan untuk anggota komite seperti ekspor, AI, hingga pemasaran.

Ia mengatakan sebagian besar pelaku ekonomi kreatif di Boyolali adalah UMKM. Namun, ia menegaskan ada perbedaan besar antara UMKM dengan ekraf yaitu terdapat kreativitas dan inovasinya.

“Jadi belum tentu semua UMKM ada inovasi. Semisal di tempat Pak Maryanto, yang jualan furnitur itu banyak, nah yang diolah menjadi siluet, home decor, ada seninya, nah ini ekraf,” kata dia.

Menambah Nilai Jual

Saat ini, pelaku ekraf di Boyolali didominasi usia 30 tahun-50 tahun yang biasanya membidangi di kuliner, fashion, hingga kriya. Sedangkan usia di bawahnya rata-rata menggeluti bidang gim hingga arsitektur. Dengan bergelut di bidang ekraf, ia mengatakan pelaku UMKM dapat menambah nilai jual produknya.

Lebih lanjut, ia mengatakan kendala yang dihadapi dalam mengembangkan ekraf di Boyolai yakni mulai dari pelaku industri hingga ke pemerintahan. Untuk pelaku ekraf, biasanya ada orang yang tidak mau upgrade skill dan masih ingin jalan sendiri tanpa berjejaring.

“Di pemerintahan tentu perlu ada Perda atau Perbup yang mengatur soal ekonomi kreatif di Boyolali. Tujuannya tentu untuk melindungi para pelaku ekonomi kreatif, jangan sampai seperti videografer Amsal Sitepu, yang dituntut setelah membuat video untuk desa-desa,” kata dia.

Ia mengatakan dalam waktu dekat, Komite Ekonomi Kreatif Boyolali akan mengadakan audiensi kepada Bupati, Sekda, dan instansi yang berhubungan dengan ekraf. Selama ini, ia menjelaskan kerja sama baru sebatas dengan Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) ketika menggelar berbagai pelatihan.

Yos mengatakan Komite Ekraf Boyolali juga belum mendapatkan dana hibah sehingga ketika mengadakan pelatihan harus bekerja sama dengan instansi lain. 

Sementara itu, Kepala Disporapar Boyolali, Budi Prasetyaningsih, mengatakan dinasnya sudah beberapa kali menggelar pelatihan bersama para pelaku ekraf di Boyolali. Hal itu untuk mendukung ekosistem ekraf. “Dari DPRD juga sudah inisiatif untuk membuat Perda soal ekraf, ini sedang digodok dalam FGD,” kata dia.

Ia mengatakan pengurus Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Boyolali juga telah mendapatkan surat keputusan (SK) Bupati Boyolali untuk legalitasnya. Sejumlah pelaku ekonomi kreatif sejauh ini sudah diwadahi mulai dari e-sport, fashion, dan sebagainya.

Walau Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Boyolali berinduk di Disporapar Boyolali, pengarahnya bisa dinas lain. Sebagai contoh pelaku ekraf di bidang video bisa meminta arahan ke Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) dan sebagainya.

“Untuk Kota Kreatif belum, di Jateng baru ada lima. Kami baru berproses ke situ. Ekraf dengan UMKM itu berbeda ya, UMKM kan berdasarkan besaran modal, kalau ekraf itu berdasarkan kreativitas dan ide,” kata dia. 

Leave a Reply