Minim Dukungan, Bazar Raya Pasar Jongke Solo Terancam Terhenti di Seri Ke-20

Minim Dukungan, Bazar Raya Pasar Jongke Solo Terancam Terhenti di Seri Ke-20
Suasana Bazar Raya di pelataran Pasar Jongke Solo yang digelar setiap Sabtu malam. (Istimewa)

Nusatime.com, SOLO — Upaya menghidupkan kembali geliat ekonomi malam di kawasan Pasar Jongke Solo kini berada di ujung tanduk. Setelah berjalan selama 14 seri, Bazar Raya Pasar Jongke yang digelar tiap Sabtu malam masih menghadapi persoalan klasik berupa minimnya jumlah pelaku UMKM yang bergabung serta tingginya biaya operasional, khususnya penyediaan listrik.

Penyelenggara pesimistis bisa bertahan hingga penyelenggaraan seri ke-20 jika jumlah peserta tidak menunjukkan peningkatan signifikan. Event tersebut akan dievaluasi secara menyeluruh, bahkan tidak menutup kemungkinan akan dihentikan.

“Kalau kondisinya tetap seperti sekarang, tentu harus ada evaluasi besar. Kami tidak bisa terus berjalan dengan kondisi yang tidak sehat,” ujar penggagas acara, Yayok Aryoseno, melalui keterangan pers yang diterima Espos, Senin (10/8/2026).

Agar operasional dapat berjalan tanpa kerugian, penyelenggara membutuhkan sedikitnya 30 tenant UMKM setiap penyelenggaraan. Namun kenyataannya, peserta yang bergabung rata-rata hanya berkisar 10–15 tenant.

Jumlah tersebut membuat biaya operasional tidak terpenuhi, terutama untuk kebutuhan listrik. Hingga kini lokasi penyelenggaraan Bazar Raya Pasar Jongke Solo belum memiliki akses listrik permanen sehingga panitia harus menyewa genset setiap pekan.

“Sewa genset menjadi beban terbesar. Di awal kami masih berani menanggung kekurangannya, tetapi tentu tidak mungkin terus nombok,” kata Yayok.

Strategi Ubah Konsep

Berbagai strategi telah dilakukan agar Bazar Raya Pasar Jongke semakin diminati masyarakat. Konsep yang semula hanya bazar kuliner kini dikembangkan menjadi ruang hiburan keluarga yang memadukan kuliner, musik, fashion, craft, hingga komunitas.

Ke depan, panitia bahkan merencanakan menghadirkan wahana permainan bernuansa nostalgia seperti Taman Hiburan Rakyat (THR) apabila mendapatkan dukungan investor. Langkah tersebut dilakukan agar Pasar Jongke tidak hanya menjadi tempat berbelanja, tetapi juga destinasi wisata malam baru di Kota Solo.

Selain persoalan listrik, penyelenggara juga menilai rendahnya kolaborasi antarpelaku UMKM menjadi tantangan serius. Partisipasi pedagang pasar maupun komunitas usaha di sekitar lokasi dinilai masih jauh dari harapan.

Di sisi lain, menurut Yayok, penyelenggara juga membutuhkan dukungan pemerintah berupa akses penggunaan listrik dari fasilitas Pasar Jongke. Biaya listrik diperkirakan hanya sekitar Rp20.000 setiap penyelenggaraan apabila menggunakan sistem token.

“Dukungan infrastruktur sederhana seperti listrik akan sangat membantu keberlangsungan kegiatan ini. Kami juga berharap semakin banyak UMKM ikut bergabung sehingga manfaat ekonominya bisa dirasakan bersama,” ujarnya.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, panitia memastikan penyelenggaraan Sabtu malam tetap berlangsung dengan konsep berbeda di setiap edisi. Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, pengunjung akan disuguhi pertunjukan spesial Tribute to Iwan Fals yang dibawakan grup musik Solo Fals Mania.

Selain menikmati hiburan musik, masyarakat dapat berburu aneka kuliner, produk fashion, kerajinan lokal, hingga menikmati wahana bermain anak seperti Remot Control (RC) dan area mewarnai.

Penyelenggara berharap Bazar Raya Pasar Jongke dapat terus bertahan sebagai ruang promosi UMKM sekaligus destinasi wisata malam yang mampu menghidupkan kembali kawasan Pasar Jongke.

Leave a Reply