Nusatime.com, BOYOLALI — Ribuan warga dari berbagai daerah memadati Alun-alun Pengging, Kecamatan Banyudono, Boyolali, Jumat (7/8/2026) sore, untuk mengikuti tradisi Sebaran Apam Kukus Keong Emas. Sebanyak 30.000 apam yang telah didoakan diperebutkan masyarakat yang meyakini tradisi tersebut membawa berkah.
Sebelum dibagikan, empat gunungan apam yang terdiri atas dua gunungan besar dan dua gunungan kecil diarak dari Kantor Kecamatan Banyudono menuju Alun-alun Pengging.
Meski cuaca terik, antusiasme masyarakat tidak surut. Sejak usai Salat Zuhur, warga telah memenuhi kawasan alun-alun untuk menunggu kirab gunungan apam.
Bupati Boyolali Agus Irawan bersama istri, Dita Agus Irawan, hadir dalam kirab menggunakan kereta kuda. Rombongan juga diikuti prajurit Keraton Solo dan SISKS Pakubuwono XIV Hangabehi.
Hangabehi bersama Bupati Boyolali, Wakil Bupati Boyolali Dwi Fajar Nirwana, serta sejumlah pejabat kemudian melempar apam kukus keong emas kepada masyarakat yang langsung berebut menangkapnya.
Tradisi Safaran Pengging Tetap Lestari
Salah seorang warga Kartasura, Sukoharjo, Tumini, 56, mengaku sengaja datang bersama teman-temannya menggunakan kereta kelinci demi mengikuti tradisi tersebut.
“Iya ini apamnya kan sudah didoakan, jadi insyaallah bisa membawa berkah. Saya tadi juga bawa payung, terus saya balikkan payungnya biar nanti gampang dapat apamnya,” katanya.
Tumini berencana memakan sebagian apam dan menanam sisanya di dekat pohon agar tanaman tumbuh subur. Tahun lalu ia tidak berhasil memperoleh apam, namun mendapat pemberian dari temannya untuk tujuan yang sama.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Boyolali, Candra Irawan, mengatakan lokasi sebaran apam dipindahkan ke Alun-alun Pengging agar masyarakat lebih leluasa menyaksikan rangkaian acara.
“Selain itu, akses masyarakat untuk melihat bisa lebih mudah dan lebih longgar,” ujarnya.
Candra menyebut sebanyak 30.000 apam disiapkan agar masyarakat yang hadir berkesempatan memperoleh bagian. Tradisi tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisata sekaligus melestarikan budaya lokal.
Sementara itu, Ketua Ritual Acara, Kanjeng Pangeran Siswanto Diningrat, menjelaskan tradisi Sebaran Apam berasal dari ajaran pujangga Keraton Surakarta, Raden Ngabehi Yasadipura. Apam berbentuk keong dibagikan setelah didoakan sebagai simbol permohonan ampun kepada Allah SWT sekaligus wujud rasa syukur.
“Jadi apam dibentuk gunungan sebagai bentuk wujud syukur kepada Allah, apam juga artinya afuwwun atau mohon ampun,” katanya.

Leave a Reply