Pacuan Kuda Piala Raja Mangkunegaran Sedot Belasan Ribu Penonton

Pacuan Kuda Piala Raja Mangkunegaran Sedot Belasan Ribu Penonton
Kuda balap melaju usai tanda bel berbunyi dalam ajang Piala Mangkunegaran di Gelanggang Pacuan Kuda Tegalwaton, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (Jateng), Minggu (10/5/2026). (Daerah/Hawin Alaina)

Nusatime.com, SALATIGA — Gelaran Indonesia’s Horse Racing (IHR) 2026 Triple Crown di Gelanggang Pacuan Kuda Tegalwaton, Kabupaten Semarang, Minggu (10/5/2026), berlangsung meriah. Belasan ribu penonton memadati arena untuk menyaksikan pacuan kuda sekaligus debut Piala Raja Mangkunegaran yang digelar untuk pertama kalinya.

Ajang tersebut menjadi istimewa karena tak sekadar menghadirkan kompetisi olahraga berkuda, tetapi juga menghidupkan kembali budaya berkuda yang lekat dengan sejarah Mangkunegaran.

K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X atau Gusti Bhre mengatakan hubungan Mangkunegaran dengan dunia berkuda sudah terjalin sejak abad ke-19 melalui Legiun Mangkunegaran yang memiliki pasukan kavaleri dan artileri.

“Kuda dan Mangkunegaran untuk kami sejarahnya sangat panjang. Sejak berdirinya Legiun Mangkunegaran, ada kavaleri dan artileri Mangkunegaran, jadi budaya berkuda itu memang melekat,” ujar Gusti Bhre saat konferensi pers di arena pacuan.

Menurut dia, kawasan Istana Mangkunegaran pada masa lalu juga menjadi tempat latihan berkuda para prajurit. Karena itu, Piala Raja Mangkunegaran diharapkan menjadi momentum kebangkitan tradisi berkuda di tengah masyarakat.

Hidupkan Budaya Berkuda

ESPOS.ID - Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (K.G.P.A.A.) Mangkoenagoro X atau yang akrab disapa Gusti Bhre saat konferensi pers di Gelanggang Pacuan Kuda Tegalwaton, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (Jateng), Minggu (10/5/2026). (Daerah/Hawin Alaina)
ESPOS.ID – Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (K.G.P.A.A.) Mangkoenagoro X atau yang akrab disapa Gusti Bhre saat konferensi pers di Gelanggang Pacuan Kuda Tegalwaton, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (Jateng), Minggu (10/5/2026). (Daerah/Hawin Alaina)

Antusiasme masyarakat terlihat sejak pagi. Penonton datang dari berbagai daerah di sekitar Kabupaten Semarang dan Salatiga untuk menikmati suasana pacuan kuda yang dikemas sebagai hiburan keluarga.

Salah seorang penonton asal Salatiga, Ayu, mengaku sengaja datang bersama keluarganya karena penasaran dengan atmosfer pacuan kuda di Tegalwaton.

“Karena dekat rumah, jadi ajak keluarga datang untuk menyaksikan langsung. Ternyata sangat menarik,” ujarnya.

Menurut Ayu, suasana arena terasa meriah dan nyaman untuk keluarga. Selain menyaksikan balapan secara gratis, pengunjung juga mendapat hiburan tambahan berupa pembagian es krim gratis bagi anak-anak.

Dalam gelaran tersebut, sebanyak 147 kuda berlaga di 18 kelas perlombaan dengan total hadiah mencapai Rp600 juta.

Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PP Pordasi), Aryo P.S. Djojohadikusumo, mengatakan Piala Raja Mangkunegaran melengkapi deretan piala kerajaan dalam pacuan kuda nasional setelah sebelumnya hadir Piala Raja Hamengkubuwana dan Piala Pakualam.

“Hari ini adalah perdana Piala Raja Mangkunegaran. Digelar di Tegalwaton yang juga punya kedekatan sejarah dengan Mangkunegaran,” katanya.

Sementara itu, Managing Director SARGA GROUP, Nugdha Achadie, menyebut ajang tersebut memadukan olahraga, wisata, dan budaya Jawa dalam kemasan modern sehingga mampu menarik minat masyarakat luas.

Gusti Bhre memastikan Piala Raja Mangkunegaran bakal digelar rutin setiap tahun. Dia berharap ajang tersebut dapat semakin meriah sekaligus mendukung pertumbuhan olahraga berkuda dan perekonomian masyarakat sekitar.

Leave a Reply