Nusatime.com, SEMARANG – Dua medali perak menjadi penutup perjalanan Arif Mubarok dan Ahmad Muzaki di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah XVII 2026. Saudara kembar asal Kota Surakarta itu kembali naik podium setelah bertahun-tahun berjuang bersama di arena pencak silat.
Bertanding di GSG Universitas Muhammadiyah Semarang, Rabu (28/10/2026) keduanya meraih perak nomor ganda putra. Arif dan Ahmad juga menyumbangkan perak nomor beregu putra bersama M Ilham Syafiq.
Bagi Arif, pencapaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang yang kemungkinan berakhir di Porprov tahun ini. Dia bersama Ahmad telah menekuni pencak silat sejak masa sekolah.
“Saya mulai ikut pencak silat sejak kelas tiga SMP, sekitar 2016. Namun, kalau mulai mengikuti kompetisi sebagai atlet, kami sejak kuliah pada 2020. Alhamdulillah, sampai sekarang masih bisa berjuang untuk Kota Surakarta,” kata Arif kepada tim media KONI Surakarta, Rabu (28/10/2026).
Perjalanan keduanya diwarnai sejumlah prestasi. Mereka meraih emas Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) TGR Jawa Tengah 2021 di Karimunjawa, kemudian menyumbangkan emas untuk Jawa Tengah pada Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) XVII 2022 di Padang, Sumatera Barat.
Pada Porprov Jateng 2023 di kawasan Pati Raya, Arif dan Ahmad kembali meraih emas nomor ganda putra. Namun, pada edisi Semarang Raya, keduanya harus puas membawa pulang dua medali perak.
Arif mengakui, mempertahankan performa bukan perkara mudah. Persiapan panjang harus dijalani di tengah kesibukan masing-masing, termasuk dirinya yang masih menempuh pendidikan profesi guru (PPG).
“Persiapannya sudah lebih dari dua tahun. Tantangannya membagi waktu karena saya masih kuliah, bahkan sekarang ikut pendidikan profesi. Jadi, harus pintar mengatur waktu antara pendidikan dan latihan,” ungkapnya.
Tantangan bertambah ketika mereka turun di dua nomor sekaligus. Jadwal pertandingan ganda dan beregu yang berdekatan membuat waktu pemulihan fisik terbatas.
Meski demikian, Arif berharap pencapaian mereka bisa menjadi pijakan bagi perkembangan pencak silat Surakarta. Dia ingin regenerasi atlet berjalan lebih baik agar prestasi serupa bisa diteruskan generasi berikutnya.
“Harapannya Kota Surakarta bisa mencetak atlet yang lebih baik lagi. Perekrutannya juga semoga bisa lebih kompeten, supaya ke depannya muncul atlet-atlet yang mampu meneruskan prestasi ini,” tuturnya.
Perbedaan Pendapat hingga Last Dance
Di balik kekompakan saat bertanding, perjalanan Arif dan Ahmad tidak selalu mulus. Ahmad mengakui, perbedaan pendapat kerap muncul ketika mereka menjalani latihan bersama.
“Kalau kesulitan sudah pasti ada. Saat latihan, terkadang muncul perbedaan pendapat. Kadang ya berdebat dulu, baru menemukan solusi. Itu menjadi bagian dari proses, meski terkadang juga menjadi hambatan,” ujar Ahmad.
Cedera juga menjadi risiko yang harus mereka hadapi selama menjadi atlet. Ahmad menyebut kondisi fisik menjadi perhatian penting karena tuntutan latihan dan pertandingan kerap memaksa atlet bekerja melampaui batas kemampuan tubuh.
Kini, keduanya bersiap mengakhiri perjalanan di Porprov. Ahmad menyebut ajang di Semarang Raya ini sebagai last dance mereka sebelum berfokus pada pekerjaan masing-masing.
“Ini memang terakhir kali bermain atau last dance bagi kami berdua. Setelah ini, kami akan melanjutkan karier di pekerjaan masing-masing. Ke depan, mungkin kami juga bisa melatih dan menciptakan generasi baru yang lebih baik dari kami,” ungkapnya.
Dua medali perak tersebut diterima Ahmad dengan lapang dada. Meski tak mengulang emas seperti pada Porprov sebelumnya, dia menganggap hasil kali ini sebagai pencapaian terbaik yang patut disyukuri.
Sebelum beralih fokus ke pekerjaan, Ahmad menitipkan pesan kepada atlet Surakarta yang masih bertanding. Dia berharap rekan-rekannya tetap menjaga semangat hingga kompetisi berakhir.
“Untuk atlet-atlet yang masih bertanding, tetap semangat dan jangan pernah mengecewakan pelatih-pelatih kalian dan diri kalian sendiri,” pesannya.

Leave a Reply