Proklim RW 05 Karangasem Solo Andalkan Lumbung Kompos dan Ketahanan Pangan

Proklim RW 05 Karangasem Solo Andalkan Lumbung Kompos dan Ketahanan Pangan
Proklim RW 05 Kelurahan Karangasem, Kecamatan Laweyan, Solo mengandalkan inovasi lumbung kompos dan program ketahanan pangan dalam mengikuti verifikasi lapangan Program Kampung Iklim (Proklim) yang dilakukan tim verifikator, Kamis (23/7/2026). (Istimewa/Benedicta Rosa)

Nusatime.com, SOLO – Proklim RW 05 Kelurahan Karangasem, Kecamatan Laweyan, Kota Solo, mengandalkan inovasi lumbung kompos dan program ketahanan pangan dalam mengikuti verifikasi lapangan Program Kampung Iklim (Proklim) yang dilakukan tim verifikator, Kamis (23/7/2026).

Verifikasi lapangan tersebut dilakukan oleh tim dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Solo bersama Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (Dispangtan), Puskesmas Pajang, perwakilan kecamatan, serta pegiat Proklim. Lurah Karangasem, Endah Heni Pratiwi, mengatakan salah satu inovasi yang diunggulkan dalam Proklim RW 05 Karangasem adalah lumbung kompos. Inovasi tersebut dikembangkan sebagai salah satu upaya mengurangi timbulan sampah organik di wilayah RW 05 yang terdiri atas tiga RT.

Menurut Endah, pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga menjadi penting seiring meningkatnya persoalan sampah di Kota Solo. Warga didorong memilah sampah organik dan anorganik sebelum dibuang atau diolah.

“Lumbung kompos itu salah satu upaya mengurangi sampah organik yang ada di wilayah RW 05 yang terdiri dari tiga RT,” ujar Endah.

Lumbung Kompos

Kompos yang dihasilkan dari lumbung tersebut nantinya dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat untuk media tanam maupun pupuk tanaman di lingkungan rumah.

“Harapannya, kompos yang akan dipanen bisa kembali ke masyarakat dan dimanfaatkan untuk media tanam atau pupuk tanaman yang ada di rumah mereka,” tambahnya.

Selain lumbung kompos, Proklim RW 05 Karangasem juga memperkenalkan Sahabat Sampah dan Limbah (Sahabat Simbah), sebuah program yang mendorong masyarakat mengelola sampah secara berkelanjutan.

Warga juga menerapkan prinsip 3R atau reduce, reuse, recycle dalam pengelolaan sampah organik maupun anorganik.

Di bidang ketahanan pangan, warga mengembangkan program Pekaranganku Sumber Pakanku dengan memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam berbagai tanaman kebutuhan rumah tangga, seperti cabai, pandan, dan serai.

Endah mengatakan persiapan mengikuti verifikasi lapangan Proklim menghadapi sejumlah tantangan. Namun, pelaksanaan program tetap berjalan berkat koordinasi dan kerja sama antara pemerintah kelurahan, pengurus lingkungan, tokoh masyarakat, serta warga.

“Memang ada tantangan, tetapi kami selalu berkoordinasi dengan tokoh masyarakat, ketua RT, ketua RW, maupun lembaga-lembaga yang ada. Kami saling berkoordinasi untuk menjadikan RW 05 sebagai Kampung Proklim yang berkelanjutan,” katanya.

Endah berharap Proklim RW 05 Karangasem dapat menjadi contoh bagi RW lain dalam mengembangkan program lingkungan dan ketahanan pangan berbasis masyarakat.

Menurutnya, keberhasilan program tersebut membutuhkan kolaborasi berbagai pihak karena kelurahan tidak dapat berjalan sendiri dalam menjalankan program pemerintah kota.

Darurat Sampah

Ketua Proklim Karimah RW 05 Kelurahan Karangasem, Heru Nugroho, mengatakan persiapan mengikuti verifikasi lapangan Proklim telah dilakukan sejak tiga bulan sebelumnya.

Pengurus melakukan koordinasi dengan panitia dan warga untuk mempersiapkan berbagai kebutuhan penilaian. Menurut Heru, persiapan tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat.

“Persiapan untuk Proklim sudah tiga bulan yang lalu. Kami melakukan koordinasi bersama tim panitia dan bersinergi untuk menyediakan apa saja yang harus disiapkan. Semua disambut antusias oleh warga dan dilaksanakan secara guyub dan gotong royong,” ujar Heru.

Heru menjelaskan, pembuatan lumbung kompos juga menjadi salah satu respons warga terhadap persoalan darurat sampah yang dihadapi Kota Solo.

Menurut dia, membangun lumbung kompos tidak mudah karena pengurus harus mencari lokasi yang dapat digunakan dan dikelola secara swadaya masyarakat.

“Dampak darurat sampah ini harus kami respons. Salah satunya dengan membuat lumbung-lumbung kompos untuk warga RW 05. Tidak mudah karena kami harus mencari tempat yang benar-benar bisa digunakan secara swadaya sebagai lumbung kompos,” katanya.

Ketahanan Pangan

Selain pengelolaan sampah, pelaksanaan Program Kampung Iklim di RW 05 Karangasem juga memberikan manfaat dalam penghijauan, ketahanan pangan, serta budi daya ikan dan ayam.

“Dampaknya sangat bermanfaat. Dengan program Proklim ini, kampung kami menjadi lebih hijau dengan berbagai tanaman untuk ketahanan pangan. Ada juga budi daya ikan dan ayam yang manfaatnya dirasakan warga RW 05,” ujar Heru.

Heru berharap warga RW 05 Karangasem dapat terus konsisten menjalankan berbagai program yang telah dikembangkan.

Dia juga berharap inovasi yang dilakukan RW 05 dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Kelurahan Karangasem.

“Harapannya tidak hanya di RW 05. Kami berharap program ini bisa menjadi role model bagi RW berikutnya untuk saling menularkan hal-hal baik yang sudah dicapai. Kelurahan tidak bisa berdiri sendiri. Kami harus saling berkolaborasi dan berkoordinasi untuk menyukseskan program pemerintah kota,” pungkasnya.

Berita ini ditulis oleh Benedicta Rosa, mahasiswi Program Studi Bahasa Inggris Universitas Gadjah Mada (UGM), yang sedang magang di Daerah Media Group (SMG).

Leave a Reply