Nusatime.com, SOLO — Hari Kamis (25/6/2026) malam, ruang Zoom masih riuh. Jarum jam nyaris pukul 23.00 WIB tapi para juri masih berdiskusi alot untuk menentukan proposal-proposal terbaik yang akan lolos ke babak selanjutnya.
Selama dua hari berturut-turut, Rabu-Kamis (24-25/6/2027), mulai pukul 19.00 WIB, Zoom menyala untuk menyeleksi 10 proposal terbaik, yang diajukan oleh 10 tim dalam ajang GenDarling Project—rangkaian program GenDarling Movement yang diinisiasi Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) dan Daerah Media Group (SMG).
Dalam program itu, 10 tim dari kampus di Solo, Jogja, Semarang, dan Kudus memaparkan program yang mereka tawarkan dalam pengelolaan sampah. Menariknya, program yang mereka tawarkan berbasis pada persoalan di sekitar mereka.
Ada food waste kantin kampus yang belum terkelola dengan baik, bonggol jagung para pedagang kaki lima yang belum termanfaatkan, sisa minyak jelantah yang jadi masalah, baju bekas yang menumpuk jadi sampah, hingga sampah kos-kosan yang masih belum terpilah.
Dari 10 proposal terpilih lima proposal terbaik masuk babak berikutnya. Berbekal bujet Rp5 juta per tim, mereka ditantang untuk merealisasikan proposal yang sudah disusun guna memperebutkan hadiah puluhan juta rupiah.
Lima proposal tersebut yakni Ecolin Craft (mahasiswa UNS Solo dan MMTC Yogyakarta) lewat proyek pengelolaan limbah tekstil menjadi produk kreatif ramah lingkungan dan bernilai ekonomi. Kedua, Eco Vibes (mahasiswa Universitas Muria Kudus) dengan proyek pemanfaatan bonggol jagung sebagai media budi daya jamur berbasis zero waste untuk green circular economy.
Lalu W2W Team (mahasiswa Undip Semarang) dengan proyek pemanfaatan sampah organik Pasar Jetis Bandungan dengan metode maggot BSF sebagai pakan ternak dan pupuk kompos berbasis ekonomi sirkular. Keempat, Climate Warrior (mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) lewat proyek pemanfaatan minyak jelantah untuk sabun cuci piring.
Terakhir, mahasiswa UNS Solo yang tergabung dalam Eco Juris lewat program pengelolaan limbah organik berbasis budi daya maggot dan lele sebagai implementasi ekonomi sirkular di UNS Solo.
Nantinya, yang terbaik adalah proyek yang paling membawa dampak ke masyarakat. Ide-ide yang dihadirkan anak-anak muda itu luar biasa. Poinnya lebih pada pengelolaan sampah agar tak menjadi masalah bagi lingkungan sekitar. Belakangan masalah sampah menjadi permasalahan serius di sejumlah daerah.
Saat kita meletakkan kantong sampah di depan rumah dan petugas sampah datang membawanya pergi, saat itulah permasalahan sampah dimulai. Bukan berarti ketika sampah sudah terangkut masalah selesai. Perjalanan sampah baru dimulai.
Sebagian berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), sebagian didaur ulang, tetapi tidak sedikit yang berakhir di sungai, laut, dibakar secara terbuka, atau mencemari lingkungan.
Persoalan sampah kini menjadi tantangan serius hampir di seluruh daerah. Dari Solo, Semarang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Bali hingga berbagai daerah lainnya nyaris mengalami persoalan yang sama. Volume sampah bertambah, di sisi lain, kapasitas pengeloaan sampah (TPA) tidak bisa mengimbangi.
Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan timbunan sampah nasional setiap tahun menunjukkan peningkatan, pada 2019 mencapai 27,6 juta ton, pada 2021 meningkat menjadi 28,5 juta ton, kemudian pada 2022 menjadi 38,5 juta ton, dan pada 2023 menjadi 43,2 juta ton.
Fakta yang lebih mengkhawatirkan yakni dari timbunnan sampah itu 38% di antaranya merupakan sampah organik (sisa makanan), 19% sampah plastik, dan sisanya kayu, ranting, kerta, karton, logam, kaca dan lainnya. Artinya, hampir 60% sampah sebenarnya masih bisa diolah kembali apabila dipilah sejak dari rumah tangga.
Data juga menunjukkan, baru 39% sampah sudah dikelola dengan baik, sementara sekitar 61% belum tertangani. Sampah-sampah tersebut berakhir di TPA, ada ratusan TPA di Indonesia (data SIPSN menyebut ada 710 TPA), namun pengelolaannya masih klasik, sekadar menumpuk dan menimbun sampah.
Bahkan Kementerian Lingkungan Hidup menyebut sekitar 300 TPA di Indonesia masih menerapkan open dumping, pembuangan sampah terbuka yang berisiko mencemari tanah, udara dan air.
Pemerintah Kesulitan
Cukup banyak keluarga sebenarnya sudah melakukan pengolahan sampah sejak dari rumah. Namun sayangnya sejumlah daerah belum memiliki sistem pengangkutan sampah yang ideal sebelum berakhir di TPA. Sampah yang sudah dipilah, tercampur kembali di gerobak sampah yang dibawa petugas. Sistem yang dibangun masih berorientasi pada pola lama: kumpul, angkut, buang.
Pemerintah daerah sendiri sebenarnya berada dalam posisi yang tidak mudah. Setiap hari mereka dituntut menghadirkan kota yang bersih, tetapi pada saat yang sama harus menghadapi keterbatasan lahan, anggaran, dan teknologi.
Membangun TPA baru bukan perkara sederhana. Selain membutuhkan investasi yang besar, pemerintah juga kerap menghadapi penolakan masyarakat terhadap lokasi TPA baru. Akibatnya, banyak daerah hanya mampu memperpanjang umur TPA lama dengan terus menumpuk sampah di lokasi yang sama.
Padahal, ada target yang harus dipenuhi daerah menuju Indonesia bebas sampah 2029, dengan menyetop open dumping pengelolaan TPA. Jika ditelisik lebih jauh, persoalan utama Indonesia bukan semata-mata kekurangan TPA. Sebanyak apa pun TPA yang dibangun pada akhirnya akan kembali penuh.
Perlu pendekatan berbeda untuk menangani sampah, salah satunya ekonomi sirkular. Sistem yang memandang sampah bukan barang akhir, namun sumber daya yang masih memiliki nilai ekonomi. Pengelolaan sampah bertumpu pada pengurangan sampah dari sumbernya, melalui peningkatan pemilahan, daur ulang dan pengolahan residu yang lebih ramah lingkungan.
Beberapa negara sudah menerapkan ekonomi sirkular ini mampu mengurangi ketergantungan terhadap TPA. Jepang menerapkan budaya pemilahan sampah yang sangat disiplin sehingga sebagian besar sampah dapat didaur ulang atau dimanfaatkan menjadi energi.
Bahkan di Jepang, sejak pendidikan anak usia dini (TK) sudah diajarkan budaya memilah sampah. Tong sampah di TK dan SD sudah diklasifikasikan berdasarkan jenis sampah, anak-anak sudah dididik membuang sampah pada tempatnya sesuai jenis sampahnya.
Di Korea Selatan, mengurangi sampah makanan melalui sistem pembayaran berdasarkan volume sampah yang dibuang (pay as you throw). Sementara Singapura memanfaatkan teknologi waste-to-energy sehingga hanya residu akhir yang masuk ke landfill (TPA).
Pengalaman negara-negara tersebut menunjukkan bahwa solusi tidak dimulai dari memperbanyak TPA, tetapi dari mengurangi sampah yang masuk ke TPA. Di sinilah generasi muda memiliki peran yang sangat strategis.
Anak muda tidak lagi cukup hanya menjadi peserta aksi bersih-bersih lingkungan. Mereka dapat menjadi inovator yang menciptakan aplikasi bank sampah digital, mengembangkan usaha berbasis daur ulang, membangun gerakan zero waste, hingga menciptakan produk ekonomi sirkular yang memberi nilai tambah bagi sampah.
Kreativitas, literasi digital, dan kemampuan membangun jejaring menjadikan mereka motor perubahan yang mampu menggeser cara pandang masyarakat terhadap sampah. Pada akhirnya, Indonesia tidak sedang kekurangan tempat untuk membuang sampah.
Indonesia sedang membutuhkan perubahan cara berpikir. Selama sampah masih dianggap sebagai barang sisa yang harus disingkirkan, persoalan ini tidak akan pernah selesai. Namun ketika sampah dipandang sebagai sumber daya yang dapat dikelola, didaur ulang, dan memberikan nilai ekonomi, maka krisis ini dapat berubah menjadi peluang.
Masa depan pengelolaan sampah Indonesia tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada keberanian seluruh masyarakat—terutama generasi muda—untuk mengubah kebiasaan dan membangun budaya baru yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Leave a Reply