Nusatime.com, SEMARANG — Kemenangan Idulfitri 1447 Hijriah tidak selalu identik dengan kelimpahan. Bagi nelayan pesisir Tambaklorok, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Lebaran justru menjadi momen penuh tantangan ekonomi.
Saat Espos mengunjungi kawasan dermaga Tambaklorok, Kamis (19/3/2026) sore, suasana tampak lengang. Deretan perahu kayu bersandar tanpa aktivitas, tidak terlihat kegiatan melaut maupun bongkar muat ikan seperti hari biasa.
Dalam sepekan terakhir, sebagian besar nelayan memilih tidak melaut. Kondisi ini dipengaruhi tradisi libur Lebaran serta cuaca ekstrem yang sebelumnya melanda perairan.
“Kebanyakan libur sampai Syawal nanti,” ujar Mashur, salah satu nelayan setempat.
Ia menjelaskan, keputusan libur melaut bukan sepenuhnya pilihan. Dalam tiga bulan terakhir, nelayan kerap menghadapi gelombang tinggi dan cuaca buruk yang menghambat aktivitas melaut.
“Padahal baru saja menghadapi gelombang tinggi, tapi harus libur lagi. Tapi ya mau bagaimana lagi, ini momen Lebaran, tetap harus dirayakan,” katanya.
Akibatnya, sumber penghasilan yang biasanya mencukupi kebutuhan harian terhenti. Tabungan yang terbatas pun terkuras untuk memenuhi kebutuhan hidup, termasuk kebutuhan Lebaran.

Sebagai bagian dari tradisi, warga tetap berupaya memenuhi kebutuhan seperti pakaian baru anak, hidangan Lebaran, hingga pemberian tunjangan hari raya (THR) kepada keluarga.
Dalam kondisi tersebut, sebagian nelayan terpaksa mencari jalan keluar dengan bekerja serabutan di darat. Namun, penghasilan tambahan itu tidak mampu menutup kebutuhan yang meningkat.
Bahkan, tidak sedikit nelayan yang memilih menggadaikan aset, seperti sertifikat tanah, demi bertahan.
“Kalau kondisi seperti ini, banyak yang gadaikan apa saja. Saya sendiri sampai gadaikan tanah,” ujar nelayan lainnya, Sodikin.
Uang hasil gadai digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok hingga keperluan Lebaran. Namun, langkah tersebut menambah beban utang yang harus ditanggung setelah Lebaran.
Situasi ini menjadi siklus yang kerap dialami nelayan Tambaklorok. Mereka menyebut kondisi tersebut sebagai “gali lubang, tutup lubang”.
Meski demikian, harapan tetap ada. Sejumlah nelayan berharap cuaca membaik setelah Lebaran sehingga mereka bisa kembali melaut.
“Kalau cuaca sudah bagus habis Lebaran, ya kami berangkat lagi,” ujar salah satu nelayan.
Bagi mereka, laut tetap menjadi satu-satunya sumber penghidupan. Meski penuh risiko dan ketidakpastian, laut pula yang diharapkan mampu memulihkan kondisi ekonomi mereka.
Lebaran tahun ini mungkin dirayakan secara sederhana. Namun, di balik itu tersimpan cerita tentang perjuangan nelayan bertahan hidup di tengah keterbatasan.
Di Tambaklorok, Idulfitri bukan sekadar perayaan, melainkan momentum untuk tetap bertahan di tengah ketidakpastian.

Leave a Reply