Nusatime.com, SEMARANG — Momen Hari Raya Idulfitri identik dengan suasana hangat, meja penuh hidangan, serta rumah yang terbuka bagi keluarga dan kerabat. Namun, di balik tradisi saling memaafkan, ada satu pertanyaan klasik yang kerap muncul di ruang tamu, yakni “kapan nikah?”.
Seorang karyawan swasta asal Kabupaten Demak, Tika, mengaku sudah terbiasa menerima pertanyaan tersebut setiap kali pulang kampung ke Jepara saat Lebaran. Perempuan berusia 28 tahun itu mengatakan pertanyaan serupa hampir selalu muncul setiap tahun.
“Setiap tahun pasti ada saja yang tanya. Kebanyakan saudara-saudara,” kata Tika kepada Espos, Senin (23/3/2026).
Hal serupa juga dialami Abdul, warga Kota Semarang. Pria berusia 30 tahun itu mengaku tidak terlalu mempermasalahkan pertanyaan tersebut dan biasanya menanggapinya dengan candaan.
“Saya jawab bercanda saja, biar tidak terlalu tegang,” ujarnya.
Psikolog Dra. Probowatie Tjondronegoro menilai pertanyaan seputar pernikahan saat momen kumpul keluarga dapat memicu tekanan psikologis bagi sebagian orang. Hal itu terutama dirasakan generasi muda yang memiliki pandangan berbeda mengenai pencapaian hidup.
“Di budaya kita, menikah sering dianggap sebagai prestasi. Seolah-olah kalau belum menikah berarti belum ‘laku’. Padahal anak muda sekarang tidak selalu memandang seperti itu,” kata Probowatie.
Menurut dia, cara pandang generasi sebelumnya yang menjadikan pernikahan sebagai tolok ukur keberhasilan mulai bergeser. Saat ini banyak anak muda lebih memprioritaskan pendidikan, karier, dan kesiapan mental sebelum menikah.
“Mereka yang menikah di bawah usia 30 tahun, ketika ditanya soal kebahagiaan, banyak yang menjawab tidak. Tapi yang menikah di usia 34 atau 35 tahun justru lebih menikmati karena sudah merasa stabil dan memahami konsep saling memberi dalam pernikahan,” jelasnya.
Probowatie mengatakan pertanyaan seperti “kapan nikah?” atau “sudah punya anak belum?” yang sering dianggap candaan bisa berdampak serius bagi sebagian orang.
Ia mengaku sering menemui pasien yang merasa tertekan menjelang Lebaran karena khawatir mendapatkan pertanyaan sensitif dari keluarga.
“Mereka stres karena takut ditanya, ‘kok belum hamil?’ Padahal itu urusan pribadi mereka berdua,” ujarnya.
Meski demikian, menurut Probowatie, generasi muda saat ini cenderung lebih terbuka dan berani menetapkan batasan. Sebagian memilih menjawab dengan santai atau secara tegas bahwa pernikahan merupakan pilihan pribadi.
“Mereka bisa mengatakan masih ingin fokus pada karier. Bagi mereka, menikah adalah hal yang sangat personal,” tuturnya.
Untuk menghindari konflik saat Lebaran, ia menyarankan agar seseorang tetap merespons pertanyaan tersebut secara sopan tanpa membuka ruang tekanan lebih lanjut.
“Cukup jawab, ‘terima kasih, mohon doanya saja’. Itu sudah cukup. Tetap santun tanpa harus menjelaskan panjang lebar,” sarannya.
Probowatie juga mengingatkan pentingnya empati dari pihak keluarga agar tidak menjadikan momen Lebaran sebagai ajang tekanan sosial.
Menurut dia, silaturahmi seharusnya membawa kenyamanan, bukan membuat seseorang merasa terpojok.
Di tengah perubahan zaman, ia berharap Lebaran dapat menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang lebih sehat dalam keluarga. Mengganti pertanyaan sensitif dengan perhatian yang lebih tulus dinilai dapat membuat suasana silaturahmi menjadi lebih hangat dan inklusif.

Leave a Reply