Nusatime.com, SEMARANG – Deru mesin sekitar 400 kapal nelayan memecah perairan utara Kampung Tambaklorok, Kota Semarang, Minggu (10/5/2026). Ratusan kapal itu berlayar bukan untuk mencari ikan, melainkan mengikuti tradisi Sedekah Laut dengan melarung sesaji berupa kepala kerbau dan hasil bumi sebagai bentuk rasa syukur masyarakat pesisir.
Dalam prosesi tersebut, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, bersama jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang turut mengikuti pelayaran bersama para nelayan.
Agustina mengatakan pengalaman mengikuti Sedekah Laut tahun ini terasa berbeda dibanding sebelumnya. Jika tahun lalu menggunakan kapal perang milik TNI AL, kali ini ia memilih menaiki speedboat kecil agar lebih dekat dengan nelayan dan suasana laut.
“Tahun lalu saya juga ikut [tradisi sedekah laut], tapi oleh Pak Danlanal waktu itu disiapkan kapal perang yang besar banget. Tahun ini saya minta bisa nggak kalau pas acara sedekah laut kita (pakai) kapal yang lebih kecil supaya bisa dekat dengan laut dan nelayan. Akhirnya dikabulkan,” ujar Agustina kepada wartawan.
Larung Sesaji Jadi Simbol Syukur Nelayan
Menurut Agustina, tradisi Sedekah Laut mencerminkan hubungan erat masyarakat pesisir dengan alam yang selama ini menjadi bagian dari identitas budaya Jawa.
“Tradisi ini bukti bahwa masyarakat tidak pernah lupa pada asal-usulnya. Larung sesaji ini menjadi cerita tentang budaya, tentang karya, karsa, dan rasa,” paparnya.
Sebelum dilarung ke laut, sesaji terlebih dahulu diarak dari masjid menuju Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tambaklorok. Kepala kerbau, hasil bumi, dan aneka makanan tradisional dibawa sebagai simbol rasa syukur atas hasil laut yang diperoleh nelayan.
Sedikitnya 400 kapal mengikuti prosesi tahunan tersebut dengan berlayar sekitar dua mil dari daratan menuju titik pelarungan sesaji.
Panitia Sedekah Laut dan Bumi Kampung Tambaklorok, Achmad Sujud, mengatakan tradisi tersebut merupakan warisan leluhur yang terus dijaga masyarakat pesisir.
“Ini tradisi tahunan dari tinggalan leluhur kita. Kita cuma meneruskan sebagai anak muda. Bisa juga dikatakan sebagai rasa syukur kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa lantaran dari laut,” papar Sujud.
Selain sebagai tradisi budaya, Sedekah Laut juga menjadi pengingat pentingnya menjaga ekosistem laut demi keberlangsungan generasi mendatang. Tahun ini, tema yang diangkat yakni “Biru Lautku, Subur Bumiku, Makmur Rakyatku”.
“Larung sesaji mengingatkan bagi kita semua bahwa kita punya tanggung jawab menjaga ekosistem laut agar tetap sehat. Jangan sampai anak cucu kita hanya mendengar cerita tentang kekayaan laut Tambak Lorok tanpa bisa menikmati sendiri,” ungkapnya.
Di sisi lain, kondisi hasil tangkapan nelayan saat ini disebut tengah menggembirakan. Musim cumi dan sejumlah hasil laut lainnya sedang memasuki masa panen sehingga tangkapan nelayan meningkat.
“Alhamdulillah untuk hasil tangkapan saat ini nelayan bagus. Kita lagi panen musim cumi,” tambah Sujud.
Tradisi Sedekah Laut di Kampung Tambaklorok menjadi penanda kuat bahwa budaya masyarakat pesisir Semarang masih terus hidup di tengah modernisasi kota.

Leave a Reply