Viral di Medsos, Warga Klaten Rela Berburu Kue Gambang ke Semarang

Viral di Medsos, Warga Klaten Rela Berburu Kue Gambang ke Semarang
Dua warga Klaten (duduk di kanan) ikut berburu kue gambang di Semarang yang lagi viral di media sosial. Kamis (2/4/2026) (Daerah/Fitroh Nurikhsan)

Nusatime.com, SEMARANG — Di tengah riuhnya media sosial, sebuah toko sederhana di sisi utara Pasar Johar, Kota Semarang, mendadak mencuri perhatian. Toko Kue Gambang yang baru beroperasi sekitar sebulan ini tak hanya viral, tetapi juga memantik rasa penasaran banyak orang.

Namun, popularitas itu tak datang tanpa ujian. Berbagai isu miring sempat beredar, mulai dari dugaan penjebolan tembok pagar untuk akses masuk hingga tudingan pelanggaran aturan bangunan cagar budaya.

Isu-isu tersebut telah dibantah oleh pemilik toko maupun Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Semarang. Toko ini dipastikan telah mengantongi izin dan tidak melanggar aturan terkait pemanfaatan bangunan cagar budaya.

Di balik kabar negatif yang sempat berembus, Toko Kue Gambang justru menghadirkan daya tarik baru di Pasar Johar. Antusiasme pembeli terus mengalir, bahkan dari luar kota, demi mencicipi kue gambang atau ganjel rel dengan sentuhan modern.

Dari Viral ke Daya Tarik Lintas Generasi

Fenomena ini terlihat dari kunjungan dua sahabat asal Klaten, Naila Rosyada, 20, dan Az-zahra Rafa Zain, 19. Keduanya menyempatkan diri datang saat libur kuliah setelah melihat konten viral di TikTok.

“Kami dari Klaten, kebetulan lagi libur kuliah pingin ke Toko Kue Gambang. Kita cobain kue yang original sama coklat dan teh original,” ucap Naila saat ditemui Espos.

Pengalaman pertama tersebut meninggalkan kesan positif. Naila menilai tekstur dan rasa kue gambang yang dicicipinya bahkan melampaui ekspektasi.

“Rasanya itu kayak soft, enak gitu. Ini first time nyoba Kue Gambang. Worth it sih, tempatnya juga bagus, menariklah buat didatengin,” imbuh mahasiswi UMY tersebut.

Tak hanya kalangan muda, generasi Baby Boomers pun ikut tertarik. Ayu, 58, warga Kota Semarang, datang untuk bernostalgia dengan cita rasa kue ganjel rel yang dulu akrab di lidahnya.

“Kue ganjel rel itu [kudapan] tempo dulu, hanya disukai orang tua. Saya sudah lama nggak makan, jadi ke sini untuk mencicipi lagi,” ungkap Ayu.

Menurutnya, ada perubahan signifikan pada kue ganjel rel versi terbaru. Tekstur yang lebih lembut serta tambahan topping membuatnya terasa lebih ringan dan dapat dinikmati lintas generasi.

“Ternyata kue ganjel rel di sini lebih lembut. Ada topping-nya yang bikin nggak bosen. Kalau ganjel rel buatan tetangga saya rasa orang tua, kalau di Toko Gambang lebih modern,” paparnya.

Strategi Nama dan Misi Menghidupkan Kue Legendaris

Owner Toko Kue Gambang Semarang, Aldin Meidito Wibowo, 27, sengaja tidak menggunakan nama “ganjel rel”. Ia memilih nama “Gambang” untuk menghindari stigma sekaligus membangkitkan rasa penasaran.

“Kalau pakai nama ganjel rel, stigma orang Semarang itu kue yang seret. Makanya kita pakai nama Gambang supaya orang penasaran dulu. Padahal sebenarnya kue ganjel rel dan gambang itu sama,” imbuh Aldin.

Aldin mengaku melakukan sejumlah inovasi agar kue tradisional ini bisa diterima semua kalangan. Baginya, kehadiran toko ini bukan sekadar usaha kuliner, tetapi juga bagian dari upaya pelestarian.

Kue gambang kini hadir dalam berbagai varian, mulai dari original, keju, cokelat, hingga stroberi. Harganya pun relatif terjangkau, mulai Rp14.000 per potong atau Rp69.000 untuk satu boks berisi 18 buah.

“Kue Ganjel Rel sendiri di Semarang sudah mulai sepi peminat sejak 2015. Apalagi setelah Pasar Johar kebakaran, orang makin susah mencari kue ini. Jadi kita ingin menghidupkan lagi, yang tadinya memang asalnya dari Johar kita kembalikan lagi ke Johar,” tandasnya.

Leave a Reply