PSIS Semarang Kalah 1-3 dari Persiraja, Ini 3 Fakta Menarik di Balik Hasilnya

PSIS Semarang Kalah 1-3 dari Persiraja, Ini 3 Fakta Menarik di Balik Hasilnya
Pemain PSIS Semarang saat mengejar bola dalam pertandingan melawan Persiraja Banda Aceh. Jumat (9/10/2026) (Dok. PSIS Semarang)

Nusatime.com, SEMARANG — PSIS Semarang harus menelan kekalahan pahit saat menjamu Persiraja Banda Aceh pada pekan kelima kompetisi Championship 2026/2027. Bermain di hadapan para pendukungnya di Stadion Jatidiri, Jumat (9/10/2026) malam, Laskar Mahesa Jenar justru takluk 1-3 sekaligus gagal memanfaatkan peluang untuk merangsek ke puncak klasemen.

Hasil tersebut sekaligus menghentikan catatan positif PSIS dalam empat pertandingan sebelumnya. Sebaliknya, bagi Persiraja, kemenangan atas PSIS Semarang mengakhiri tren negatif setelah tim tersebut belum meraih poin dalam empat laga sebelumnya.

Di balik kekalahan tuan rumah, ada sejumlah fakta menarik, mulai dari terhentinya tren positif PSIS hingga sosok pelatih Persiraja, M. Ridwan, yang memiliki sejarah panjang bersama Mahesa Jenar.

1. Gagal ke Puncak Klasemen

Kekalahan dari Persiraja menjadi hasil yang mengecewakan bagi PSIS. Setelah melewati empat pertandingan dengan catatan positif, tim besutan Widodo Cahyono Putro di luar dugaan mengalami kekalahan dan gagal memuncaki klasemen sementara.

Widodo mengakui kekalahan tersebut menjadi pukulan bagi tim, terutama bagi para pemain dan suporter yang berharap PSIS kembali meraih hasil maksimal. Meski demikian, dia mengingatkan bahwa kompetisi masih panjang dan tim pelatih masih memiliki banyak waktu untuk melakukan evaluasi.

“Memang situasi seperti ini, saya juga sedih. Apalagi pemain, suporter, pasti sedih sekali. Cuma saya mengingatkan kita baru match kelima dari 27 pertandingan. Jadi, nggak ada kata kita terus sedih. Kita harus bangkit. Ini PSIS, nggak ada kata menyerah,” ucap Widodo dalam pernyataan resmi yang diterima Espos, Sabtu (10/10/2026).

Salah satu hal yang disorot dari kekalahan melawan Persiraja adalah gol cepat pada menit ketujuh. Widodo bahkan telah memperingatkan para pemain PSIS agar tidak meremehkan lawan yang belum meraih kemenangan di ajang Championship.

Peluang PSIS Semarang untuk mendapatkan tiga poin juga semakin sulit setelah harus bermain dengan 10 orang. Kartu merah yang diterima Ahmad Nufiandani membuat pola permainan dan konsentrasi pemain PSIS terganggu.

“Inilah yang saya takutkan dari awal. Saya selalu mengingatkan kepada semua pemain. Persiraja empat match belum pernah memenangkan pertandingan, tetapi saya sering bicara mereka bisa menciptakan gol dan tadi terbukti ada gol cepat di menit ketujuh. Kita juga mendapatkan kartu merah sehingga fokus dan konsentrasi kita buyar,” ungkap Widodo.

2. Butuh Target Man

Di tengah evaluasi setelah kekalahan, Widodo juga menyinggung kebutuhan PSIS terhadap penyerang dengan karakter target man. Kehadiran pemain dengan tipe tersebut dinilai bisa memberikan variasi serangan, terutama ketika tim membutuhkan opsi untuk membongkar pertahanan lawan.

Menurut Widodo, PSIS sebenarnya sudah mendatangkan Felipe Cadenazzi. Pemain asing yang menggantikan Rafinha itu masih belum bisa bergabung dengan tim karena menunggu penyelesaian dokumen izin tinggal dan kerja.

Widodo berharap proses administrasi tersebut segera rampung sehingga Cadenazzi bisa memperkuat tim. Pemain berusia 34 tahun itu bukan sosok asing di dunia sepak bola Tanah Air. Cadenazzi pernah memperkuat Borneo FC dan PSMS Medan.

“Mungkin minggu ini dia (Cadenazzi) akan datang. Seorang target man memang diperlukan PSIS Semarang saat ini,” imbuh Widodo.

3. PSIS Kalah dari Mantan

Kemenangan Persiraja di Stadion Jatidiri juga memiliki cerita tersendiri bagi pelatih Persiraja, M. Ridwan. Pria berusia 46 tahun itu memiliki sejarah panjang bersama PSIS Semarang, baik sebagai pemain maupun bagian dari tim kepelatihan.

Ridwan mengawali kariernya bersama PSIS pada periode 1999-2002. Setelah berpindah klub, dia kembali ke Mahesa Jenar dan mengakhiri kariernya sebagai pemain di klub tersebut pada musim 2017/2018.

Mantan pemain Persib Bandung dan Sriwijaya FC tersebut juga pernah terlibat dalam jajaran manajemen PSIS serta dipercaya menjadi pelatih caretaker atau interim pada 2023 dan 2025.

Pengalaman tersebut membuat Ridwan mengenal PSIS, termasuk atmosfer pertandingan di Stadion Jatidiri. Meski demikian, dia menilai kemenangan timnya tidak lepas dari kerja keras para pemain dalam menghadapi permainan PSIS Semarang.

“PSIS adalah tim yang bagus, terlebih ketika bermain di Jatidiri dengan dukungan suporter mereka. Energi yang dikeluarkan di setiap pertandingan sangat besar dan kami sudah memprediksi itu,” tutur Ridwan.

Meski berhasil meraih poin penuh atas mantan klubnya, Ridwan menegaskan kemenangan tersebut tidak didasari sentimen pribadi. Dia menilai tiga poin yang diraih Persiraja merupakan hasil kerja keras para pemain sepanjang pertandingan.

“Alhamdulillah kita bisa memutus tren buruk itu dan kebetulan juga saya dari Semarang. Tapi tidak ada sentimen pribadi, saya melihat apa yang dilakukan pemain Persiraja baik di latihan dan pertandingan. Tim kami layak menang,” tandas Ridwan.

Leave a Reply