Puasa untuk Penderita Diabetes, Apa yang Perlu Diwaspadai?

Puasa untuk Penderita Diabetes, Apa yang Perlu Diwaspadai?
Dokter Penyakit Dalam Rumah Sakit (RS) JIH Solo, dr. Yulia Sekarsari, Sp.PD, Subsp. E.M.D, FINASIM. (Istimewa)

Nusatime.com, SOLO-Penderita penyakit kronis, terutama untuk diabetes perlu penanganan khusus. Untuk itu butuh lebih sering melakukan kontrol kesehatan. Terlebih lagi jika ingin menjalankan ibadah puasa Ramadan. 

Dokter Penyakit Dalam Rumah Sakit (RS) JIH Solo, dr. Yulia Sekarsari, Sp.PD, Subsp. E.M.D, FINASIM, menjelaskan khusus pada pasien-pasien diabetes, ada beberapa kondisi yang dapat dikatakan sebagai komplikasi akut. Komplikasi akut tersebut bisa karena gula darah yang terlalu tinggi maupun gula darah yang terlalu rendah. 

Untuk gula darah yang terlalu tinggi itu bisa karena ketoasidosis diabetik (KAD) maupun kondisi hyperosmolar hyperglycemic state (HSS). 

“Pada kondisi gula darah yang terlalu tinggi misalnya di atas 250 mg/dL, harus mendapatkan perawatan di UGD,” kata dia.   

Sedangkan untuk kondisi gula darah yang rendah atau hipoglikemia, setelah dicek bisa mendapatkan pertolongan pertama dengan bisa meminum manis atau misalnya dengan makan permen ataupun dengan makan sesuatu yang bisa meningkatkan gula darah dengan cepat. Kemudian harus dievaluasi, kalau masih lemas dan lain sebagainya tetap dibawa ke UGD. 

Untuk itu, menurutnya penting ketika pasien diabetes yang ingin menjalankan ibadah puasa, terlebih dulu melakukan pemeriksaan ke dokter. Tujuannya adalah untuk memastikan kondisi kesehatannya. Dalam pemeriksaan itu, dokter dapat membantu pasien dalam melihat risiko-risikonya.

Dengan begitu nantinya akan diketahui apakah pasien tersebut masuk dalam resiko yang sangat tinggi sehingga tidak boleh berpuasa atau risiko sedang atau rendah yang diperbolehkan puasa karena masih aman untuk menjalankan puasa.

Dokter Penyakit Dalam Rumah Sakit (RS) JIH Solo, dr. Yulia Sekarsari, Sp.PD, Subsp. E.M.D, FINASIM. (Istimewa)
Dokter Penyakit Dalam Rumah Sakit (RS) JIH Solo, dr. Yulia Sekarsari, Sp.PD, Subsp. E.M.D, FINASIM. (Istimewa)

Pemeriksaan itu juga untuk memastikan penyesuaian yang perlu dijalankan. Misalnya terkait pemberian obat dan lainnya. Misalnya biasanya sehari minum obat 3 kali, maka saat puasa harus disesuaikan dengan hanya meminumnya 2 kali, yakni saat berbuka dan sahur. Selain itu juga untuk memastikan penyesuaian aktivitas fisiknya. Dalam masa penyesuaian itu juga akan dilihat apakah pasien itu aman untuk menjalankan puasa atau tidak.  (Bayu Jatmiko Adi)

Leave a Reply