Nusatime.com, SEMARANG — Memperingati dua tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, sekitar 2.000 mahasiswa dari berbagai universitas di Kota Semarang menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Kamis (22/10/2026) sore. Dalam aksi tersebut, para mahasiswa melayangkan sejumlah kritik dan tuntutan terkait evaluasi kinerja pemerintah.
Aksi dimulai sekitar pukul 16.22 WIB di depan Kantor Gubernur Jateng. Massa menyuarakan aspirasinya melalui orasi, pembentangan spanduk, hingga penempelan poster kritik yang di antaranya bertuliskan “Lindungi pejuang lingkungan, adili perusak lingkungan”, “Overpaid politicians, underpaid teachers”, hingga “If we burn, you burn with us”.
Isu lingkungan menjadi salah satu sorotan utama massa. Mahasiswa mengecam lambannya penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatra dan Kalimantan.
Selain itu, massa juga mengkritik efektivitas program pemerintah seperti Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) dan Makan Bergizi Gratis (MBG). Dua program unggulan itu dinilai menyedot anggaran besar di tengah bencana lingkungan yang belum teratasi.
Perwakilan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Semarang, Ramanda Bima Prayuda, bersama sejumlah mahasiswa lainnya menegaskan bahwa aksi di Semarang merupakan bagian dari gerakan nasional untuk mengevaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa menyampaikan lima tuntutan utama, yakni:
– Menstabilkan harga bahan pokok dan mempermudah akses masyarakat terhadap BBM
– Mengembalikan TNI dan Polri pada fungsi utamanya
– Melakukan evaluasi total terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN)
– Mengembalikan hak atas tanah kepada rakyat serta memulihkan wilayah terdampak bencana
– Menghentikan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN)
“Kalau saya boleh jujur untuk memberi nilai [Pemerintahan Prabowo-Gibran], minus 100,” seru Ramanda di sela aksi.
Menjelang petang, sekitar pukul 17.00 WIB, massa aksi mulai bergeser menuju area Tugu Tunas di Jalan Pahlawan. Arus lalu lintas yang sempat ditutup, kembali dibuka bertahap sekitar pukul 18.45 WIB.

Sekitar pukul 19.03 WIB, personel Polwan sempat membuat barikade di sekitar Tugu Tunas. Tak lama kemudian, pada pukul 19.06 WIB, massa menyalakan flare dan berupaya mengarahkan barisan ke area Simpang Lima.
Menyikapi aksi yang masih berlangsung sampai malam, Kapolda Jateng, Irjen Pol. Roy Hardi Siahaan, turun di lokasi sekitar pukul 19.27 WIB. Ia berdiri di tengah massa aksi di Tugu Tunas tanpa pengawalan ketat untuk berdialog secara kondusif.
“Saya percaya adik-adik ini menyampaikan aspirasi. Saya sendirian, tolong hargai dan tolong tenang. Kami dari Kepolisian tidak akan persuasif [represif], tolong jaga ketertiban dan keamanan,” ujar Irjen Pol. Roy di hadapan para mahasiswa.
Roy juga mengapresiasi massa aksi yang tetap tertib, sembari memberikan peringatan agar aksi tidak disusupi atau ditunggangi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Ia menegaskan, kepolisian tidak akan ragu mengambil langkah hukum tegas jika ditemukan indikasi penunggang aksi di luar agenda resmi mahasiswa.
“Tapi kalau nanti ada yang menunggangi, saya tidak akan bertanggung jawab dan akan saya proses tindak hukumnya,” tegasnya.
Menjelang pukul 19.45 WIB, massa aksi mulai membubarkan diri dari kawasan Simpang Lima Semarang. Lalu lintas berangsur normal dan aksi unjuk rasa berakhir kondusif.

Leave a Reply