Nusatime.com, SOLO — Pihak Rock in Solo (RIS) 2026 memastikan seluruh dana deposit atau uang muka untuk lokasi acara hingga agen pemesanan band internasional tetap aman dan tidak hangus meski penyelenggaraan festival ditunda hingga tahun depan.
Inisiator Rock in Solo, Stephanus Setiadjie, mengatakan panitia sebenarnya telah merampungkan sejumlah persiapan untuk edisi tahun ini sebelum rentetan krisis ekologis memburuk di Indonesia.
“Kami sebenarnya sudah mempersiapkan Rock in Solo 2026. Kami sudah booking tempat, sudah bayar tempatnya, sudah menghubungi band-band, dan untuk beberapa band internasional pun kami sudah memberikan deposit ke pihak booking agent,” katanya ketika dihubungi Espos, Rabu (14/10/2026).
Pihaknya menunda penyelenggaraan Rock in Solo hingga tahun depan sebagai bentuk protes sekaligus solidaritas terhadap bencana ekologis yang belakangan melanda Indonesia.
Keputusan tersebut rupanya mendapat dukungan dari para vendor. Adjie mengatakan pihak pengelola tempat acara memberikan kelonggaran agar uang muka yang telah dibayarkan dapat dialihkan untuk penyelenggaraan tahun depan.
“Puji Tuhan, pihak venue menganggap itu sebagai deposit yang bisa dipakai untuk tahun depan. Kami tidak menuntut uang kembali atau semacamnya karena pihak pengelola ternyata sangat memahami alasan kami menunda acara ini,” imbuhnya.
Hal serupa juga difasilitasi oleh agen yang menaungi band-band mancanegara. Dana deposit untuk penampil yang sudah dibayarkan disepakati tidak akan hangus.
“Pihak booking agent bilang tidak apa-apa, akan kita alihkan dan menjadi deposit untuk tahun depan. Pastinya nanti dengan penyesuaian jadwal atau bahkan bisa dengan artis yang lain,” kata dia.
Adjie juga memaparkan bahwa kondisi kebakaran hutan menjadi salah satu kekhawatiran band internasional yang diajak tampil di Rock in Solo.
Pemberitaan di media internasional mengenai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat sejumlah penampil waswas terhadap keamanan mereka.
“Banyak dari orang asing ini kan tidak tahu kalau Indonesia itu sangat luas. Mereka berpikir dan menanyakan apakah lokasi kebakaran hutan ini dekat dengan tempat mereka manggung. Isu ini sampai mengundang gugatan negara tetangga, jadi wajar ini menjadi perhatian mereka,” katanya.
Selain masalah kabut asap, Adjie mengatakan Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang sempat ditutup akibat erupsi Gunung Anak Krakatau juga membuat para penampil internasional kebingungan.
“Mereka bertanya bagaimana solusinya kalau bandara ditutup berhari-hari. Memang bisa dialihkan penerbangannya lewat Bandara Ngurah Rai, tapi itu kan membutuhkan tambahan waktu yang tidak sebentar,” katanya.

Leave a Reply