Sempat Memanas, Trump Ancam Serang Iran Jika Tak Segera Teken Kesepakatan

Sempat Memanas, Trump Ancam Serang Iran Jika Tak Segera Teken Kesepakatan
Sebuah kapal tanker terlihat di Selat Hormuz setelah gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran, Rabu (8/4/2026). ANTARA/Anadolu/Shady Alassar/pri. (ANTARA/Anadolu/Shady Alassar/pri.)

Nusatime.com, TEHERAN — Situasi perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Timur Tengah sempat memanas dengan upaya saling serang antara kedua pihak. Angkatan bersenjata Iran meluncurkan serangan rudal terhadap pasukan AS untuk membalas serangan AS terhadap kapal tanker yang mengibarkan bendera Iran di sekitar Teluk Oman, Rabu (6/5/2026).

Demikian laporan televisi nasional Iran, Kamis (7/5/2026), seperti dilansir Antara, Jumat (8/5/2026). Pada Rabu, Komando Pusat AS mengatakan pasukannya telah melumpuhkan satu kapal tanker yang mengibarkan bendera Iran di sekitar Teluk Oman.

Namun, laporan Iran tidak menerangkan apakah kedua insiden tersebut berhubungan. Setelah menghadapi tembakan pasukan Iran di Selat Hormuz dan mengalami kerusakan, kapal-kapal AS tersebut dilaporkan mundur, meski laporan tersebut tidak memerinci kapan kejadiannya.

Sementara itu, pada Kamis, suara ledakan dilaporkan terdengar di barat Teheran. Kantor berita Mehr mengonfirmasi sistem pertahanan udara beroperasi di ibu kota Iran itu. AS juga dilaporkan melancarkan serangan terhadap Pelabuhan Qeshm dan Kota Bandar Abbas.

Namun, AS memandang serangan yang mereka lakukan tersebut tidak bermaksud untuk memulai kembali perang. Situasi di Selat Hormuz dan kota-kota pesisir Iran dilaporkan telah kembali normal setelah terjadi baku tembak antara Iran dan Amerika Serikat, seperti dilansir Press TV pada Jumat (8/5/2026).

Sebelumnya pada Kamis malam, Ebrahim Zolfaghari, juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, mengatakan AS melanggar gencatan senjata dengan menyerang beberapa wilayah Iran, termasuk pantai pelabuhan Khamir, Kota Sirik dan Pulau Qeshm, serta dua kapal Iran.

Gencatan Senjata

Angkatan bersenjata Iran segera membalas, menyerang kapal perang Amerika di sebelah timur Selat Hormuz dan selatan pelabuhan Chabahar, menyebabkan kerusakan yang signifikan.

Sebagai tanggapan, Komando Pusat AS mengatakan militer AS “menghilangkan ancaman yang masuk dan menargetkan fasilitas militer Iran tempat serangan dilakukan terhadap pasukan AS.”

Menurut komando tersebut, AS tidak menginginkan eskalasi, tetapi siap untuk membalas. Kemudian pada hari itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran tetap berlaku.

Di sisi lain, Trump mengancam Iran dengan serangan baru jika Teheran menolak untuk segera menandatangani kesepakatan. “Kita akan menjatuhkan mereka dengan cara yang jauh lebih keras dan lebih brutal di masa depan, jika mereka tidak segera menandatangani kesepakatan itu!” kata Trump di Truth Social.

Konflik terbaru di Timur Tengah ini bermula dari serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa di kalangan rakyat sipil Iran.

Pada 7 April, Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata. Namun, perundingan di Islamabad yang berlangsung setelahnya belum berhasil mencapai kesepakatan apa pun. Presiden AS Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata untuk memberi waktu lebih kepada Iran mempersiapkan “proposal gabungan”.

Eskalasi tersebut menyebabkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz hampir berhenti total. Selat tersebut merupakan rute kunci bagi lalu lintas pasokan minyak dan LNG dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global. Akibat disrupsi tersebut, harga minyak mengalami kenaikan di banyak tempat.

Leave a Reply