Nusatime.com, TRENGGALEK – Jalan Raya Tenggalek-Ponorogo di Desa Nglinggis, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek, dipastikan sudah dapat dilalui kendaraan setelah sempat tertutup tanah longsor pada Selasa (3/3/2026).
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.3 Provinsi Jawa Timur, Endy Aktony, mengatakan penanganan darurat telah dilakukan pada badan jalan yang amblas akibat longsoran material tanah dan batu dari tebing di sekitar lokasi.
Salah satu langkah penanganan yang dilakukan adalah pemasangan sheet pile atau pelat baja untuk menahan pergerakan tanah sekaligus memperkuat struktur badan jalan sementara.
“Untuk kendaraan sudah bisa melintas dua arah, baik roda dua maupun roda empat. Namun kendaraan roda enam ke atas diberlakukan sistem bergantian atau satu per satu,” kata Endy, Rabu (11/3/2026).
Selain pemasangan pelat baja, petugas juga melakukan penimbunan material serta penyemprotan soil stabilizer guna meningkatkan kestabilan tanah pada area terdampak longsor.
Dampak dari penanganan darurat tersebut membuat lebar badan jalan sementara menjadi sedikit menyempit karena adanya timbunan material penguat.
Meski demikian, Endy memastikan secara fungsional ruas jalan nasional tersebut telah kembali dapat digunakan masyarakat, termasuk untuk mendukung kelancaran arus mudik pada Hari Raya Idul Fitri 2026.
“Kami tetap berhati-hati, terutama jika terjadi cuaca ekstrem. Koordinasi terus dilakukan dengan BPBD, Satlantas Polres Trenggalek, Basarnas, serta pihak terkait untuk menjaga keamanan lalu lintas di KM 16,” ujarnya yang dikutip dari Antara.
Ia menambahkan penanganan yang dilakukan saat ini masih bersifat sementara sambil menunggu desain teknis penanganan permanen dari tim perencana jalan nasional.
Tim ahli geologi sebelumnya juga telah melakukan identifikasi kondisi tanah di lokasi longsor guna menentukan metode penanganan lanjutan yang lebih permanen.
Menurut Endy, potensi longsor susulan masih mungkin terjadi, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi dan berlangsung lama.
“Ketika terjadi cuaca ekstrem atau hujan deras terus-menerus, kemungkinan longsor susulan tetap ada. Karena itu kami sepakat dengan Basarnas, BPBD, kepolisian, dan pihak kecamatan untuk menghentikan sementara aktivitas melintas apabila kondisi dinilai berbahaya,” katanya.
Material longsoran di belakang tanggul sempat dibersihkan. Namun kapasitas penampungan terbatas sehingga berisiko meluap apabila terjadi aliran material longsor dalam jumlah besar.
“Kalau material meningkat cepat tentu bisa meluap. Langkah paling aman adalah menutup sementara jalur ketika kondisi cuaca ekstrem,” kata Endy.
Leave a Reply