Sumur Kridanggo Simpang Lima Boyolali Masih Dimanfaatkan Jadi Andalan Warga

Sumur Kridanggo Simpang Lima Boyolali Masih Dimanfaatkan Jadi Andalan Warga
Sumur Kridanggo menjadi pemandangan tak biasa bagi pengguna jalan yang melintas di kawasan Simpang Lima Boyolali, Selasa (31/3/2026). (Daerah/Miqda Al Auza'i)

Nusatime.com, BOYOLALI — Sumur umum bernama Kridanggo menjadi pemandangan tak biasa bagi pengguna jalan yang melintas di kawasan Simpang Lima Boyolali. Diketahui, sumur Kridanggo dibangun sekitar tahun 1920-an ketika Boyolali dalam pembangunan pada zaman pemerintahan Bupati KRMT Suronagoro.

Di tengah ramainya lalu lintas kendaraan, sumur tersebut masih dimanfaatkan warga sekitar untuk berbagai keperluan sehari-hari, mulai dari mengambil air hingga mencuci kendaraan.

Atik, warga yang berjualan di kawasan Simpang Lima, mengatakan bahwa air dari sumur dimanfaatkan untuk berbagai keperluan pokok. Menurut pernyataannya, sumur juga menjadi andalan warga ketika air dari Perusahaan Air Minum (PAM) mengalami gangguan.

“Semuanya kalau pas Perumda Air mati itu larinya ke sini. Itu satu-satunya sumur yang di kampung ini, cuma ada satu,” ucap Atik saat ditemui tim Espos pada Selasa (31/3/2026).

Masyarakat dapat langsung mengambil air dari sumur dan menggunakannya secara gratis. Anis, salah seorang warga, mengatakan pengambilan air masih menggunakan cara tradisional dengan sistem kerekan. “Iya, langsung dari situ [pengambilan air]. Kan itu kerekan, masih tradisional,” ujarnya.

Galon bekas dan tali di sumur Kridanggo yang digunakan untuk mengerek air terlihat sederhana. Meskipun begitu, cara ini dinilai praktis sekaligus mempertahankan ciri khas sumur tua peninggalan masa lalu.

Selain karena kemudahan akses, kualitas air sumur juga menjadi alasan utama warga memilih sumber air tersebut. Hal itu disampaikan oleh Ari, pedagang angkringan yang memanfaatkan air dari sumur untuk keperluan dagang. Ia menilai kualitas air dari sumur itu lebih bagus daripada air dari PAM.

“Kalau dipakai minum pun, dibandingkan dengan air Perumda, lebih enak pakai itu dan jadi esnya pun lebih bersih pakai itu,” kata Ari. Ia juga mengungkapkan bahwa keberadaan sumur tersebut memudahkan para pedagang di tempat.

Meski masih menjadi andalan warga, kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan akses air bersih yang layak belum sepenuhnya terpenuhi. Di sisi lain, sumur ini juga diharapkan agar terus dilestarikan karena keberadaannya membantu warga.

Leave a Reply