Senin Pagi, Rupiah Tembus Rp18.107 per Dolar AS, IHSG Dibuka Anjlok Hampir 2%

Senin Pagi, Rupiah Tembus Rp18.107 per Dolar AS, IHSG Dibuka Anjlok Hampir 2%
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah saat melayani nasabah di kantor CIMB Niaga, Solo, Rabu (20/5/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah hingga Rp17.705 per dolar AS. (Daerah/J Howi Widodo).

Nusatime.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (8/6/2026) pagi kembali melemah. Rupiah turun 71 poin atau 0,39 persen menjadi Rp18.107 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.036 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah tekanan yang masih membayangi pasar keuangan domestik. Dalam sepekan terakhir, mata uang Garuda bergerak melemah dari kisaran Rp17.878 per dolar AS pada awal Juni, kemudian menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada Kamis (4/6/2026), sebelum ditutup di level Rp18.036 per dolar AS pada akhir pekan lalu.

Sejalan dengan pelemahan rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pembukaan perdagangan Senin pagi juga terkoreksi tajam. IHSG turun 108,46 poin atau 1,94 persen ke posisi 5.486,31.

Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 melemah 12,06 poin atau 2,16 persen ke posisi 545,69.

Tekanan terhadap aset keuangan Indonesia terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi global, konflik geopolitik, serta arus keluar modal asing yang masih berlangsung. Dalam beberapa hari terakhir, Bank Indonesia dan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah koordinasi untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan mendukung penguatan rupiah.

Dalam keterangannya pada Sabtu (6/6/2026), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah dan koreksi pasar saham saat ini tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya. Menurut dia, aktivitas ekonomi domestik masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat.

“Pelemahan rupiah dan pasar saham tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia,” ujar Purbaya. Ia optimistis sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang semakin kuat akan mampu mengembalikan kepercayaan investor dan memperkuat nilai tukar rupiah ke depan.

Purbaya juga menegaskan pemerintah bersama Bank Indonesia telah menyepakati langkah-langkah untuk meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik guna menarik kembali aliran modal asing dan menjaga stabilitas pasar.

Pelaku pasar saat ini masih mencermati perkembangan sentimen global, termasuk dinamika geopolitik Timur Tengah serta respons pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan pasar keuangan nasional.

Leave a Reply