Trump Desak NATO Kirim Kapal ke Selat Hormuz, GCC Minta PBB Amankan Rute Maritim

Trump Desak NATO Kirim Kapal ke Selat Hormuz, GCC Minta PBB Amankan Rute Maritim
Gambar satelit Selat Hormuz. (Istimewa/Wikimedia)

Nusatime.com, WASHINGTON DC/NEW YORK — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak negara-negara anggota Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk mengirimkan kapal angkatan laut ke Selat Hormuz.

Desakan itu disampaikan Trump di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berdampak pada jalur pelayaran strategis tersebut.

“Mereka harus berani masuk dan mengirimkan kapal-kapal mereka ke sana dan menikmatinya,” kata Trump kepada harian Politico, Kamis (3/4/2026).

Dalam pernyataannya, Trump juga menyinggung absennya NATO di kawasan Selat Hormuz yang kini berada di bawah pengaruh Iran sebagai respons atas serangan gabungan AS dan Israel terhadap Teheran.

Ketika ditanya apakah ia merasa frustrasi terhadap NATO, Trump memberikan jawaban tegas. “Saya tidak peduli. Saya tidak membutuhkan mereka,” ujarnya.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dunia. Sekitar 20 juta barel minyak melintas setiap hari melalui jalur tersebut.

Namun sejak awal Maret 2026, aktivitas pelayaran di selat itu terganggu akibat konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.

Trump berulang kali mendesak sekutu Eropa dan negara-negara Teluk untuk berperan lebih aktif dalam menjaga keamanan Selat Hormuz.

Menurutnya, negara-negara yang bergantung pada distribusi minyak dari jalur tersebut harus ikut bertanggung jawab untuk memastikan jalur pelayaran tetap terbuka.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) Mohammed Al Budaiwi juga mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengambil langkah tegas dalam menjaga keamanan jalur pelayaran internasional.

“Kami menyerukan kepada Dewan Keamanan untuk bertanggung jawab penuh dan melakukan semua langkah yang diperlukan untuk melindungi jalur maritim dan memastikan keberlanjutan navigasi internasional yang aman,” ujar Al Budaiwi dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB, Kamis.

Ia juga meminta agar negara-negara Teluk dilibatkan dalam setiap diskusi atau kesepakatan dengan Iran guna memperkuat keamanan regional serta mencegah eskalasi konflik lebih lanjut.

Blokade Selat Hormuz sendiri merupakan dampak dari konflik terbaru di Timur Tengah yang dipicu serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Selain melancarkan serangan balasan, Iran kini mengendalikan jalur utama pengiriman minyak dan gas dari negara-negara Teluk menuju pasar global.

Penutupan Selat Hormuz tersebut berdampak pada ekspor dan produksi minyak di kawasan serta memicu kenaikan harga energi di pasar dunia.

Menurut laporan The Wall Street Journal, Trump dijadwalkan bertemu dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Washington pada pekan depan.

Sepanjang sejarahnya, NATO hanya sekali mengaktifkan Pasal 5 perjanjian pertahanan kolektif, yakni setelah serangan teroris 11 September 2001 di Amerika Serikat.

Pasal tersebut menyatakan bahwa serangan terhadap satu negara anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota NATO.

Namun dalam situasi terbaru, sejumlah sekutu NATO mengkritik langkah Trump yang dianggap memulai konflik dengan Iran tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan negara anggota lainnya.

Dalam wawancara terpisah dengan harian Inggris The Telegraph, Trump bahkan menyebut anggota NATO sebagai “pengecut” dan kembali menyinggung kemungkinan Amerika Serikat keluar dari aliansi tersebut.

Meski demikian, langkah penarikan AS dari NATO tidak mudah dilakukan. Undang-undang yang disahkan pada 2023 mewajibkan presiden mendapatkan persetujuan dua pertiga anggota Senat AS sebelum menarik diri dari aliansi tersebut.

Leave a Reply