5.964 Anak Boyolali Tak Sekolah, Ini Kecamatan dengan Kasus Terendah-Tertinggi

5.964 Anak Boyolali Tak Sekolah, Ini Kecamatan dengan Kasus Terendah-Tertinggi
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Boyolali, Lasno, saat berada di kantornya, Senin (11/5/2026). (Daerah/Ni’matul Faizah)

Nusatime.com, BOYOLALI — Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Boyolali mencapai 5.964 anak. Dari angka tersebut, Kecamatan Ngemplak menyumbang jumlah tertinggi yaitu 540 angka tidak sekolah.

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Boyolali, Lasno, mengaku heran karena Ngemplak termasuk kecamatan yang dekat dengan Kota Solo.

“Jangan-jangan mukimnya di Ngemplak, tapi sekolahnya di Solo. Bisa jadi seperti itu,” kata dia ditemui Espos, Senin (11/5/2026).

Lasno mengatakan anak putus sekolah bisa disebabkan sejumlah faktor, pertama karena anak memang tidak berminat sekolah. Ia mengatakan anak enggan sekolah bisa jadi karena tidak berminat, membantu orang tua, hingga menikah.

Kedua, ada anak yang sekolah ke luar daerah sehingga seolah tidak terdata di Boyolali. Kemudian ada kemungkinan anak masuk ke pondok pesantren akan tetapi tidak mempunyai data pokok pendidikan. Sehingga, anak-anak tersebut tidak terdeteksi tingkatan kelasnya padahal masuk sekolah secara secara reguler.

“Total data anak tidak sekolah [sesuai data Kemendikdasmen] ada 5.964 anak. Ada yang terdata belum pernah sekolah 1.753 anak. Saya tidak tahu kriteria belum pernah sekolah ini apa, jangan-jangan anak di bawah empat tahun,” kata dia.

Data yang diperoleh Espos soal anak tidak sekolah, di Kecamatan Selo ada 423 anak, Ampel ada 218 anak, Cepogo 435 anak, Musuk ada 157 anak, Boyolali 273 anak, Mojosongo 246 anak, Teras 212 anak, Sawit 127 anak, Banyudono 272 anak, Sambi 190 anak, Ngemplak 540 anak, Nogosari 329 anak, Simo 211 anak, Karanggede 256 anak, Klego 331 anak, Andong 392 anak, Kemusu 394 anak, Wonosegoro 281 anak, Juwangi 468 anak, Gladagsari 99 anak, Tamansari 51 anak, dan Wonosamodro 59 anak.

Sebelumnya diberitakan, Mitigasi dilaksanakan dengan cara pemberian motivasi, bantuan pendidikan, alat tulis, seragam, beasiswa di luar Program Indonesia Pintar (PIP), dan sebagainya. Kegiatan Posyandu juga dioptimalisasi untuk memverifikasi anak-anak yang telah usia sekolah tapi belum sekolah.

Kemudian, bagi anak-anak SD atau SMP yang memiliki potensi drop out, diupayakan untuk mengikuti lembaga pendidikan nonformal untuk mengikuti kejar paket di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Ada pula bantuan di PKBM seperti alat tulis hingga beasiswa.

“Kalau putus sekolah rasanya tidak karena SD dan SMP di Boyolali tidak ada biaya,” kata dia.

Selanjutnya, ia mengatakan dari 5.964 anak tidak sekolah, angka tertinggi ATS berada di Kecamatan Ngemplak sebanyak 540 anak.

Sebelumnya diberitakan, jumlah anak tidak sekolah (ATS) di wilayah Soloraya mencapai 37.874 orang sepanjang 2026. Kabupaten Wonogiri menjadi daerah dengan angka ATS tertinggi di Soloraya dengan total 7.771 anak. Jumlah anak tidak sekolah (ATS) di wilayah Soloraya mencapai 37.874 orang sepanjang 2026. Kabupaten Wonogiri menjadi daerah dengan angka ATS tertinggi di Soloraya dengan total 7.771 anak. Lalu, Kabupaten Boyolali berada di nomor dua. 

Leave a Reply