Nusatime.com, BOYOLALI — Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Boyolali mencapai 5.964 anak. Angka tersebut menjadikan Boyolali memiliki ATS tertinggi kedua di Soloraya setelah Kabupaten Wonogiri yang mencapai 7.771 anak.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Boyolali, Lasno, mengatakan pihaknya belum melakukan verifikasi lapangan soal dari dari Kemendikdasmen tersebut. Akan tetapi, laporan dari sekolah untuk anak yang putus sekolah memiliki persentase yang sangat kecil.
“Akan tetapi karena data tersebut resmi dirilis oleh Kemendikdasmen, ya kami percaya saja. Masalah angka tidak akan kami perdebatkan, cuma akan kami tindaklanjuti dengan verifikasi lewat penilik di masing-masing kecamatan untuk bekerja sama dengan pemerintah desa untuk mendata ada berapa anak yang tidak sekolah atau putus sekolah,” kata dia kepada Espos, Senin (11/5/2026).
Ia mengatakan faktor anak putus sekolah banyak, pertama karena anak memang tidak berminat sekolah. Ia mengatakan anak enggan sekolah bisa jadi karena tidak berminat, membantu orang tua, hingga menikah.
Kedua, ada anak yang sekolah ke luar daerah sehingga tidak terdata di Boyolali. Kemudian ada kemungkinan anak masuk ke pondok pesantren akan tetapi tidak mempunyai data pokok pendidikan. Sehingga, anak-anak tersebut tidak terdeteksi tingkatan kelasnya padahal masuk sekolah secara reguler.
“Kami mencoba memerintahkan kepada kepala sekolah baik di tingkat SD maupun SMP untuk melakukan mitigasi terhadap anak-anak yang rawan putus sekolah,” kata dia.
Mitigasi dilaksanakan dengan cara pemberian motivasi, bantuan pendidikan, alat tulis, seragam, beasiswa di luar Program Indonesia Pintar (PIP), dan sebagainya. Kegiatan Posyandu juga dioptimalisasi untuk memverifikasi anak-anak yang telah usia sekolah tapi belum sekolah.
Kemudian, bagi anak-anak SD atau SMP yang memiliki potensi drop out, diupayakan untuk mengikuti lembaga pendidikan nonformal untuk mengikuti kejar paket di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Ada pula bantuan di PKBM seperti alat tulis hingga beasiswa.
“Kalau putus sekolah rasanya tidak karena SD dan SMP di Boyolali tidak ada biaya,” kata dia.
ATS Paling Banyak di Ngemplak
Selanjutnya, ia mengatakan dari angka 5.964 anak tidak sekolah, angka tertinggi ATS berada di Kecamatan Ngemplak sebanyak 540 anak.
Sebelumnya diberitakan, jumlah anak tidak sekolah (ATS) di wilayah Soloraya mencapai 37.874 orang sepanjang 2026. Kabupaten Wonogiri menjadi daerah dengan angka ATS tertinggi di Soloraya dengan total 7.771 anak.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), puluhan ribu ATS tersebut terbagi dalam beberapa kategori, yakni belum pernah bersekolah (BPB), drop out (DO), lulus tidak melanjutkan (LTM) SD, serta LTM SMP.
Rinciannya, sebanyak 13.419 anak tercatat belum pernah bersekolah, 11.310 anak drop out, 2.200 anak lulus SD tetapi tidak melanjutkan pendidikan, serta 10.866 anak lulus SMP namun tidak melanjutkan sekolah.
Jika dirinci per daerah, Wonogiri menjadi wilayah dengan ATS tertinggi dengan total 7.771 anak. Angka tersebut terdiri atas 3.100 anak belum pernah bersekolah, 1.507 anak drop out, 411 anak LTM SD, dan 2.753 anak LTM SMP.
Posisi kedua ditempati Kabupaten Boyolali dengan 5.964 ATS, disusul Sragen 5.683 ATS, Klaten 5.626 ATS, Karanganyar 5.450 ATS, Sukoharjo 4.688 ATS, serta Kota Solo sebanyak 2.693 ATS.

Leave a Reply