Akses Partisipasi Terbatas, Peran Pemuda Sragen dalam Pembangunan Masih Minim

Akses Partisipasi Terbatas, Peran Pemuda Sragen dalam Pembangunan Masih Minim
Sejumlah stakeholders Sragen mengikuti kegiatan Musrenbang Sragen 2026 di Pendapa Sumonegaran Sragen, Maret 2026 lalu.

Nusatime.com, SRAGEN — Peran pemuda dalam pembangunan di wilayah Kabupaten Sragen masih relatif minim, salah satunya karena akses partisipasi yang dinilai terbatas, sehingga ide-ide kreatif mereka jarang terakomodasi.

Secara umum masyarakat Sragen, khususnya kaum pemuda, mengetahui penyaluran aspirasi dan partisipasi pembangunan hanya lewat forum musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang). Mereka memiliki ide-ide kreatif tetapi minim diakomodasi di dalam musrenbang baik pada level desa/kelurahan, kecamatan, dan kabupaten.

Kehadiran pemuda di forum musrenbang terkesan sekadar memenuhi undangan dan dicatat sebagai bentuk partisipasi kelompok mereka. Kanal-kanal partisipasi pada setiap tahunnya dinilai monoton, bahkan usulan bertahun-tahun tak terakomodasi dalam pembangunan dengan alasan klise keterbatasan anggaran.

Situasi tersebut dirasakan salah seorang pemuda pegiat Komunitas Kalong Creative Sragen, Agung Susilo. Ia menilai peran pemuda dalam proses pembangunan di Kabupaten Sragen masih minim, yang dampaknya ide-ide kreatif pemuda jarang terakomodasi. Dia menilai kondisi tersebut disebabkan keterbatasan ruang diskusi publik yang melibatkan kalangan pemuda.

“Rata-rata pembangunan sudah melalui musrenbang yang perencanaan sudah jadi. Pemuda hanya menyaksikan apa yang sudah direncanakan pemangku kebijakan,” ujar Agung kepada Espos, baru-baru ini.

Dia berpikir pemuda dapat menciptakan peluang usaha baru berbasis potensi lokal, seperti kuliner khas, kerajinan, dan produk digital. Menurutnya, pemuda berperan dalam mewujudkan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) go digital lewat pemasaran online dan branding hingga optimalisasi penggunaan media sosial.

Seni-seni lokal juga menjadi modal untuk dikembangkan agar relevan dengan era modern. “Pemuda dapat berperan banyak, seperti pembuatan konten edukasi, promosi wisata Sragen, dan membangun komunitas digital yang produktif hingga pengelolaan sampah peduli lingkungan,” kata Agung. 

Penggerak Perubahan

Dia menginginkan pemuda tidak hanya menjadi penonton pembangunan tetapi terlibat langsung sebagai penggerak perubahan. Dia meminta pemuda harus adaptif dengan perkembangan zaman tanpa meninggalnya nilai-nilai budaya lokal.

Agung menyatakan tantangan besar pemuda terletak pada tuntutan skill tinggi di era digital; kurangnya akses terhadap pelatihan dan lapangan kerja; rendahnya minat dalam pembangunan daerah; menjaga budaya lokal di tengah modernisasi; dan penyalahgunaan teknologi dan media sosial.

Pemuda di Masaran, Abyanto, 36, berpendapat pemuda berpengaruh dalam pembangunan di masa depan. Jika Sragen ingin maju seperti daerah lain, Abyanto menyatakan kuncinya jangan melupakan peran pemuda, apalagi pemuda yang memiliki kompetensi. “Banyak pemuda Sragen yang potensial tetapi belum tersenggol untuk andil dalam memajukan Sragen,” katanya.

Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sragen, Galih Candra Bayu Aji, pun melihat pemuda mestinya tidak menjadi penonton tetapi harus menjadi pelaku utama dalam perubahan. Dia mengatakan pemuda memiliki wadah-wadah organisasi di segala bidang, seperti sosial, ekonomi, digital, dan gerakan sosial.

Bagi Galih, Pembangunan sumber daya manusia (SDM) lebih penting dengan melibatkan pemuda dalam pengambilan kebijakan, pengawasan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan budaya lokal.

“Ke depan pemuda supaya mendapat ruang yang luas untuk berkembang, terbuka terhadap inovasi. Pemerintah mestinya hadir sebagai mitra strategis dalam pelaksanaan pembangunan. Energi dan ide-ide kreatif pemuda jangan dibatasi tetapi difasilitasi, Diakui atau tidak, pemuda Sragen sudah berkonstribusi dalam pembangunan di segala bidang,” harap dia.

Galih meminta pemuda memperkuat kapasitas diri, meningkatkan kompetensi, menjaga persatuan, dan aktif membangun lingkungan yang positif. Menurut dia, KNPI Sragen percaya jika pemuda diberikan ruang, kepercayaan, dan kesempatan, mereka akan menjadi kekuatan besar dalam membawa Sragen menjadi daerah maju, mandiri, dan berdaya saing.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Sragen, Dwiyanto, mengklaim selama ini pemuda sudah dilibatkan dalam perencanaan pembangunan, terutama di musrenbang. Dia mengundang kelompok-kelompok pemuda dan organisasi pemuda. Beberapa perwakilan pemuda yang menyampaikan usulan, jelas dia, diterima sebagai masukan.

“Mereka sudah terlibat dalam perencanaan bottom up lewat musrenbang. Selain musrenbang ada kanal-kanal penyaluran aspirasi lainnya, yaitu lewat top down, partisipatif, politis, dan teknokratik. Sekarang tahapan lewat teknokratif. Usulan dalam disampaikan lewat OPD [organisasi perangkat daerah]. Lapor Bupati juga menjadi kanal penyampaian aspirasi,” ujar Dwiyanto.

Partisipasi Baru Sebatas Mobilisasi

Dwiyanto menyampaikan intervensi pemerintah dalam Pembangunan lebih fokus pada indikator makro daerah, seperti pertumbuhan ekonomi yang sudah 5,7%, pengangguran, indeks pembangunan manusia (IPM), yang keseluruhan bagus kecuali kemiskinan yang menunjukkan anomali.

Dia mengklaim tren penurunan kemiskinan di Sragen tertinggi di Soloraya. “Saya kira skill yang penting bagi pemuda. Ke depan pekerjaan harus memiliki skill di semua bidang,” kata dia.

Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Prof Drajat Tri Kartono, menyampaikan partisipasi anak-anak muda di dalam musrenbang mengendur karena terjadi birokratisasi, yaitu metode perencanaan yang diulang-ulang.

Sementara aspirasi para pemuda, kata dia, diseleksi dan diambil pemerintah sesuai kegiatan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat luas, sedangkan usulan pemuda hanya diambil sekian persen. Kaum pemuda, jelas dia, menjadi jenuh sehingga partisipasi menurun.

“Partisipasi selama ini baru sebatas mobilisasi, mereka diundang dan hadir. Kehadiran fisik dianggap sebagai simbol partisipasi. Pemuda belum terlibat langsung dalam pelaksanaan dan pemantauan Pembangunan. Perlu ada inovasi dari pemerintah daerah dengan menggandeng akademisi dan NGO [nongovernment organization] untuk merancang agar partisipasi hangat. Mereka dianggap menjadi bagian penting dalam perencanaan pembangunan,” ujar Drajat.

Menurut dia, tantangan pemerintah daerah di masa kini harus adaptif terhadap pola pikir, pergaulan, dan pola hubungan gaya hidup anak-anak muda agar aspirasi mereka terwadahi. Dalam belajar saja, dia menjelaskan anak zaman dulu cenderung guru menjadi utama, apa yang disampaikan guru menjadi sarana belajar.

“Sekarang anak-anak muda memiliki akses belajar sendiri lewat AI [artificial intelligence] sehingga kebiasaan mereka berubah. Bagaimana menanamkan karakter, ideologi, wawasan kebangsaan, kepada mereka dengan cara yang mereka sukai. Kemudian di dalamnya disertakan materi skill disampaikan. Sekarang kecenderungan anak muda lebih ke personal skill yang unik-unik bukan kolektif skill,” ujar dia.

Leave a Reply