Nusatime.com, SRAGEN — Lulus dari sekolah menengah atas (SMA) tahun 2026, remaja asal Sragen, Nabila Khoirunnisa, memilih tidak melanjutkan kuliah. Namun, ia masih bingung mau bekerja apa dan di mana.
Ia menemukan video tentang orang-orang yang bekerja di Jepang dan sukses. Ia pun tertarik. Ia berencana mendaftar kursus Bahasa Jepang agar bisa menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Jepang.
“Kerja di Jepang itu worth it [sepadan] buat mencari pengalaman dan masa depan. Terus gajinya juga lumayan lah, sekitar Rp10 juta bersih. Lingkungan kerjanya juga terkenal disiplin. Jadi bisa buat diri berkembang,” tulis Nabila kepada Espos, Jumat (22/5/2026).
Hal senada diungkapkan lulusan SMKN 1 Plupuh, Sragen, Zainuri Aditiya Eko Nugroho, 19, yang lulus pada 2025 lalu dan sudah bekerja di industri mobil di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat (Jabar).
Ia memilih bekerja di luar daerah asalnya karena ingin lebih berkembang dan menambah pengalaman. Zainuri memilih merantau karena alasan upah minimum kabupaten (UMK) lebih tinggi di luar daerah meskipun biaya hidup hampir sama antara Sragen dan Cikarang
“Saya ingin berkembang agar tidak terperangkap zona nyaman saja. Jadi saya memutuskan untuk merantau, untuk menambah relasi dan pengalaman, juga masa depan supaya lebih baik. Kalau di Sragen saja, pengalaman yang didapat tidak sebanyak di perantauan,” ujar dia.
Peluang Kerja di Sragen
Peluang pekerjaan di Sragen sebenarnya relatif banyak dan dapat diakses lewat job fair maupun pengumuman lowongan pekerjaan di Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Sragen. Hanya, UMK Sragen dinilai Zainuri rendah sehingga hanya cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari, sedangkan untuk menabung susah. “UMK Cikarang itu bisa Rp5,9 juta, sedangkan di Sragen hanya Rp2,3 jutaan,” kata dia.
Lain lagi dengan Azizah Kafka Ayodya, lulusan SMAN 1 Sragen 2026. Ia ingin melanjutkan studi di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo di program studi S1 Ilmu Administrasi Negara. Azizah melanjutkan kuliah karena ke depan ingin menjadi abdi negara atau aparatur sipil negara (ASN), baik di Kementerian, provinsi, maupun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen.
Azizah melihat peluang pekerjaan di Sragen beragam karena sering melihat inforasi lowongan pekerjaan dari Pemkab Sragen di media sosial. Syaratnya pun, jelas dia, disesuaikan dengan jenjang pendidikan dengan bidang kerja teknik, industri, kerajinan, dan sebagainya dengan lokasi tak hanya di Sragen tetapi juga di luar Sragen.
“Tetapi saya sudah punya plan, ingin menjadi ASN di Kementerian Sosial dan Pemprov untuk mencari pengalaman sebanyak mungkin. Harapan terbesar saya tetap ingin mengabdi di Sragen. Setelah banyak pengalaman, saya ingin fokus berkonstribusi di Pemkab Sragen,” ujar dia.
Terobosan Pemerintah
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Sragen, Dwiyanto, menyampaikan fokus pemerintah membuat terobosan untuk mengatasi pengangguran supaya tidak ada anak-anak muda, terutama lulusan SMA/SMK di Sragen menganggur.
Mulai 2026 ini, Dwiyanto menjajaki kerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) untuk menggelar diklat vokasi dan langsung penempatan kerja.
“Mereka yang sudah dilatih di diklat vokasi langsung ditempatkan di dunia kerja, tidak harus di Sragen tetapi juga dapat di luar Sragen. Program kami yang output-nya bisa berdampak langsung. Kalau pemberian beasiswa belum tentu langsung kerja. Beasiswa pun sekarang diberikan kepada mahasiswa di sekolah ikatan dinas dan pelatihan vokasi sehingga lulus langsung kerja,” ujar dia.
Sosiolog UNS Solo, Prof Drajat Tri Kartono, melihat lulusan SMA itu mestinya kuliah dan lulusan SMK langsung bekerja. Kalau lulusan SMA/SMK sama saja berarti perlu dievaluasi kurikulumnya. Ketika ada masalah ekonomi keluarga, menurut Drajat, merupakan persoalan lain.
Drajat mengungkapkan banyak warga Sragen bekerja di luar negeri. Dia meyampaikan ketika pemuda Sragen memilih merantau ke luar daerah itu dalam teori migrasi Everett S Lee dipengaruhi dua faktor, yakni pendorong dan penarik.
Daya tarik orang Sragen merantau ke Solo, Semarang, Surabaya, Jogja, sampai Jakarta dan Bandung, ujar dia, karena peluang pekerjaan lebih besar dan UMK-nya lebih besar. Sementara pendorongnya, Drajat menerangkan ada kondisi di daerah yang kurang menguntungkan dan pekerjaan di daerah tidak memiliki prestise dan UMK-nya rendah.
Kondisi keluarga yang kurang mampu, banyak utang, jelas dia, juga menjadi daya dorong untuk merantau. Dalam penelitiannya, Drajat menemukan suatu desa di Sragen yang anak mudanya sukses merantau dan kembali ke daerah kemudian membangun desa digital dengan membuat marketing digital dan merekrut anak-anak mudanya.
“Mereka mau bekerja di sektor digital daripada bekerja di sawah. Jadi ada kesenjangan antara pertumbuhan/perkembangan peluang pekerjaan dengan gaya hidup anak muda di perkotaan dan daerah [perdesaan]. Orang merantau bukan sekadar mencari pekerjaan tetapi mencari prestise,” kata dia.

Leave a Reply