Nusatime.com, MASHHAD — Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling melancarkan serangan menjelang pemakaman pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, Kamis (9/7/2026). Eskalasi terbaru itu memicu kekhawatiran perang skala penuh kembali pecah setelah gencatan senjata April dan kesepakatan damai AS-Iran pada Juni lalu runtuh.
Mengutip laporan AFP yang disiarkan Yahoo News, permusuhan memasuki hari kedua berturut-turut. Iran kembali melancarkan serangan terhadap aset-aset milik AS di kawasan Timur Tengah, sementara militer Amerika Serikat menggempur sejumlah target strategis di Iran.
Menurut pejabat Iran, serangan terbaru AS menewaskan sedikitnya 17 orang. Republik Islam Iran menyatakan telah menyerang aset militer AS di Kuwait, Bahrain, dan Qatar. Sementara itu, Yordania mengonfirmasi telah mencegat delapan rudal yang diluncurkan dari wilayah Iran.
Di sisi lain, pejabat militer AS mengatakan pihaknya menghantam sekitar 90 target militer Iran, termasuk sistem pertahanan udara, lokasi penyimpanan rudal, dan fasilitas drone.
Iran juga menuduh AS menyerang infrastruktur sipil, termasuk jembatan kereta api serta area di sekitar pembangkit listrik tenaga nuklir sipil di Bushehr. Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan tersebut sebagai “kejahatan perang yang berat”.
Ketegangan Memuncak Jelang Pemakaman Khamenei
Eskalasi konflik terjadi ketika Iran bersiap memakamkan Ali Khamenei di kota kelahirannya, Mashhad. Pemakaman tersebut menjadi penutup rangkaian upacara selama enam hari setelah Khamenei meninggal dunia bersama sejumlah anggota keluarganya pada hari pertama perang AS-Israel melawan Iran pada 28 Februari 2026.
Ribuan warga telah memadati lokasi pemakaman dengan mengenakan pakaian hitam. Sebagian massa menyerukan pembalasan atas kematian Khamenei.
Pemakaman itu juga menjadi sorotan karena publik masih menanti kemunculan putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, yang belum tampil di hadapan publik sejak disebut-sebut sebagai sosok penting dalam kepemimpinan Iran pascakematian ayahnya.
Sementara itu, Selat Hormuz kembali menjadi titik panas konflik. Jalur pelayaran strategis dunia tersebut menjadi pemicu utama meningkatnya ketegangan setelah Iran bersikeras mempertahankan kontrol atas kawasan itu.
Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir, meski tetap membuka peluang perundingan baru. Namun, ia menegaskan fokus Washington saat ini adalah memastikan denuklirisasi penuh Iran.
Memanasnya kembali konflik AS dan Iran memunculkan kekhawatiran dunia terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, terutama keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia.

Leave a Reply