Banjir Landa 6 Kecamatan di Sragen, Ratusan Hektare Sawah Terendam

Banjir Landa 6 Kecamatan di Sragen, Ratusan Hektare Sawah Terendam
Tim gabungan SAR mengantar seorang pedagang sayuran keliling pulang dengan membawa barang dagangan satu beronjong menggunakan perahu karet melewati genangan air di Desa Pandak, Sidoharjo, Sragen, Kamis (5/3/2026). (Daerah/Tri Rahayu)

Nusatime.com, SRAGEN — Banjir melanda enam kecamatan di Kabupaten Sragen akibat hujan deras berintensitas tinggi serta luapan Sungai Bengawan Solo dan anak sungainya, Rabu (4/3/2026) malam hingga Kamis (5/3/2026). Ratusan hektare sawah milik petani terendam sehingga memicu potensi kerugian hingga ratusan juta rupiah.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen, banjir terjadi di Kecamatan Sidoharjo, Tanon, Sragen, Ngrampal, Sambungmacan, dan Masaran dengan ketinggian air berkisar antara 10–50 sentimeter.

Kepala Pelaksana BPBD Sragen, R. Triyono Putro, mengatakan banjir di Kecamatan Ngrampal terjadi di Dukuh Sidorejo RT 012 dan Dukuh Bendungan RT 014, Desa Pilangsari dengan ketinggian air 10–20 cm. Selain itu, banjir juga terjadi di Desa Kebonromo dan Desa Bener.

“Banjir di Desa Bener sempat menggenangi 83 rumah warga, tetapi tidak ada warga yang mengungsi karena air cepat surut,” kata Triyono kepada Espos, Kamis.

Triyono menambahkan banjir juga terjadi di wilayah Kota Sragen, tepatnya di Kelurahan Karangtengah, Desa Tangkil, dan Desa Kedungupit dengan ketinggian air 10–30 cm. Sementara di Kecamatan Sidoharjo, genangan terjadi di Desa Sidoharjo, Sribit, dan Pandak yang mayoritas menggenangi area persawahan dan jalan.

Di Kecamatan Masaran, banjir menggenangi Desa Pringanom dengan ketinggian air sekitar 30–35 cm. Sedangkan di Kecamatan Sambungmacan, genangan terjadi di Desa Banaran dengan ketinggian air 5–10 cm.

Lahan Bawang Merah Tergenang

Camat Tanon, Renaldhy Arief Wicaksono, mengatakan banjir di wilayahnya merendam area pertanian, terutama tanaman padi dan bawang merah. Genangan terjadi di Desa Gawan, Kecik, Padas, Pengkol, dan Suwatu.

Ia menjelaskan di Desa Gawan air merendam 212 hektare persemaian padi dan sekitar 0,2 hektare tanaman cabai. Di Desa Kecik, genangan air menutupi 226 hektare persemaian padi, 4 hektare tanaman padi, 0,5 hektare bawang merah, 0,5 hektare cabai, serta 0,2 hektare tanaman tomat dan gambas.

“Di Desa Padas ada 92 hektare lahan persemaian padi tergenang air. Di Pengkol ada 14 hektare dan di Suwatu ada 6 hektare persemaian padi. Kerugian belum bisa dihitung karena umur persemaian baru sehari,” jelasnya.

Camat Sidoharjo, Dwi Cahyono, mengatakan dampak banjir paling signifikan terjadi di Desa Pandak dengan sekitar 130 hektare sawah tergenang air, meskipun sebagian besar tanaman padi di wilayah tersebut sudah memasuki masa panen.

Selain itu, genangan juga terjadi di Desa Bentak seluas sekitar 10 hektare sawah dan di Desa Patihan sekitar 20–25 hektare sawah. Di Desa Tenggak terdapat sekitar 198 hektare sawah yang tergenang, Desa Taraman sekitar 10 hektare, serta Desa Sribit sekitar 150 hektare.

“Sebagian sawah di Bentak hampir panen karena usia tanaman padi sudah tiga bulan. Sementara sawah di Patihan, Pandak, Sribit, dan Tenggak baru tahap persiapan persemaian benih padi,” kata dia.

Leave a Reply