Banyak Sumur Dalam Berdiri, Jumlah Petani Kedelai di Sambirejo Sragen Berkurang

Banyak Sumur Dalam Berdiri, Jumlah Petani Kedelai di Sambirejo Sragen Berkurang
Ilustrasi kedelai. (Freepik)

Nusatime.com, SRAGEN — Para petani di wilayah Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen, menanam kedelai sudah 20 tahun. Namun, para petani tidak mampu bertahan sehingga banyak tergerus zaman. Luas tanam kedelai di Sambirejo yang semula mencapai 500 hektare sekarang tinggal 220 hektare.

Daya tarik petani untuk menanam kedelai rendah karena harga jual pascapanen tidak pasti dan produktivitas rendah.

Fakta tersebut diungkapkan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Sambirejo, Ali Saikul Huda, saat ditemui wartawan di Sambirejo, Sragen, Jumat (15/5/2026). Ali mengungkapkan khusus di Desa Sambirejo saja luas lahan pertanian 180 hektare dan 70 hektare di antaranya berpotensi ditanami kedelai. Kalau luas tanaman kedelai se-Kecamatan Sambirejo, sebut dia, hanya 210-230 hektare.

“Tanaman kedelai tergantung cuaca. Kalau hujan agak jarang maka lebih banyak petani tanam kedelai tetapi kalau curah hujan tinggi, petani cenderung tanam padi. Petani tanam kedelai di wilayah Sambirejo sejak tahun 2000-an tetapi dalam perkembangannya tergerus dengan intensifikasi lahan padi. Makin banyak sumur dalam berdampak pada berkurangnya lahan tanaman kedelai,” jelas Ali.

Dia berpendapat banyaknya bantuan sumur dalam dari APBN maupun dari dana aspirasi justru mengurangi luas tanaman kedelai di Sambirejo, dari awalnya 500 hektare menjadi 220-230 hektare. Di sisi lain, konsumen dalam negeri dihadapkan pada angka impor kedelai yang mencapai 90% berdasarkan data dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) per April 2026.

Dia menyampaikan kepastian harga panen kedelai sampai saat ini belum ada. Dia menyatakan harga kedelai yang dipakai masih merupakan acuan harga pemerintah (AHP). Dia menerangkan AHP itu merupakan semacam imbauan saja yang hukumnya sunah muakad bukan farrdlu ‘ain seperti harga pembelian pemerintah (HPP) di padi.

Dia menyebut AHP kedelai sekarang Rp11.200 per kg tetapi harga di pasaran di tingkat petani jauh berada di bawah AHP, antara Rp9.000-Rp10.000 per kg. Dia menyampaikan keberpihakan pemerintah terhadap petani kedelai masih kuruang. Dia membandingkan dengan HPP padi yang sering kali di atas HPP saat musim kemarau. Seperti harga gabah kering panen (GKP) pada musim kemarau bisa tembus Rp7.000 per kg sedangkan HPP hanya Rp6.500 per kg.

“Sementara kedelai belum tentu harganya di atas AHP, bahkan bisa di bawahnya. Itulah yang kami stimulasi dari pemerintah supaya AHP ini bisa menjadi HPP. Dengan status HPP maka ada jaminan harga bagi petani kedelai,” harap dia.

Leave a Reply