Nusatime.com, PONOROGO – Rangkaian Grebeg Tutup Suro di kawasan Monumen Bantarangin, Desa Sumoroto, Kecamatan Kauman, menjadi puncak sekaligus penutup rangkaian menyambut Bulan Muharram/Suro di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Selasa (14/7/2026) sore. Sebanyak lima gunungan besar berisi hasil bumi berupa sayuran dan buah-buahan ludes diperebutkan ribuan warga yang telah memadati lokasi sejak siang hari dalam hitungan menit.
Monumen Bantarangin merupakan salah satu situs bersejarah di Ponorogo yang diyakini sebagai jejak Kerajaan Bantarangin, tempat yang diyakini sebagai kelahiran sekaligus pusat berkembangnya kesenian Reog Ponorogo pada masa Prabu Kelono Sewandono. Karena itu, Grebeg Tutup Suro di kawasan tersebut selalu menjadi agenda budaya yang dinanti masyarakat.
Kemeriahan Grebeg Tutup Suro Bantarangin di wilayah Kota Kulon Ponorogo tidak kalah semarak dibandingkan Grebeg Suro yang digelar di pusat kota. Salah satu tradisi yang paling ditunggu masyarakat adalah Buceng Porak.
Kirab diawali dari Pendopo Kecamatan Kauman menuju Monumen Bantarangin dengan jarak sekitar dua kilometer. Lima buceng raksasa yang berisi aneka hasil bumi diarak mengelilingi rute kirab, disambut antusias ribuan warga yang memadati sepanjang jalan.
Sesampainya di Monumen Bantarangin, prosesi diawali dengan doa bersama. Namun, sebelum doa selesai dipanjatkan, warga sudah menyerbu lima gunungan tersebut untuk memperebutkan hasil bumi yang dipercaya membawa berkah.
Salah seorang warga, Rissa, mengaku selalu mengikuti tradisi Buceng Porak setiap tahun. Ia berharap hasil bumi yang diperolehnya membawa keberkahan bagi keluarga. Tahun ini, dia dan keluarganya turut serta berebut aneka buah dan sayuran yang disediakan panitia sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.
“Setiap tahun saya ikut. Tadi dapat jeruk, tapi yang dapat suami saya. Ya harapannya semoga membawa berkah,” ujarnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo, Lisdyarita, mengatakan penyelenggaraan Grebeg Tutup Suro merupakan hasil kolaborasi pemerintah, panitia, karang taruna, dan masyarakat di Kecamatan Kauman. Menurutnya, Buceng Porak bukan sekadar tradisi berebut hasil bumi, melainkan wujud rasa syukur sekaligus doa bersama agar masyarakat diberikan keselamatan dan rezeki yang melimpah.
“Tradisi ini selalu diawali doa bersama. Memang tadi doanya belum selesai, tetapi masyarakat sudah tidak sabar berebut buceng. Yang terpenting nilai kebersamaan dan rasa syukurnya tetap terjaga,” ujarnya.
Lisdyarita menambahkan, meski pelaksanaan tahun ini menyesuaikan kondisi efisiensi anggaran, antusiasme masyarakat justru terus meningkat. Ia berharap tradisi Buceng Porak tetap dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya Ponorogo dan mampu menarik lebih banyak wisatawan pada tahun-tahun mendatang.
“Walaupun ini efisiensi alhamdullilah antusiasme masyarakat begitu luar biasa, semoga ke depan bisa lebih meriah lagi,” harapnya.

Leave a Reply