Jejak Industri Daluang Ponorogo, Kertas yang Mampu Bertahan Ratusan Tahun

Jejak Industri Daluang Ponorogo, Kertas yang Mampu Bertahan Ratusan Tahun
Perajin sekaligus pegiat pelestarian kertas daluang Ponorogo, Wirastho, saat menanam pohon Daluang, Sabtu (4/7/2026). (Espos.id/Imam Mustajab)

Nusatime.com, PONOROGO – Jauh sebelum kertas modern membanjiri Indonesia, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, telah terkenal sebagai salah satu sentra produksi kertas tradisional terbesar di tanah Jawa. Kertas yang dikenal sebagai daluang, kertas gedhog, atau kertas Ponoragan itu menjadi media utama penulisan kitab, naskah keagamaan, hingga manuskrip yang berperan penting dalam pencatatan sejarah hingga dakwah.

Dibuat dari serat kulit kayu paper mulberry (Broussonetia papyrifera), kertas Daluang diproduksi melalui proses tradisional tanpa mesin. Seluruh tahapan dikerjakan secara manual, mulai dari mengupas kulit kayu, merendam, memukul hingga pipih, sampai menjemurnya. Karena proses pemukulan itulah masyarakat kemudian menyebutnya sebagai kertas gedhog, meniru bunyi “gedhog-gedhog” saat kulit kayu dipukul.

Perajin sekaligus pegiat pelestarian daluang Ponorogo, Wirastho, mengatakan kejayaan industri daluang tidak bisa dipisahkan dari keberadaan Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari.l, Kecamatan Jetis. Melimpahnya pohon daluang di kawasan tersebut membuat para kiai dan santri mampu memproduksi sendiri media tulis untuk menyalin kitab maupun menyebarkan ilmu agama.

“Di Tegalsari terjadi kemandirian sumber daya. Ketersediaan bahan baku membuat para santri dan kiai mudah menyalin kitab-kitab. Karena proses penggandaan ilmu menjadi lebih mudah, perkembangan peradaban Islam di Tegalsari juga berlangsung sangat pesat,” ujarnya kepada Espos, Sabtu (4/7/2026).

Menurut Wirastho, sejumlah manuskrip menunjukkan bahwa kertas Ponoragan telah dipakai sejak era Kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga masa Walisongo. Bahkan, salah satu manuskrip menyebut kebutuhan kertas era Sunan Ampel untuk penulisan kitab dipasok dari Ponorogo.

Tak hanya menjadi pusat literasi pesantren, keturunan ke-7 Kiai Ageng Muhammad Besari itu mengatakan puncak kejayaan produksi terjadi pada masa kepemimpinan Kiai Kasan.

Saat itu, banyak manuskrip yang  membahas soal fikih, tasawuf, filsafat, mistisisme, etika sosial, hingga wawasan politik kebangsaan ditulis menggunakan aksara Jawa Pegon di atas kertas daluang. Selain itu hubungan Pesantren Tegalsari dengan Keraton Surakarta harmonis sehingga membuat distribusi kertas Ponoragan semakin luas.

Saat Pakubuwono III hingga Pakubuwono VI menjabat, Ponorogo disebut menjadi pemasok utama kertas gedhog untuk memenuhi kebutuhan kertas di berbagai wilayah Jawa.

“Karena itu buatnya manual, satu lembar kertas itu bisa memakan waktu hingga 5 hari, makanya menurut laporan Bupati yang menjabat waktu itu R.T.A. Soetikno, Ponorogo sampai kewalahan memenuhi permintaan kertas,” jelasnya.

Menurut Wirastho, kualitas daluang menjadi alasan mengapa kertas tersebut tetap diminati meski kertas produksi Eropa mulai masuk pada awal abad ke-20. Daluang memiliki daya tahan sangat tinggi, tidak mudah rapuh maupun berubah warna sehingga mampu bertahan lebih dari 500 tahun.

“Banyak manuskrip era Sunan Ampel yang usianya lebih dari 600 tahun masih bertahan karena menggunakan daluang. Ketahanannya jauh berbeda dibanding kertas modern,” katanya.

Selain sarat nilai sejarah, Kertas Daluang juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Setiap sentimeter persegi, Syawir mengaku sejumlah pembeli rela merogoh kocek hingga Rp200. Padahal, harga kertas modern jauh lebih murah jika dibandingkan kertas tersebut.

Oleh karena itu, ia kini gencar menanam kembali pohon-pohon Daluang di sekitar kawasan Tegalsari untuk menghidupkan kembali jejak keemasan Kertas Ponoragan yang telah terkenal.

“Belum produksi lagi, saat ini saya lagi nanam pohon Daluang di sekitar Tegalsari, nantinya kalau sudah ada bahan buat lagi. Saat itu sebenarnya saya belum berniat menjual, tapi memang sudah membuat kertas ini. Ndilalah ada teman yang tahu dan akhirnya membeli, harganya lumayan tinggi, per 1cm² itu dia berani membeli Rp200. Bayangkan satu lembar kertas itu panjangnya berapa, tinggal dikalikan saja,” kata dia.

Leave a Reply