Festival Lima Gunung Rayakan Seperempat Abad, Tetap Mandiri Tanpa Sponsor

Festival Lima Gunung Rayakan Seperempat Abad, Tetap Mandiri Tanpa Sponsor
Dua seniman musik dari Yogyakarta, Setya RKJ dan Krisnowo, mementaskan performa musik di panggung Festival Lima Gunung di Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kabupaten Magelang, Jateng, Minggu (29/9/2024). ANTARA/Hari Atmoko

Nusatime.com, MAGELANG — Festival Lima Gunung (FLG) XXV/2026 akan kembali digelar di Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, pada 10–12 Juli 2026. Perhelatan tahun ini menjadi istimewa karena menandai seperempat abad penyelenggaraan festival seni budaya yang dikenal konsisten digelar secara mandiri tanpa sponsor.

Dilansir Antara, menjelang pelaksanaan festival, akses menuju Dusun Warangan kini semakin baik setelah ruas jalan sekitar dua kilometer diaspal. Jalan yang sebelumnya berlubang kini mulus sehingga memudahkan mobilitas masyarakat maupun pengunjung menuju lokasi festival di lereng Gunung Merbabu.

Festival Lima Gunung digagas oleh Komunitas Lima Gunung, yang menghimpun seniman dan petani dari kawasan Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh. Komunitas tersebut dirintis budayawan Sutanto Mendut pada 1997 sebagai ruang berkesenian berbasis masyarakat desa dan tradisi lokal.

Festival pertama kali digelar pada 2002 di Dusun Warangan. Pada penyelenggaraan ke-25 ini, lokasi tersebut kembali menjadi tuan rumah sekaligus menjadi kali keempat Warangan dipercaya menjadi pusat pelaksanaan festival.

Perjalanan Festival Lima Gunung mengalami titik penting pada 2010 ketika para pegiat komunitas menandatangani “Sumpah Tanah” sebagai komitmen menyelenggarakan festival secara mandiri tanpa bergantung pada sponsor pemerintah maupun swasta. Sejak saat itu, seluruh penyelenggaraan mengandalkan gotong royong masyarakat.

Ketua Panitia Lokal Festival Lima Gunung XXV, Teguh Suharianto, mengatakan pengaspalan jalan menuju Dusun Warangan merupakan hasil perencanaan pembangunan pemerintah di tingkat kecamatan. Sementara itu, seluruh kebutuhan penyelenggaraan festival, mulai dari pembangunan panggung, instalasi seni, konsumsi, logistik, hingga akomodasi tamu dan seniman, tetap dilakukan secara swadaya oleh masyarakat.

Semangat gotong royong tersebut dinilai menjadi kekuatan utama festival yang mampu bertahan selama 25 tahun tanpa jeda, termasuk saat pandemi Covid-19.

Ketua Komunitas Lima Gunung, Sujono, mengatakan perbedaan pandangan di dalam komunitas justru menjadi bagian dari proses belajar bersama. Menurutnya, semangat menerima perbedaan menjadi salah satu bentuk keikhlasan dalam menjaga keberlangsungan festival.

Sementara itu, Sutanto Mendut menilai umur panjang Festival Lima Gunung lahir dari ikatan emosional antarsesama anggota komunitas yang tidak bisa diukur dengan materi. Menurutnya, kekuatan utama festival berasal dari rasa memiliki dan kecintaan terhadap budaya.

Tahun ini, sebanyak 85 kelompok kesenian dengan total 1.274 seniman akan tampil setelah melalui proses kurasi. Mereka berasal dari jaringan Komunitas Lima Gunung, desa-desa sekitar Magelang, hingga berbagai daerah di Indonesia.

Ragam pertunjukan yang disajikan meliputi tari, musik, teater, kirab budaya, pameran seni rupa, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, instalasi seni, hingga pidato kebudayaan.

Panitia juga akan memberikan Lima Gunung Award kepada Sukitri atau Mbah Kitri (81), seorang sinden, penari, sekaligus pengrawit asal Kecamatan Pakis, sebagai bentuk penghargaan atas dedikasinya dalam melestarikan seni tradisi.

Mengusung tema “Makin Goblok Bareng”, Festival Lima Gunung XXV mengajak masyarakat memaknai pentingnya kerendahan hati dan semangat untuk terus belajar. Bagi Komunitas Lima Gunung, tema tersebut merupakan pengingat bahwa manusia tidak pernah berhenti belajar dan berkembang, sekaligus menjadi ruh yang menjaga festival tetap hidup selama seperempat abad.

Leave a Reply