Dua Kali Gagal Panen, Petani Ketaon Boyolali Gropyokan Tikus di Sawah

Dua Kali Gagal Panen, Petani Ketaon Boyolali Gropyokan Tikus di Sawah
Petani hingga Dinas Pertanian Boyolali melaksanakan gropyokan hama tikus yang menyerang lahan warga di Ketaon, Banyudono, Boyolali, Rabu (1/7/2026). (Daerah/Ni’matul Faizah)

Nusatime.com, BOYOLALI — Puluhan petani bersama aparat TNI, Polri, Pemerintah Desa Ketaon, dan Dinas Pertanian (Dispertan) Boyolali menggelar gropyokan tikus di areal persawahan Desa Ketaon, Kecamatan Banyudono, Rabu (1/7/2026). Aksi tersebut dilakukan setelah petani mengalami gagal panen selama dua musim tanam akibat serangan hama tikus.

Dalam gropyokan itu, petani melakukan pengasapan di lubang-lubang tikus menggunakan belerang. Sejumlah petani juga membawa cangkul, celurit, dan kayu untuk memburu tikus yang keluar dari persembunyian.

Ketua Kelompok Tani Marsudi Tani III, Suwarno, mengatakan serangan hama tikus telah menyebabkan petani yang tergabung dalam Gapoktan Marsudi Tani mengalami kerugian besar.

“Ini semua yang menanam padi, semuanya enggak panen. Jagung juga tidak panen. Semua gagal panen. Kedelai juga. Sudah dua kali panen tahun ini kemarin,” katanya kepada wartawan.

Menurut Suwarno, kelompok taninya beranggotakan sekitar 44 petani. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengendalikan hama, mulai dari gropyokan mandiri, memasukkan kapur barus dan belerang ke dalam lubang tikus, hingga memanfaatkan burung hantu sebagai predator alami. Namun, upaya tersebut belum mampu menekan populasi tikus secara signifikan.

Ia menyebut biaya produksi budidaya padi mencapai sekitar Rp3 juta per patok atau seperempat hektare, setara sekitar Rp12 juta per hektare. Dalam kondisi normal, hasil panen dapat mencapai nilai sekitar Rp34 juta per hektare. Akibat gagal panen, petani mengalami kerugian sekitar Rp5 juta per patok dan bahkan sering kali tidak mampu menutup biaya produksi.

Suwarno berharap kerugian petani akibat serangan hama dapat ditanggung melalui program asuransi pertanian agar petani tidak semakin terpuruk.

Sementara itu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Ketaon, Widodo, mengatakan sekitar 14 hektare lahan pertanian di Banyudono terdampak serangan tikus, dengan sekitar 2 hektare di antaranya mengalami puso atau gagal panen total.

Menurut Widodo, pengendalian dilakukan melalui gropyokan dan pengasapan menggunakan belerang. Asap belerang disemprotkan ke dalam lubang tikus sehingga dapat membunuh hama tanpa merusak tanaman. Bahkan, unsur belerang dinilai bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman.

Widodo menjelaskan produktivitas gabah kering panen di Desa Ketaon pada kondisi normal mencapai 6 hingga 7 ton per hektare. Namun akibat serangan tikus, hasil panen petani hanya mencapai sekitar 25 hingga 50 persen dari produksi normal.

“Kemarin sudah hampir satu tahun tidak panen. Diharapkan pengendalian hama tikus bisa mengurangi serangan selanjutnya dan petani bisa panen sesuai harapan. Dua musim tanam terakhir, baik padi maupun jagung, mengalami gagal panen,” katanya.

Leave a Reply