Nusatime.com, BOYOLALI — Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Boyolali dalam beberapa hari terakhir dikeluhkan para pekerja work from home (WFH). Selain menghambat pekerjaan, pemadaman yang kerap terjadi tanpa pemberitahuan dinilai memengaruhi produktivitas hingga kondisi psikologis pekerja yang bergantung pada listrik dan internet selama jam kerja.
Salah seorang pekerja WFH asal Watugede, Kecamatan Kemusu, Boyolali, Dicky Setyawan, 26, mengaku aktivitasnya sebagai penulis konten sangat bergantung pada perangkat elektronik seperti laptop, telepon seluler, dan jaringan internet. Ketika listrik padam, seluruh perangkat penunjang pekerjaannya ikut terdampak.
“Saya pernah menulis artikel tentang janji tidak ada pemadaman listrik, tetapi saat itu justru rumah saya sedang mati listrik. Menurut saya itu ironis,” kata Dicky kepada Espos, Minggu (21/6/2026).
Menurut dia, dampak yang dirasakan bukan hanya kerugian secara materi, melainkan juga tekanan psikologis akibat terganggunya ritme kerja. Pemadaman yang datang tiba-tiba membuat pekerjaan tertunda, sementara tenggat waktu tetap harus dipenuhi.
Dicky menyebut selama periode 12-19 Juni 2026 telah terjadi empat kali pemadaman listrik di wilayahnya. Sebagian besar terjadi pada jam kerja, yakni siang hingga sore hari, dengan durasi sekitar dua hingga tiga jam.
“Yang paling mengganggu bukan hanya listriknya mati, tetapi tidak ada pemberitahuan yang jelas sebelumnya. Setelah mengadu lewat aplikasi PLN, jawabannya hanya informasi standar tentang pemeliharaan dengan estimasi tiga jam,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Dicky selalu mengisi penuh daya laptop dan telepon selulernya sebelum bekerja. Namun upaya itu sering kali tidak cukup karena durasi pemadaman lebih lama dibanding ketahanan baterai perangkat yang digunakan.
Ia juga mengaku kesulitan mencari alternatif tempat bekerja karena tinggal di wilayah pelosok. Kafe atau ruang publik dengan akses internet terdekat berada cukup jauh dari tempat tinggalnya.
“Kalau tinggal di kota mungkin masih bisa pindah ke coffee shop. Tapi saya tinggal di daerah yang aksesnya terbatas sehingga benar-benar bergantung pada listrik di rumah,” katanya.
Andalkan Komputer dan Internet
Keluhan serupa disampaikan pekerja WFH asal Kecamatan Simo, Danang Budianto, 32. Sebagai desainer grafis dan kreator konten, ia mengandalkan komputer dan internet untuk menyelesaikan pekerjaannya setiap hari.
“Kalau listrik mati, pekerjaan otomatis berhenti. Kadang pekerjaan yang belum sempat disimpan hilang dan harus mengulang dari awal,” ujarnya.
Danang mengatakan pemadaman listrik juga membuat jadwal kerjanya berantakan. Waktu yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan harus diganti pada jam lain sehingga mengganggu aktivitas berikutnya.
“Kalau bisa ada pemberitahuan yang jelas sebelum pemadaman. Jadi kami bisa mengantisipasi dan menyesuaikan pekerjaan,” katanya.
Ia berharap pemerintah dan PLN memberikan perhatian lebih terhadap persoalan tersebut karena listrik saat ini telah menjadi kebutuhan dasar masyarakat, termasuk bagi pekerja yang menjalankan aktivitas secara daring dari rumah.
Sementara itu, Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, menyampaikan permohonan maaf atas pemadaman bergilir yang terjadi di Pulau Jawa. Menurut dia, gangguan terjadi akibat masalah teknis pada dua pembangkit listrik besar milik produsen listrik swasta serta kendala pasokan batu bara untuk sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
“Kami atas nama PT PLN (Persero) memohon maaf sebesar-besarnya karena Pulau Jawa mengalami pemadaman bergilir,” ujar Darmawan dalam konferensi pers yang dirilis PLN, Sabtu (20/6/2026).
PLN, lanjut dia, telah mengerahkan tim bersama mitra terkait untuk mempercepat perbaikan pembangkit yang mengalami gangguan sekaligus memastikan pasokan batu bara kembali normal agar sistem kelistrikan Pulau Jawa segera pulih.
“Kami bekerja siang dan malam agar seluruh gangguan ini bisa segera terselesaikan,” kata Darmawan.

Leave a Reply