UTP Solo Kenalkan Dryer House System, Bantu Petani Kopi Segorogunung Karanganyar

UTP Solo Kenalkan Dryer House System, Bantu Petani Kopi Segorogunung Karanganyar
Tim pengabdian kepada masyarakat UTP Solo mengenalkan teknologi Dryer House System (DHS) kepada Kelompok Tani Bawono Langgeng di Desa Segorogunung, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. (Istimewa)

Nusatime.com, SOLO-Tim pengabdian kepada masyarakat (PKM) Universitas Tunas Pembangunan Surakarta (UTP) Solo mengenalkan teknologi Dryer House System (DHS) kepada Kelompok Tani Bawono Langgeng di Desa Segorogunung, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Program ini bertujuan meningkatkan kualitas penanganan pascapanen kopi Arabika Lawu melalui penerapan Good Handling Practices (GHP).

Desa Segorogunung merupakan salah satu sentra penghasil kopi Arabika Lawu yang berada di lereng barat Gunung Lawu pada ketinggian sekitar 1.300–1.600 meter di atas permukaan laut. Kondisi wilayah yang memiliki kelembapan tinggi dan kerap diselimuti kabut menyebabkan proses pengeringan kopi secara konvensional membutuhkan waktu lebih lama, terutama saat musim hujan. Kondisi tersebut berisiko menurunkan kualitas biji kopi akibat tumbuhnya jamur maupun fermentasi yang tidak diinginkan.

Melalui program pengabdian ini, tim UTP Solo yang terdiri atas Agung Prasetyo, Suswadi, Saifuddin, F.A.F. Hartoni, dan E.Setyaningrum, memberikan sosialisasi, pelatihan, pendampingan, serta penerapan teknologi Dryer House System yang memanfaatkan prinsip efek rumah kaca untuk mempercepat proses pengeringan biji kopi tanpa bergantung pada cuaca. Selain itu, petani juga mendapatkan pelatihan mengenai penanganan pascapanen sesuai prinsip Good Handling Practices agar mutu kopi tetap terjaga.

Dalam pelaksanaannya, tim membangun rumah pengering berukuran 6 meter x 3 meter dengan kapasitas sekitar 40 kilogram biji kopi. Teknologi tersebut memungkinkan suhu di dalam ruang pengering tetap stabil sehingga proses pengeringan berlangsung lebih cepat dan menghasilkan kadar air biji kopi sesuai standar mutu pascapanen.

Hasil implementasi menunjukkan penggunaan DHS karya Tim PKM UTP mampu memangkas waktu pengeringan kopi dari sekitar 7–10 hari menjadi 3–5 hari. Selain itu, kualitas biji kopi meningkat karena terhindar dari jamur dan kontaminasi debu, sementara kadar air lebih stabil pada kisaran 12–13 persen. Peningkatan mutu tersebut berdampak pada kenaikan nilai jual kopi kering di tingkat petani.

Tim UTP Solo mengenalkan teknologi Dryer House System (DHS) kepada Kelompok Tani Bawono Langgeng di Desa Segorogunung, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. (Istimewa)
Tim UTP Solo mengenalkan teknologi Dryer House System (DHS) kepada Kelompok Tani Bawono Langgeng di Desa Segorogunung, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. (Istimewa)

Ketua Tim Pengabdian Kepada Masyarakat UTP, Agung Prasetyo,  mengatakan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat melalui penerapan Dryer House System (DHS) menjadi langkah nyata dalam meningkatkan kualitas kopi Arabika Lawu sekaligus memperkuat kesejahteraan dan daya saing petani kopi di Desa Segorogunung.

“Harapan kami, inovasi ini menjadi solusi yang dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh petani sehingga kopi Arabika Lawu semakin memiliki daya saing di pasar,” ujarnya.

Lebih lanjut Agung menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penyediaan teknologi, tetapi juga peningkatan kapasitas petani agar mampu menerapkan standar penanganan pascapanen secara mandiri. Program meliputi tahapan sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, evaluasi, hingga keberlanjutan program.

Berdasarkan hasil evaluasi, seluruh peserta pelatihan berpartisipasi aktif dan menunjukkan peningkatan pemahaman mengenai penanganan pascapanen kopi berbasis Good Handling Practices. Kehadiran Dryer House System diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas kopi Arabika Lawu sekaligus memperkuat daya saing produk kopi dari Desa Segorogunung.

“Kami berkomitmen mendukung peningkatan daya saing kopi Arabika Lawu melalui penerapan teknologi tepat guna berbasis Dryer House System [DHS] dan Good Handling Practices, sehingga petani mampu menghasilkan produk berkualitas tinggi secara berkelanjutan”, imbuhnya.

Tim Pengabdian kepada Masyarakat menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada DRPM Ditjen Dikti Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) atas dukungan pendanaan yang telah diberikan. Kegiatan ini terlaksana melalui Hibah Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Tahun 2026. (NA)

Leave a Reply