61 Hektare Sawah di Boyolali Diserang Tikus, Mojosongo Paling Parah

61 Hektare Sawah di Boyolali Diserang Tikus, Mojosongo Paling Parah
Ilustrasi tikus (Freepik.com)

Nusatime.com, BOYOLALI—Dinas Pertanian (Dispertan) Boyolali mencatat sebanyak 61 hektare sawah di Kabupaten Boyolali diserang hama tikus. Dari jumlah tersebut, sekitar separuh atau 30 hektare berada di Kecamatan Mojosongo sehingga menjadi wilayah dengan serangan terparah.

Berdasarkan data Dispertan Boyolali, serangan hama tikus tersebar di Kecamatan Mojosongo seluas 30 hektare, Banyudono 14 hektare, Teras enam hektare, Kemusu lima hektare, Sawit empat hektare, dan Boyolali dua hektare.

Kepala Dispertan Boyolali, Suyanta, mengatakan dari total lahan yang terdampak, seluas enam hektare mengalami puso atau gagal panen total. Rinciannya, empat hektare berada di Mojosongo dan dua hektare di Banyudono.

“Puso atau gagal panen total 6 hektare, di Banyudono 2 hektare dan di Mojosongo 4 hektare. Untuk total lahan waspada ada 315 hektare se-Kabupaten Boyolali,” kata Suyanta, Rabu (1/7/2026).

Menurut Suyanta, tingginya serangan hama tikus di Mojosongo dipengaruhi berbagai faktor. Salah satunya masih adanya petani yang mempercayai mitos bahwa tikus tidak boleh dibunuh.

Selain itu, kawasan Sawit, Banyudono, dan Mojosongo juga berdekatan dengan dinding jalan tol yang ditumbuhi semak dan rumput, sehingga menjadi habitat yang disukai tikus.

Dispertan Siapkan Penanaman Serai

Untuk menekan populasi tikus, Dispertan Boyolali menggelar gerakan pengendalian hama di Banyudono selama Selasa (30/6/2026) hingga Rabu (1/7/2026). Program tersebut diharapkan dapat menjadi gerakan rutin masyarakat.

Selain gropyokan tikus, Dispertan juga akan memanfaatkan musuh alami seperti burung hantu, membersihkan saluran irigasi, serta menguji coba penanaman serai di pematang sawah.

“Kami nanti akan menanam serentak 20 hektare di galengan, tiap jarak satu meter tanaman sereh dapur. Baunya itu tikus tidak suka. Kami akan uji coba di Desa Jembungan, Banyudono,” ujar Suyanta.

Program penanaman serai tersebut direncanakan mulai direalisasikan setelah anggaran perubahan 2026 disahkan.

Dispertan juga mengimbau petani menerapkan pola tanam serentak agar populasi tikus dapat ditekan.

“Efek dari masa tanam tidak serentak, rombongan tikus itu mencari pakan. Kalau masa tanam tidak serentak, tidak ada masa kosong yang seharusnya bisa mencegah hama tikus mencari makan di tempat lain,” katanya.

Sementara itu, puluhan petani bersama aparat TNI, Polri, Pemerintah Desa Ketaon, dan Dispertan Boyolali menggelar gropyokan tikus di areal persawahan Desa Ketaon, Kecamatan Banyudono, Rabu (1/7/2026).

Ketua Kelompok Tani Marsudi Tani III, Suwarno, mengatakan serangan hama tikus telah menyebabkan petani di wilayahnya mengalami gagal panen selama dua musim tanam.

“Ini semua yang menanam padi, semuanya enggak panen. Jagung juga tidak panen. Semua gagal panen. Kedelai juga. Sudah dua kali panen tahun ini kemarin,” katanya.

Menurut Suwarno, berbagai upaya telah dilakukan untuk menekan populasi tikus, mulai dari gropyokan, pengasapan lubang menggunakan belerang, hingga memanfaatkan burung hantu sebagai predator alami. Namun, hasilnya belum mampu mengendalikan serangan hama secara signifikan.

Ia menyebut biaya produksi padi mencapai sekitar Rp12 juta per hektare, sedangkan nilai panen dalam kondisi normal bisa mencapai sekitar Rp34 juta per hektare. Akibat serangan tikus, banyak petani mengalami kerugian karena hasil panen tidak mampu menutup biaya produksi.

Leave a Reply