Groundsill Srandakan Capai 79,5%, Sumur Warga Mulai Terisi Lagi

Groundsill Srandakan Capai 79,5%, Sumur Warga Mulai Terisi Lagi
Kondisi bangunan dam dan groundsill Sungai Progo yang jebol pada Selasa, 28 Januari 2025 lalu. (Harian Jogja/Arief Junianto)

Nusatime.com, BANTUL — Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) menyebut pembangunan Groundsill Srandakan di Kalurahan Trimurti, Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul, telah mencapai 79,5 persen. Proyek senilai Rp213 miliar itu ditargetkan rampung pada Desember 2026 dan mulai memberikan dampak positif bagi warga, salah satunya sumur yang kembali terisi air.

Penata Teknik Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Sungai Pantai II BBWSO, Djohar Ismail, mengatakan pembangunan groundsill dimulai pada 10 Oktober 2025 dan ditargetkan selesai sesuai masa kontrak.

“Kontraknya berakhir di Desember 2026, jadi target selesai sesuai kontrak,” katanya, Minggu (5/7/2026), seperti dilansir Antara.

Menurut Djohar, groundsill dibangun untuk menstabilkan dasar Sungai Progo, mengurangi kecepatan arus, serta mencegah degradasi dasar sungai yang dapat mengancam berbagai infrastruktur di bagian hulu.

Bangunan tersebut diharapkan mampu melindungi sejumlah infrastruktur penting seperti Jembatan Srandakan II, Bendung Kamijoro, dan Bendung Sapon dari ancaman gerusan sungai.

Sumur Warga Mulai Terisi Lagi

Selain menjaga infrastruktur, pembangunan groundsill mulai memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar. Djohar mengatakan sejumlah sumur warga yang sebelumnya mengalami penurunan debit setelah Dam Srandakan jebol kini mulai kembali terisi air.

“Terus ini dengan dampak sudah terbangunnya Groundsill Srandakan sumurnya mulai terisi lagi,” ujarnya.

Ia menjelaskan sebelum proyek tersebut dibangun, dasar Sungai Progo mengalami penurunan hampir 20 sentimeter dalam waktu satu tahun setelah Dam Srandakan jebol.

“Setahun itu (penurunan) hampir 20 sentimeter, itu terjadi penurunan dasar Sungai Progo,” katanya.

Djohar menambahkan proyek tersebut berpotensi selesai lebih cepat dari target meski masih menyisakan sejumlah pekerjaan akhir, seperti penyelesaian timbunan tanah dan pekerjaan finishing lainnya.

Percepatan pekerjaan difokuskan pada Juni hingga Agustus karena kondisi cuaca lebih mendukung selama musim kemarau.

Adapun pekerjaan yang masih berlangsung meliputi pembangunan subdam di sisi kiri sungai sepanjang sekitar 100 meter, penyelesaian ensil sekitar 100 meter, serta pembangunan dinding penahan tanah (DPT) sepanjang sekitar 40 meter.

Menurut Djohar, tantangan terbesar dalam pelaksanaan proyek adalah pengalihan sementara aliran Sungai Progo agar pekerjaan konstruksi dapat dilakukan.

“Jadi alirannya itu kita harus memindahkan. Kalau kita bekerja di wilayah Kulon Progo, aliran air dipindahkan ke sebelah kiri atau ke Bantul, dan sebaliknya,” ujarnya.

Leave a Reply