Nusatime.com, WONOGIRI — Petani mentimun di Kabupaten Wonogiri meruap untung besar. Memasuki pertengahan Juli 2026, harga komoditas hortikultura tersebut melonjak drastis hingga dua kali lipat dibanding harga normal di pasaran hingga membuat para petani meraup omzet hingga puluhan juta rupiah hanya dalam kurun waktu satu bulan masa tanam.
Petani mentimun asal Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri, Dwi Sartono, membeberkan harga mentimun di tingkat petani saat ini bertengger di angka Rp8.000/kg ketika dilepas ke bakul atau pengepul. Sementara untuk pasar retail atau pembeli langsung, harganya bisa menyentuh Rp10.000/kg.
“Harga saat ini menjadi yang tertinggi. Biasanya harga mentimun di tingkat petani paling-paling hanya berkisar Rp3.000/kg hingga Rp4.000/kg. Dengan harga sekarang, hitung-hitungannya sudah sangat lumayan,” ujar Dwi kepada Espos, Sabtu (11/7/2026).
Ketua KTNA Wonogiri itu memerinci kalkulasi bisnis hortikultura yang tengah ditekuninya. Di lahan seluas 600 meter persegi miliknya, Dwi menanam sedikitnya 1.000 batang mentimun.
Dalam siklus panen selama 35 hari, satu batang tanaman mentimun mampu memproduksi minimal 3 kg. Jika dikalikan dengan harga serapan pasar seharga Rp8.000/kg, satu batang tanaman mampu menghasilkan pendapatan kotor senilai Rp24.000.
Terdongkrak Program MBG
Dari total 1.000 batang yang ditanam, Dwi memproyeksikan akumulasi hasil panen minimal mencapai 3 ton dengan potensi omzet menembus angka Rp24 juta. Padahal, modal produksi yang dikeluarkan untuk pembelian benih, pupuk, hingga perawatan terhitung irit, yakni hanya Rp4.000 per batang atau total Rp4 juta.
Artinya dari lahan yang minim saja, margin keuntungannya bisa mencapai Rp20 juta sekali musim tanam. “Ini menjadi bukti kalau komoditas hortikultura punya potensi cuan yang sangat besar,” urai lulusan IPB tersebut.
Dwi menilai pertumbuhan sektor hortikultura ke depan bakal semakin seksi seiring dengan bergulirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah. Proyek nasional tersebut dipastikan bakal menyedot pasokan pangan dan sayuran segar dalam jumlah masif demi memenuhi standar gizi anak sekolah.
“Peluang pasarnya terbuka lebar dan sangat besar. Pekerjaan rumahnya sekarang tinggal bagaimana petani bisa membangun jembatan akses pasar agar bisa masuk menjadi pemasok utama kebutuhan MBG ini,” kata dia.
Di sisi lain, berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Wonogiri, pergerakan harga komoditas pangan di Kota Sukses tercatat dinamis. Secara umum, pada Juni 2026, kelompok hortikultura lokal seperti sawi dan cabai sebenarnya sempat mengalami deflasi.
Pengecualian terjadi pada komoditas pangan impor seperti bawang putih yang justru menyumbang andil inflasi sebesar 0,12%. Secara bulanan (month-to-month), Wonogiri mencatatkan inflasi total 0,44% pada bulan lalu, di mana kelompok makanan, minuman, dan tembakau menduduki peringkat kedua sebagai motor penggerak inflasi setelah sektor transportasi yang dipicu imbas kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Leave a Reply