Nusatime.com, WONOGIRI — Ketersediaan air bersih di sejumlah kecamatan wilayah Kabupaten Wonogiri mulai menyusut menjelang puncak musim kemarau 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri mulai melakukan persiapan untuk menyalurkan bantuan air bersih (dropping) ke wilayah rawan kekeringan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Wonogiri, Fuad Wahyu Pratama, mengungkapkan hingga pekan terakhir Juli 2026 belum ada permintaan resmi pasokan bantuan air bersih dari masyarakat. Meski demikian, debit air dari sumber di beberapa wilayah terpantau sudah berkurang signifikan.
Beberapa daerah yang mulai merasakan kurang air bersih tersebut di antaranya sebagian wilayah Kecamatan Giriwoyo, Giritontro, dan Karangtengah. “Ini sudah mulai persiapan dropping air bersih untuk antisipasi apabila ada permintaan bantuan air dari wilayah,” ujar Fuad saat dihubungi Espos, Senin (27/7/2026).
Merujuk informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau tahun ini di Wonogiri diperkirakan terjadi pada Agustus. Musim kering kali ini diprediksi berlangsung lebih lama dan cenderung lebih kering dari biasanya.
Berdasarkan pemetaan data kejadian tahun-tahun sebelumnya, BPBD Wonogiri mencatat ada sedikitnya tujuh kecamatan yang masuk kategori rawan kekeringan dan krisis air bersih.
Ketujuh kecamatan tersebut meliputi Kecamatan Pracimantoro dengan satu desa, Paranggupito (2 desa), Giritontro (5 desa), Nguntoronadi (2 desa), Eromoko (6 desa), Giriwoyo (2 desa), dan Manyaran (1 desa). Dari pemetaan tersebut, total warga yang berpotensi terdampak krisis air bersih mencapai 16.883 jiwa.
Ancaman Kebakaran
Fuad menjelaskan potensi kekeringan ini umumnya tidak merata di seluruh wilayah desa, melainkan terkonsentrasi di dusun atau lingkungan tertentu yang memiliki kerentanan geologis lebih tinggi. Namun, BPBD tetap menyiapkan skenario terburuk jika kemarau berlarut-larut. Dalam kondisi ekstrem, dampak kekeringan diprediksi bisa meluas hingga ke 14 kecamatan.
Menghadapi potensi kekeringan panjang ini, masyarakat diimbau mulai hemat menggunakan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Selain krisis air, Fuad juga mengingatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap mengintai saat puncak musim kemarau.
“Masyarakat yang membakar sampah harus memastikan api benar-benar padam. Jangan buang puntung rokok sembarangan karena bisa memicu kebakaran,” tegasnya.
Untuk mengantisipasi dampak kekeringan tahun ini, Pemkab Wonogiri telah menyiapkan alokasi anggaran sekitar Rp300 juta khusus untuk bantuan pasokan air bersih. Penyaluran bantuan akan dilakukan secara responsif berdasarkan permintaan dari wilayah terdampak.
Masyarakat yang mulai kesulitan air bersih diimbau segera berkoordinasi dengan pemerintah desa atau kecamatan setempat agar armada bantuan bisa segera dijadwalkan ke lokasi.

Leave a Reply