Nusatime.com, KARANGANYAR — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar mencatat kebutuhan air bersih masyarakat selama musim kemarau panjang 2026 masih relatif terkendali. Hingga awal Oktober, BPBD baru melakukan droping air bersih di delapan titik yang tersebar di empat kecamatan.
Kepala Pelaksana BPBD Karanganyar, Sugiharjo, mengatakan droping air bersih dilakukan berdasarkan permohonan masyarakat. Sebagian besar permohonan muncul karena pompa air di wilayah tersebut mengalami gangguan sehingga warga kesulitan mendapatkan pasokan air.
“Mulai Juli sampai awal Oktober ini kami baru ada delapan titik yang kami droping karena permohonan dari warga. Itu pun disebabkan pompanya trouble,” ujar Sugiharjo saat berbincang dengan Espos, Minggu (4/10/2026).
Dia mengatakan titik terakhir yang mendapatkan bantuan air bersih berada di Kelurahan Bolong, Kecamatan Karanganyar. Setelah droping di lokasi tersebut, BPBD belum kembali menerima permohonan dari masyarakat yang mengalami kekurangan air bersih.
Meski demikian, BPBD tetap menyiagakan personel dan armada untuk melakukan droping apabila sewaktu-waktu masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
“Kami dari BPBD siap untuk droping air bersih apabila masyarakat di Kabupaten Karanganyar kekurangan air bersih karena musim kemarau,” katanya.
Sugiharjo mengatakan delapan titik droping air bersih tersebut berada di sejumlah wilayah yang mengalami persoalan pasokan air. Di wilayah Sewurejo, misalnya, terdapat dua titik yang mendapatkan bantuan air bersih. Droping dilakukan untuk memenuhi kebutuhan warga di dua rukun warga (RW).
Sementara di Lalung, permintaan air bersih juga berkaitan dengan gangguan pompa. Kondisi serupa terjadi di sejumlah titik lain yang menjadi lokasi droping BPBD.
“Yang terakhir kami droping di Bolong. Namun saat ini dari masyarakat belum menghubungi lagi BPBD untuk droping,” ujar Sugiharjo.
Kondisi tersebut menunjukkan kebutuhan air bersih di Karanganyar belum sampai pada kondisi darurat. Hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah juga membantu mengurangi tekanan kebutuhan air masyarakat.
Hujan Mulai Turun
Sugiharjo mengatakan dalam dua hari terakhir hujan mulai mengguyur sejumlah wilayah, termasuk Jumantono, Jumapolo, sebagian wilayah Karanganyar, dan Tawangmangu.
“Alhamdulillah kemarin dua hari ini di Jumantono, Jumapolo, Karanganyar sebagian sudah turun hujan. Tawangmangu kemarin juga turun hujan,” katanya.
Meski droping air masih terbatas, BPBD Karanganyar tidak ingin menganggap ancaman kekeringan telah berakhir. BPBD sebelumnya telah memetakan sebanyak 18 desa di 11 kecamatan yang berpotensi mengalami kekeringan dan membutuhkan intervensi air bersih.
Namun, berdasarkan hasil pemantauan hingga awal Oktober, baru empat kecamatan dengan delapan titik yang benar-benar membutuhkan droping air bersih.
“Dari 18 desa di 11 kecamatan yang kami prediksi akan mengalami kekeringan, utamanya intervensi air bersih, ini baru empat kecamatan, delapan titik yang kami droping air bersih,” jelas Sugiharjo.
BPBD, lanjut dia, akan melakukan pemetaan ulang untuk mengetahui kondisi terkini masing-masing wilayah. Hal itu penting karena kebutuhan air bersih sangat dipengaruhi kondisi sumber air, pompa, sumur dalam, serta intensitas hujan di masing-masing wilayah.
Mitigasi Kekeringan di 17 Kecamatan
Mulai pekan depan, BPBD berencana menurunkan tim untuk melakukan mitigasi kekeringan di 17 kecamatan. Kegiatan tersebut tidak dilakukan secara bersamaan, tetapi disesuaikan dengan kondisi dan potensi kerawanan masing-masing wilayah. “Kami mulai minggu depan akan menurunkan tim ke 17 kecamatan. Kami akan mitigasi kekeringan,” ujarnya.
Tim tersebut akan melihat secara langsung wilayah yang berpotensi mengalami persoalan air bersih, termasuk daerah yang mengandalkan Pamsimas maupun sumur dalam.
“Utamanya untuk Pamsimas atau sumur dalamnya ada yang mungkin kekurangan, kita akan ke kecamatan, ke wilayah-wilayah yang kemungkinan mitigasinya dipetakan,” katanya.
Menurut Sugiharjo, pemetaan itu sekaligus menjadi langkah antisipasi apabila musim kemarau masih berlangsung cukup lama. BPBD Karanganyar memperkirakan masyarakat masih harus menghadapi kondisi kemarau selama lebih dari satu bulan ke depan. Hal tersebut mengacu pada informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait perkiraan awal musim hujan di Karanganyar.
Berdasarkan informasi tersebut, hujan di Kabupaten Karanganyar diperkirakan mulai masuk November mendatang. Karena itu, BPBD menggunakan waktu yang ada untuk melakukan mitigasi sekaligus menyiapkan langkah penanganan jika terjadi kekurangan air bersih.
“Kalau kekeringan kita akan backup. Kami akan hadir di sana bersamaan dengan nanti kita mitigasi untuk menjelang musim penghujan sekalian,” kata Sugiharjo.
Mitigasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan distribusi air menggunakan tangki. BPBD juga akan melihat kesiapan sumber air yang selama ini digunakan masyarakat. Hal itu meliputi kondisi sumur dalam, jaringan Pamsimas, pompa air, hingga sumber air alternatif yang bisa digunakan apabila sumber utama mengalami gangguan.
Jika dibandingkan dengan kondisi tahun-tahun sebelumnya, Sugiharjo menilai kemarau tahun ini sebenarnya memiliki potensi berlangsung lebih panjang. Namun, dampaknya terhadap kebutuhan air bersih masyarakat relatif lebih terkendali.
Salah satu faktor yang membantu adalah pembangunan sejumlah tampungan air oleh Pemerintah Kabupaten Karanganyar dalam beberapa tahun terakhir.
Pembangunan tampungan air tersebut dilakukan di sejumlah wilayah yang sebelumnya kerap mengalami kekeringan. Infrastruktur itu kini dapat dimanfaatkan masyarakat ketika sumber air mulai berkurang pada musim kemarau.
“Untuk kemarau lebih panjang ini sebenarnya, tetapi karena beberapa tahun ini Pemerintah Kabupaten Karanganyar banyak membangun tampungan air di daerah-daerah yang terdampak kekeringan dulu, itu akan membantu sekali,” jelas Sugiharjo.
Selain tampungan air, pembangunan sumur untuk kebutuhan pertanian juga ikut memberikan manfaat bagi masyarakat. Sumur-sumur tersebut, menurut dia, tidak hanya mendukung kebutuhan pertanian, tetapi dalam kondisi tertentu dapat membantu pemenuhan kebutuhan air masyarakat.
“Alhamdulillah dengan dibangunnya secara masif di tahun-tahun sebelumnya itu, untuk kemarau yang cukup panjang tahun ini, untuk air bersih bisa dipenuhi untuk warga,” katanya.
Dengan masih adanya potensi kemarau hingga November, BPBD Karanganyar memastikan kesiapsiagaan tetap dilakukan. Masyarakat yang mengalami kekurangan air bersih dapat mengajukan permohonan droping kepada BPBD untuk mendapatkan penanganan sesuai kondisi di lapangan.
Sumur Bor di Jumapolo Dukung Ketersediaan Air Bersih
Sementara itu, upaya memperkuat ketersediaan air bersih juga dilakukan melalui kolaborasi antarlembaga. Salah satunya melalui pembangunan sumur bor dan instalasi air bersih di Dusun Pencil RT 02/RW 08, Desa Jumapolo, Kecamatan Jumapolo.
Fasilitas tersebut dibangun melalui Program Bakti TNI AD oleh Kodim 0727/Karanganyar bersama Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Karanganyar. Fasilitas tersebut diresmikan pada Kamis (3/9/2026) dan dinyatakan dapat digunakan masyarakat.
Komandan Kodim 0727/Karanganyar Letkol Kav Dhanang Prasetyo K. secara resmi menyerahkan sekaligus meresmikan fasilitas sumur bor dan instalasi air bersih tersebut.
Dhanang mengatakan pembangunan fasilitas air bersih merupakan bentuk kepedulian TNI AD bersama BAZNAS dalam membantu masyarakat menghadapi persoalan ketersediaan air, khususnya ketika memasuki musim kemarau.
“Pembangunan sumur bor di Dusun Pencil ini merupakan wujud hadirnya TNI dan BAZNAS di tengah kesulitan masyarakat. Kami ingin memastikan masyarakat Desa Jumapolo memiliki akses air bersih yang memadai untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Dhanang.
Dia mengapresiasi dukungan BAZNAS Karanganyar, aparatur desa, dan masyarakat yang ikut bergotong royong dalam pembangunan fasilitas tersebut.
Menurut dia, penyediaan air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus mendapatkan perhatian. Infrastruktur yang telah dibangun diharapkan mampu memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Dhanang juga meminta warga Dusun Pencil menjaga dan merawat fasilitas tersebut secara bersama-sama. Perawatan diperlukan agar sumur bor dan instalasi air dapat digunakan dalam waktu lama.
“Semoga fasilitas ini memberikan manfaat jangka panjang, meningkatkan derajat kesehatan, serta membawa berkah bagi kesejahteraan masyarakat Desa Jumapolo,” katanya.
Fasilitas tersebut kini telah dapat digunakan oleh puluhan kepala keluarga di Dusun Pencil untuk menunjang kebutuhan air sehari-hari, termasuk kebutuhan sanitasi dan konsumsi.
Keberadaan sumur bor tersebut sekaligus menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap upaya pemerintah dalam menjaga ketersediaan air bersih di tengah potensi kemarau panjang.

Leave a Reply