Nusatime.com, SEMARANG — Puluhan rumah di lereng Gunung Merbabu atau persisnya di Desa Manggihan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, selama tiga tahun terakhir tak lagi bergantung pada gas elpiji untuk memenuhi kebutuhan memasak sehari-hari.
Mereka meninggalkan gas konvensional setelah memiliki sumber energi alternatif berupa biogas yang berasal dari limbah kotoran sapi. Energi ramah lingkungan ini tak hanya memangkas pengeluaran rumah tangga, tetapi juga membuat warga Manggihan tidak pernah merasa khawatir saat terjadi kelangkaan gas bersubsidi tersebut.
Salah seorang warga, Sri Utami, 37, mengaku sudah lupa berapa harga gas elpiji di warung. Kompor di dapurnya setiap hari memperoleh pasokan energi dari biogas yang dialirkan melalui pipa dari sebuah digester di dekat kandang sapi miliknya.
“Kotoran sapi [biogas] bisa untuk masak bikin hemat. Enggak perlu mengeluarkan uang beli gas elpiji. Pakai biogas sudah cukup bisa masak untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Sri saat ditemui Espos belum lama ini.
Warga yang tinggal di Dusun Sengon RT 03/RW 02 ini menjelaskan api dari biogas menyala stabil sepanjang hari selama bahan bakunya rutin diisi. Perawatannya juga tergolong mudah, cukup menjaga kebersihan bahan yang masuk ke dalam digester agar tidak tercampur zat kimia.
“Apinya besar, menyala terus, nggak pernah mati dan selama ini juga nggak pernah ada masalah. Yang penting tempat pengisian kotoran sapinya tidak tercampur apa pun [biogas] lancar,” ungkapnya.
Sri memiliki delapan ekor sapi ternak di kandangnya. Untuk mengoperasikan digester berkapasitas enam meter kubik, ia hanya membutuhkan sekitar 60 kilogram kotoran sapi setiap harinya untuk biogas tersebut.

Pegiat lingkungan Desa Manggihan, Paimin, 49, memaparkan seluruh jenis kotoran ternak sebenarnya bisa diolah menjadi biogas. Namun di Desa Manggihan memanfaatkan limbah kotoran sapi lantaran mayoritas warganya merupakan peternak sapi perah.
“Sebenarnya semua kotoran hewan seperti sapi, kambing, ayam itu bisa dimasukkan ke digester,” imbuh Paimin.
Saat ini terdapat 67 instalasi biogas berbahan kotoran ternak di Desa Manggihan. Menurut Paimin, pengalaman menunjukkan sistem satu digester untuk satu rumah lebih efektif dibandingkan sistem komunal yang rawan menimbulkan persoalan, baik karena ketidakteraturan pengisian maupun masuknya rumput atau kotoran lain yang menyumbat saluran.
Disebutkan Paimin, digester berkapasitas enam meter kubik membutuhkan sekitar 60 kilogram kotoran sapi setiap hari. Sementara kapasitas delapan meter kubik memerlukan sekitar 80 kilogram. Pengisian juga tidak boleh berlebihan karena kotoran yang belum terfermentasi sempurna justru terdorong keluar sehingga proses produksi gas menjadi tidak maksimal.
“Selama pengisiannya [kotoran sapi] sesuai standar sebenarnya tidak ada kendala. Pernah ada warga lupa cuci tangan setelah pakai sabun, lalu air sabunnya masuk ke digester. Gasnya langsung mati karena biogas tidak boleh terkena bahan kimia seperti sabun,” jelasnya.
Pengembangan biogas di Desa Manggihan selama ini berkat bantuan hibah pembangunan digester dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah. Dalam program tersebut, warga hanya perlu menyediakan lahan dan tenaga kerja saat proses pembangunan instalasi.
Kepala Desa Manggihan, Supriyadi, mengatakan pemanfaatan biogas menjadi salah satu cara untuk mengurangi limbah peternakan yang selama ini kerap dituding menjadi penyumbang sedimentasi dan kesuburan eceng gondok di Danau Rawa Pening.
“Desa kami sering dituding daerah bawah penyebab sedimentasi dan kesuburan eceng gondok. Karena Desa [Manggihan] ini kan berada di hulu Rawa Pening. Padahal kami terus berupaya mengatasi limbah kotoran sapi. Sekarang ada 67 biogas kotoran hewan dan 20 biogas sayur,” ungkap Supriyadi.
Menurut Supriyadi, sekitar 20 persen warga Desa Manggihan telah menikmati manfaat biogas. Sejak memiliki sumber energi alternatif tersebut, mereka telah meninggalkan sepenuhnya gas elpiji untuk kebutuhan masak sehari-hari.
Program biogas di Desa Manggihan mulai dirintis sejak 2018 dan berkembang pesat pada 2022. Dari pemukiman lereng Merbabu, warga membuktikan bahwa limbah ternak yang dulu dianggap masalah mampu menjadi sumber energi mandiri yang menghemat pengeluaran keluarga sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
“Kami juga terus melakukan inovasi mengurangi limbah rumah tangga seperti sayuran. Terutama ketika masa panen raya dan harganya anjlok. Daripada dibuang, menimbulkan bau dan pencemaran lainnya, limbah sayur itu kami olah menjadi biogas,” tandasnya.

Leave a Reply