Lapangan Bola Desa Karang Karanganyar Tarik Penyewa dari Jakarta hingga Surabaya

Lapangan Bola Desa Karang Karanganyar Tarik Penyewa dari Jakarta hingga Surabaya
Lapangan sepakbola di Desa Karang fully booked hingga Agustus mendatang. Foto diambil Selasa (24/3/2026). (Daerah/Indah Septiyaning Wardani)

Nusatime.com, KARANGANYAR — Desa Karang, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, memiliki lapangan sepak bola berstandar internasional yang dibangun melalui unit usaha Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Lapangan tersebut mengusung konsep sport tourism, yang menggabungkan aktivitas olahraga dengan pengalaman wisata desa.

Sejak dibuka pada Februari 2026, lapangan itu langsung menjadi magnet bagi penyewa dari berbagai kota di Pulau Jawa. Kepala Desa Karang, Dwi Purwoto, mengatakan antusiasme masyarakat bahkan melebihi ekspektasi pemerintah desa.

“Alhamdulillah, sejak dibuka Februari lalu responsnya sangat baik. Sampai Agustus sudah full booked, bahkan jadwal untuk September hingga Desember juga mulai banyak yang pesan,” ujarnya saat diwawancarai Espos, Selasa (24/3/2026).

Menurut dia, penyewa tidak hanya berasal dari wilayah Karanganyar dan sekitarnya, tetapi juga dari berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Semarang. Sebagian besar merupakan komunitas sepak bola, kelompok penggemar olahraga, hingga tim perusahaan yang ingin merasakan bermain di lapangan dengan kualitas profesional di kawasan pedesaan.

Lapangan sepak bola BUMDes Karang disewakan dengan tarif Rp5 juta untuk durasi dua jam. Harga tersebut sudah termasuk sejumlah fasilitas pendukung seperti ball boy, layanan komentator, dokumentasi, serta air mineral untuk para pemain.

Selain bermain sepak bola, penyewa juga ditawarkan paket wisata desa. Setelah berolahraga, pengunjung dapat menikmati destinasi lokal seperti Watu Gambir, berkemah dengan konsep camping, menyantap kuliner desa, hingga memanfaatkan fasilitas tambahan seperti kolam renang.

“Dengan konsep ini, pengunjung tidak hanya datang untuk olahraga, tetapi juga mendapatkan pengalaman wisata yang lengkap,” kata Dwi.

Ia menjelaskan pembangunan lapangan tersebut melibatkan PT Lestari Indo yang berpengalaman dalam pembangunan fasilitas olahraga. Lapangan dirancang dengan sistem drainase yang baik, menggunakan rumput berkualitas tinggi, serta memiliki ukuran sesuai standar FIFA.

“Dari awal memang niat kami bukan sekadar membuat lapangan biasa, tetapi lapangan yang benar-benar profesional,” ujarnya.

Meski demikian, pengelolaan lapangan membutuhkan biaya operasional yang cukup besar. Setiap bulan BUMDes mengeluarkan sekitar Rp25 juta untuk perawatan lapangan, termasuk pupuk, cat garis lapangan, tenaga kerja, serta perawatan alat dan mesin.

Saat ini lapangan juga belum dilengkapi penerangan sehingga hanya bisa digunakan pada siang hingga sore hari. Pemerintah desa sedang menyiapkan skema pendanaan untuk pemasangan lampu agar lapangan dapat digunakan pada malam hari.

Keberadaan lapangan tersebut dinilai memberi dampak ekonomi bagi desa. Kontribusi unit usaha lapangan sepak bola terhadap pendapatan BUMDes meningkat dari sekitar Rp200 juta menjadi Rp250 juta per tahun.

Selain itu, aktivitas sport tourism juga membuka peluang usaha bagi warga sekitar, mulai dari kuliner, penginapan, hingga jasa wisata.

Dengan potensi yang terus berkembang, Desa Karang optimistis konsep sport tourism berbasis desa ini mampu menarik lebih banyak pengunjung sekaligus memperkuat perekonomian lokal di kawasan Karangpandan.
 

Leave a Reply