Nusatime.com, KARANGANYAR — Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah mulai memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha di Kabupaten Karanganyar. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Karanganyar menilai pelemahan rupiah yang berkepanjangan berpotensi meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) sekaligus menambah tekanan terhadap sektor industri.
Ketua Apindo Karanganyar, Edi Darmawan, mengatakan dampak paling langsung dari menguatnya dolar adalah meningkatnya biaya produksi akibat kenaikan harga bahan baku, bahan pembantu, dan suku cadang impor. Kondisi tersebut membuat dunia usaha menghadapi beban yang semakin berat di tengah tantangan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Menurut dia, sebagian besar sektor industri di Karanganyar masih bergantung pada bahan baku dari luar negeri. Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan produksi otomatis ikut meningkat.
“Yang jelas dampak secara langsung itu terkait bahan baku dan spare part. Banyak perusahaan masih mengimpor suku cadang untuk kebutuhan produksi. Selain itu bahan baku seperti plastik, rayon, dan berbagai material lainnya juga masih berasal dari luar negeri. Ketika dolar naik, biaya yang harus dikeluarkan perusahaan juga ikut naik,” ujarnya saat dihubungi Espos, Minggu (7/6/2026).
Edi menjelaskan dampak penguatan dolar tidak dirasakan sama oleh seluruh perusahaan. Perusahaan yang berorientasi ekspor masih memiliki keuntungan karena memperoleh pemasukan dalam mata uang dolar sehingga dapat membantu menutupi kenaikan biaya produksi. Namun kondisi berbeda dialami perusahaan yang hanya mengandalkan pasar domestik.
“Kalau perusahaan ekspor masih ada pemasukan dolar sehingga bisa sedikit membantu. Tapi bagi perusahaan yang tidak ekspor, kenaikan dolar menjadi beban tambahan karena harga pokok produksinya naik,” katanya.
Industri Plastik Paling Terdampak
Edi menilai industri plastik menjadi salah satu sektor yang paling terdampak oleh penguatan dolar. Meski Indonesia memiliki produsen bahan baku dalam negeri, kapasitas produksinya dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan industri nasional sehingga impor masih menjadi pilihan utama.
Akibatnya, setiap kenaikan nilai tukar dolar langsung berpengaruh terhadap harga bahan baku plastik. Dampak lanjutan kemudian dirasakan pada kenaikan harga produk jadi, termasuk kemasan yang digunakan berbagai sektor industri.
“Industri plastik cukup terdampak karena bahan bakunya masih banyak yang impor. Ketika harga bahan baku naik, harga produk plastik dan kemasan juga ikut naik,” jelasnya.
Meski demikian, Edi menegaskan hingga saat ini belum ada laporan PHK yang secara langsung dipicu oleh penguatan dolar di Karanganyar. Menurut dia, sebagian besar perusahaan masih berupaya bertahan melalui berbagai strategi efisiensi agar operasional tetap berjalan.
Perusahaan masih mencoba menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada, mulai dari menekan biaya operasional, meningkatkan efisiensi produksi, hingga mengatur kapasitas produksi agar tetap seimbang dengan permintaan pasar.
“Kalau secara langsung karena dolar naik lalu langsung terjadi PHK, saya belum mendengar ada. Perusahaan saat ini masih berusaha bertahan dengan berbagai strategi masing-masing supaya kegiatan usaha tetap berjalan,” ujarnya.
Namun, Edi mengingatkan penguatan dolar berpotensi memperparah kondisi dunia usaha yang sebelumnya sudah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perlambatan permintaan pasar, kenaikan biaya produksi, hingga efisiensi tenaga kerja yang berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.
Gelombang pengurangan tenaga kerja, pemutusan kontrak, hingga pekerja yang dirumahkan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir dikhawatirkan semakin meluas apabila tekanan terhadap dunia usaha terus bertambah.
“Yang terjadi sekarang ini sebenarnya lebih kepada memperparah situasi yang sudah ada sebelumnya. Dunia usaha sedang menghadapi banyak tantangan, dan kenaikan dolar menambah beban baru,” katanya.
Ia khawatir apabila nilai tukar rupiah terus melemah dalam jangka panjang tanpa perbaikan yang signifikan, kemampuan perusahaan untuk bertahan akan semakin terbatas. Dalam kondisi tersebut, langkah efisiensi yang lebih ekstrem, termasuk pengurangan tenaga kerja, bisa menjadi pilihan yang sulit dihindari.
“Kalau rupiah semakin terpuruk dan biaya produksi terus naik, tidak menutup kemungkinan jurang PHK akan semakin lebar. Ini yang menjadi kekhawatiran pelaku usaha saat ini,” kata Edi.
Karena itu, Apindo Karanganyar berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Berbagai kebijakan yang telah disiapkan pemerintah diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan pasar, memperkuat arus devisa, dan menahan laju penguatan dolar terhadap rupiah.
“Kami berharap upaya-upaya yang sudah dilakukan pemerintah dapat memberikan hasil sehingga kurs dolar kembali turun dan rupiah menguat. Dengan begitu tekanan terhadap dunia usaha bisa berkurang dan risiko PHK dapat ditekan,” tuturnya.

Leave a Reply