KUDUS – Limbah bonggol jagung yang selama ini kerap dipandang sebagai sampah mulai dimanfaatkan sebagai media budidaya jamur janggel. Bonggol jagung tersebut diperoleh dari sentra kuliner jagung bakar di kawasan Taman Krida, Wergu Wetan, Kabupaten Kudus.
Limbah yang dihasilkan dalam jumlah cukup banyak tersebut selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Melihat potensi tersebut, bonggol jagung kemudian dikumpulkan dan diolah agar dapat digunakan kembali sebagai media tumbuh jamur. Setelah melalui proses budidaya dan perawatan, jamur janggel yang dihasilkan kemudian memasuki masa panen dan mulai dipasarkan kepada masyarakat.
Proses pemasaran dilakukan melalui dua cara, yakni secara langsung (offline) dan daring (online). Pemasaran secara langsung dilakukan dengan menawarkan hasil panen kepada masyarakat di sekitar lokasi kegiatan. Sementara itu, pemasaran secara online dilakukan menggunakan fitur status WhatsApp untuk menyampaikan informasi mengenai stok ketersediaan jamur.
Selain dijual dalam kondisi segar, jamur janggel juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan. Hasil panen dapat diolah menjadi makanan seperti jamur crispy, tumis jamur, nugget jamur, atau olahan lainnya. Pengolahan tersebut juga dapat menjadi salah satu cara untuk memanfaatkan hasil panen ketika jumlah jamur yang tersedia cukup banyak.
Pemanfaatan bonggol jagung sebagai media budidaya jamur janggel tidak hanya menghasilkan produk pangan, tetapi juga memberikan nilai tambah pada limbah yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal. Upaya ini sejalan dengan konsep zero waste dan green circular economy, dengan mengolah kembali limbah menjadi produk yang bernilai ekonomi.
Pengembangan budidaya jamur janggel diharapkan dapat terus dilakukan dengan memperluas produksi, pemasaran, serta pengolahan hasil panen. Pemanfaatan bonggol jagung sebagai media budidaya jamur tidak hanya menjadi solusi untuk mengurangi limbah, tetapi juga dapat menghasilkan produk yang bernilai dan bermanfaat bagi masyarakat.

Leave a Reply