Mengenal 5 Finalis Green Impact Project 2026 dan Isu Lingkungan yang Mereka Bawa

Mengenal 5 Finalis Green Impact Project 2026 dan Isu Lingkungan yang Mereka Bawa
Green Impact Project 2026 tidak hanya mempertemukan lima ide, tetapi juga mempertemukan lima kelompok anak muda dengan cara pandang mereka masing-masing terhadap persoalan lingkungan.

Nusatime.com, SOLO — Ada yang berangkat dari persoalan limbah tekstil, ada yang melihat bonggol jagung sebagai sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan. Ada pula yang memilih minyak jelantah dan limbah organik sebagai pintu masuk untuk mencari solusi lingkungan.

Mereka adalah lima kelompok mahasiswa yang berhasil melaju sebagai finalis Green Impact Project 2026. Berasal dari kampus dan latar belakang yang berbeda, masing-masing membawa persoalan lingkungan yang mereka temukan di sekitar untuk kemudian dirumuskan menjadi sebuah gagasan.

Kelima kelompok tersebut yakni Eco Lin Craft, Eco Vibes, W2W Team, Climate Warriors, dan Eco Juris.

Sebelum melihat proyek yang akan mereka pertanggungjawabkan di panggung final, ada baiknya mengenal lebih dekat siapa saja anak muda di balik lima nama tersebut.

Eco Lin Craft: Lima Mahasiswa yang Membawa Isu Limbah Tekstil

Eco Lin Craft beranggotakan Elvina Prita Rahmawati, Bening Salsabila Balqis, dan Afiqoh Izazi dari Universitas Sebelas Maret (UNS), serta Elizabeth Zaneta dan Gabriela dari Sekolah Tinggi Multimedia Training Center Yogyakarta.

Lima mahasiswa dari dua perguruan tinggi tersebut bertemu melalui satu perhatian yang sama terhadap persoalan limbah tekstil.

Bagi mereka, pakaian atau material tekstil yang sudah tidak digunakan tidak selalu harus berakhir sebagai sampah. Masih ada material yang dapat diolah kembali dan diberi fungsi baru.

Dari persoalan itulah Eco Lin Craft membawa gagasan pengolahan limbah tekstil menjadi produk kreatif yang sekaligus memiliki potensi nilai ekonomi.

Eco Vibes: Dari Limbah Bonggol Jagung Menjadi Media Budidaya

Cerita berbeda datang dari empat mahasiswa Universitas Muria Kudus yang tergabung dalam Eco Vibes.

Mereka adalah Shabrina Dzaky Afnita, Mutia Salma Danish Kaniza, Novalia Fitri Felisa, dan Nitisa Titah Sekar Mustika.

Isu yang mereka pilih tumbuh dari lingkungan pertanian, tepatnya limbah bonggol jagung.

Bonggol jagung menjadi bagian yang kerap tersisa setelah hasil utama pertanian dimanfaatkan. Eco Vibes kemudian melihat ada potensi lain dari bagian tanaman tersebut.

Mereka mengembangkan gagasan pemanfaatan bonggol jagung sebagai media budidaya jamur. Dari sana, persoalan limbah pertanian dipertemukan dengan konsep zero waste dan ekonomi sirkular.

W2W Team: Dari Undip, Mencari “Worth” di Balik Waste

Nama W2W Team berasal dari gagasan Waste2Worth. Tim ini beranggotakan Ralextia Aries Rona Jingga, Marco Steven Nugroho, Siti Ashri Azahra, dan Danendra Daryl Abhinaya, mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip).

Mereka melihat persoalan limbah organik dari lingkungan Desa Jetis, Bandungan.

Wilayah tersebut memiliki aktivitas pertanian, perdagangan hortikultura, bunga, dan pariwisata. Aktivitas tersebut sekaligus menghadirkan sumber bahan organik yang menurut W2W Team masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan.

Salah satu pendekatan yang mereka bawa adalah budidaya Black Soldier Fly (BSF) atau maggot.

Bagi W2W Team, gagasan itu bukan sekadar soal memelihara maggot. Mereka ingin memperkenalkan cara melihat bahan organik sebagai sumber daya melalui alur:

Sampah organik → BSF → Maggot & kasgot → Pemanfaatan.

Nama Waste2Worth pun menjadi relevan. Mereka mencoba mencari worth atau nilai dari sesuatu yang selama ini lebih sering disebut waste.

Climate Warriors: Mengangkat Persoalan Minyak Jelantah

Persoalan yang dibawa Climate Warriors terasa dekat dengan aktivitas rumah tangga, yakni minyak jelantah.

Tim dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini beranggotakan Nova, Rafi Rahmad Fratama, Resi Akbar Permana, Oeriza Sandey Hardika, Ariby Aulia Fitri, dan Tafdhila Adzkia Rahma.

Mereka membawa gagasan Eco Cupir, yakni mengolah minyak jelantah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

Minyak jelantah dipilih karena merupakan limbah yang dekat dengan aktivitas rumah tangga dan usaha kuliner. Ketika tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut berpotensi menjadi persoalan lingkungan.

Climate Warriors kemudian mencoba melihat minyak jelantah dari sisi lain: bagaimana limbah tersebut dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang memiliki nilai.

Eco Juris: Membangun Rantai Manfaat dari Limbah Organik

Nama terakhir adalah Eco Juris, kelompok yang seluruh anggotanya berasal dari Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret.

Mereka terdiri atas Dizma Kharim A., Raka Mahendra, Chrisna Anugerah, Nabilla Dinda K., dan Azozah Quratul Aini.

Eco Juris membawa isu pengelolaan limbah organik dengan pendekatan budidaya maggot dan lele.

Pendekatan tersebut mencoba membangun hubungan antara pengelolaan limbah dengan pemanfaatan hasilnya. Limbah organik menjadi titik awal yang kemudian diarahkan ke budidaya maggot hingga menghasilkan manfaat lanjutan melalui budidaya lele.

Lima Tim, Lima Cerita

Kelima tim tersebut memperlihatkan bagaimana satu persoalan besar bernama lingkungan dapat dilihat dari banyak pintu. Mereka juga datang dari latar yang berbeda. 

Perbedaan itulah yang membuat perjalanan lima finalis ini menarik untuk diikuti. Sebab, Green Impact Project 2026 tidak hanya mempertemukan lima ide, tetapi juga mempertemukan lima kelompok anak muda dengan cara pandang mereka masing-masing terhadap persoalan lingkungan.

Setelah melewati proses seleksi dan implementasi, kelima tim kini bersiap membawa cerita mereka ke Green Impact Showcase pada Sabtu (22/8/2026). Di sana, mereka akan menunjukkan apa yang telah dilakukan, apa yang dihasilkan, dan seberapa jauh gagasan mereka mampu memberikan dampak.

Saksikan langsung Grand Final Presentation dan lihat bagaimana lima tim mempertanggungjawabkan project mereka di hadapan dewan juri.

Daftar dan amankan tempatmu melalui tautan berikut: https://forms.gle/DtLbNVururqdkTAYA

Leave a Reply