Nusatime.com, SRAGEN — Para aktivis budaya dan sejarah dari Yayasan Pastika Kabupaten Sragen bersama warga Dukuh Banyuning, Desa Singopadu, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, melakukan penanaman pohon keras untuk konservasi air di Sendang Banyuning, Minggu (4/10/2026). Penanaman pohon tersebut didukung legislator DPRD Kabupaten Sragen Fathurrohman dan Pemerintah Desa (Pemdes) Singopadu.
Penanaman pohon tersebut menjadi bagian dari Program Resik-resik Punden yang digelar Yayasan Pastika Kabupaten Sragen secara rutin sebulan sekali. Program Resik-resik Punden diadakan dengan menggandeng Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sebagai penyuplai bibit pohon keras.
Rangkaian kegiatan bersih-bersih punden diawali dengan bancaan bersama warga sebagai wujud doa bersama sebelum membersihkan punden. Legislator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Fathurrohman turut serta dalam kegiatan tersebut. Setelah bancaan, warga bekerja bakti membersihkan saluran air di samping sendang. Sementara itu, anggota Pastika menanam pohon dan membersihkan pelataran sendang yang sudah dipaving.
Ada tiga jenis pohon yang ditanam untuk konservasi air, yaitu tiga batang pohon gayam, lima batang pohon mojo, dan dua batang pohon padmanaba atau tlogosari. Selain itu, mereka juga menanam bibit bunga-bunga, seperti mawar, melati, kenanga, dan kantil.
“Kami juga memasang papan nama Sendang Banyuning yang dilengkapi dengan cerita sejarah dari sesepuh dukuh setempat. Papan nama terbuat dari MMT berukuran 3 meter x 1,8 meter,” ujar Bendahara Yayasan Pastika Kabupaten Sragen, Bambang Purwanto, kepada Espos, Minggu siang.
Berdasarkan cerita sesepuh di Dukuh Banyuning, Sutrisno, 68, kisah Sendang Banyuning berawal dari masa perjuangan melawan penjajahan Belanda. Saat itu, Pangeran Mangkubumi bersama Kiai Srenggi bergerak di wilayah Sukowati. Dalam perjalanannya, mereka singgah dan berteduh di sebuah tempat yang dinaungi pohon gayam sakral yang rindang.
Di lokasi berteduh tersebut, kata dia, melalui sabda Pangeran Mangkubumi, muncul titik mata air yang melimpah.
“Airnya keluar dengan jernih. Kalau dalam bahasa Jawa disebut bening. Jadi airnya jernih itu bahasa Jawanya banyune bening. Dari sebutan tersebut kemudian lokasi sekitar sendang disebut Dukuh Banyuning karena ada sumber air, banyune bening,” ujar dia.
Nguri-uri Tinggalan Leluhur
Legislator DPRD Sragen Fathurrohman mengapresiasi inisiatif Yayasan Pastika Sragen yang peduli merawat atau nguri-uri tinggalan para leluhur. Dia mengatakan para leluhur mempunyai perjalanan sejarah masa lalu di tempat-tempat bersejarah yang disebut punden, petilasan, makam kuno, sendang, dan lainnya.
Dia melihat di era digitalisasi ini ternyata masih ada komunitas yang mau melestarikan budaya masa lalu untuk pembelajaran generasi saat ini dan yang akan datang.
“Sragen banyak sekali tempat-tempat bersejarah yang harus mendapat perhatian dari Pemkab Sragen, salah satunya di Desa Singopadu yang memiliki Sendang Manten di Dukuh Banyuning. Dengan melestarikan sendang, semoga bisa membawa kemaslahatan dan keberkahan bagi kami sebagai generasi penerusnya,” jelas dia.
Caption foto: Yayasan Pastika Sragen bersama warga Dukuh Banyuning, Desa Singopadu, Kecamatan Sidoharjo, menanam pohon untuk konservasi air di Sendang Banyuning, Minggu (4/10/2026).

Leave a Reply