Tren Kartu Koleksi di Semarang Jadi Investasi, Hobi Sekaligus Cuan

Tren Kartu Koleksi di Semarang Jadi Investasi, Hobi Sekaligus Cuan
Potret Andi Zhu pelaku usaha kartu koleksi di Kota Semarang. Kamis (14/5/2026) (Daerah/Fitroh Nurikhsan)

Nusatime.com, SEMARANG — Demam trading card game (TCG) tengah melanda Kota Semarang. Kartu koleksi seperti Pokemon, One Piece, hingga kartu olahraga kini tidak lagi dipandang sekadar permainan, melainkan telah berkembang menjadi hobi prestisius sekaligus aset koleksi bernilai tinggi.

Meningkatnya tren kartu koleksi di Semarang diungkap Andi Zhu, pemilik usaha kartu koleksi di Jalan Letjen S. Parman Nomor 51, Kecamatan Gajahmungkur. Ia menyebut penjualan kartu terus meningkat sejak 2024 dan semakin ramai dalam beberapa bulan terakhir.

“Sekarang pemainnya makin banyak, orang mulai ngerti soal game TCG, koleksi sampai investasinya. Influencer juga ikut menyorot dunia kartu, jadi makin ramai,” ujar Andi kepada Espos, Kamis (14/5/2026).

Menurut Andi, komunitas kartu koleksi sebenarnya sudah lama ada di Kota Lumpia. Namun, aktivitas para kolektor sebelumnya cenderung tertutup dan hanya dikenal di lingkaran tertentu.

“Sekarang para kolektor sering spill (koleksinya) di sosial media, bikin orang lain penasaran. Kalau dulu itu mereka ngoleksinya diam-diam,” paparnya.

Permintaan yang meningkat juga mengubah pola pencarian kolektor. Jika sebelumnya kartu Pokémon versi Indonesia paling diminati, kini kolektor mulai memburu kartu Jepang dan Inggris yang dianggap memiliki nilai lebih tinggi.

Andi menjelaskan, kartu luar negeri memiliki daya tarik tersendiri karena stoknya terbatas serta kualitas produksinya dinilai lebih premium dibanding versi reguler.

“Untuk kartu Jepang dan Inggris itu rebutannya besar. Bahkan di Jepang sendiri belum keluar negaranya saja sudah habis dibeli orang sana,” imbuhnya.

Selain kelangkaan, desain visual dan detail artistik menjadi faktor penting yang membuat nilai kartu terus naik. Banyak kartu hadir dengan ilustrasi eksklusif hingga tekstur khusus yang meningkatkan daya tarik kolektor.

Andi mencontohkan saat peluncuran set terbaru Pokemon beberapa waktu lalu. Produk yang baru masuk toko ritel disebut langsung habis diborong dalam waktu singkat.

“Mall baru buka jam 9 atau 10 pagi, tapi satu jam kemudian stok sudah habis di mana-mana,” imbuhnya seraya tersenyum bangga.

Komunitas dan Nilai Investasi yang Terus Berkembang

Di tengah kondisi ekonomi yang masih fluktuatif, kartu koleksi justru dipandang sebagai alternatif penyimpanan aset. Menurut Andi, harga kartu Pokémon dapat dipantau melalui situs seperti PriceCharting sehingga memudahkan kolektor melihat pergerakan nilainya.

“Beberapa instrumen investasi lagi turun. Sedangkan pokemon ini cenderung stabil bahkan naik. Jadi ada yang mencairkan investasi lain lalu masuk ke kartu,” paparnya.

Meski demikian, ia menegaskan dunia TCG tidak semata-mata soal keuntungan finansial. Faktor komunitas dan interaksi sosial menjadi alasan utama banyak orang bertahan di dalamnya.

Dalam industri TCG, kondisi fisik kartu menjadi penentu utama harga jual. Kartu dengan kualitas terbaik biasanya melalui proses grading oleh lembaga internasional seperti PSA maupun Beckett. Hasil grading tertinggi dapat membuat harga kartu melonjak berkali-kali lipat.

Harga fantastis juga bukan hal baru. Andi menyebut pernah ada kartu One Piece Black Label bernilai Rp1,5 miliar, sementara kartu bertanda tangan legenda basket Michael Jordan disebut terjual hingga sekitar Rp2 miliar.

Untuk harga, booster pack kartu Indonesia dibanderol mulai Rp20.000. Kartu Jepang dapat mencapai Rp200.000 per pack, sedangkan kartu Inggris tertentu bahkan dijual hingga puluhan juta rupiah tergantung tingkat kelangkaannya.

“Semakin langka dan semakin tua kartunya, biasanya makin mahal. Animonya sebenarnya tinggi, cuma tokonya belum banyak dan barang Jepang atau Inggris masih susah dicari di Kota Semarang,” tandasnya.

Leave a Reply