Uniknya Desa Tawun Ngawi, Rumah Ribuan Bulus yang Dikeramatkan

Uniknya Desa Tawun Ngawi, Rumah Ribuan Bulus yang Dikeramatkan
Salah satu warga Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, saat melihat sejumlah bulus di aliran air, Minggu (17/5/2026). (Espos.id/Imam Mustajab)

Nusatime.com, NGAWI — Desa Tawun tak hanya dikenal lewat Sendang Beji yang menjadi destinasi wisata favorit masyarakat. Desa di Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur itu juga menyimpan daya tarik lain yang membuat banyak pengunjung penasaran.

Di kawasan Taman Wisata Tawun, ribuan bulus atau labi-labi air tawar hidup bebas di sepanjang aliran air desa. Hewan bercangkang lunak tersebut bukan sekadar penghuni kawasan wisata, melainkan sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat selama ratusan tahun.

Bagi warga Desa Tawun, bulus bukan hewan biasa. Keberadaannya dipercaya berkaitan erat dengan sejarah berdirinya desa sehingga dijaga dan dilestarikan secara turun-temurun. Karena itu, masyarakat sangat melarang siapapun mengambil ataupun mengonsumsi bulus yang hidup di kawasan tersebut.

Salah satu pengunjung, Martini Wahyuningsih, mengaku baru pertama kali melihat populasi bulus liar dalam jumlah besar. Menurutnya, bulus-bulus di kawasan Taman Wisata Tawun terlihat jinak dan tidak takut mendekati manusia.

Mengetahui hal itu, ia bersama dua anaknya langsung membeli pakan yang dijual warga sekitar untuk memberi makan bulus-bulus tersebut.

“Beli tiga bungkus ini, kaya ngasih makan ikan, lahap-lahap semua dan tidak takut manusia. Ternyata sepanjang aliran air banyak banget bulusnya,” ujarnya, Minggu (17/5/2026).

Bulus Tawun dan Cerita yang Dijaga Turun-Temurun

Di balik keunikannya, keberadaan bulus di Desa Tawun juga lekat dengan kisah rakyat yang terus dipercaya masyarakat hingga sekarang.

Konon, bulus-bulus tersebut memiliki kaitan spiritual dengan desa sehingga tidak boleh diambil ataupun dikonsumsi. Warga percaya, orang yang nekat menangkap bulus akan mengalami musibah.

Salah seorang warga, Muryani, mengatakan keberadaan bulus di Desa Tawun sudah ada sejak dahulu kala. Bahkan saat dirinya masih kecil, populasi bulus sudah hidup dan berkembang biak di kawasan tersebut.

Ia menuturkan, warga setempat terbiasa memberi makan bulus layaknya hewan peliharaan, mulai dari ayam tiren hingga kerupuk.

“Pernah ada yang mengambil bulus dari sini, kemudian mengalami musibah,” katanya.

Tokoh adat Desa Tawun, Patut, menjelaskan bulus dianggap sebagai hewan keramat oleh masyarakat setempat. Karena itu, warga berupaya menjaga kelestariannya agar tidak punah.

Menurutnya, bulus-bulus tersebut awalnya berasal dari sumber mata air di Desa Tawun. Seiring waktu, populasinya terus berkembang dan menyebar ke berbagai aliran air di kawasan desa.

“Oleh warga desa dilestarikan dan dipelihara agar tidak punah, sehingga anak cucu nanti masih bisa menyaksikan keberadaan bulus di desanya,” pungkasnya.

Leave a Reply